Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

MUI Dukung Dakwah di Media Sosial

Senin 23 Mar 2015 14:00 WIB

Red:

JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin mendukung pemanfaatan media sosial untuk berdakwah. Namun menurutnya, para pendakwah di media sosial perlu diberi arahan agar tidak menyimpang dari tuntunan agama. "Saya pikir dakwah menggunakan media sosial itu baik. Yang terpenting, dakwah akan efektif jika menggunakan cara yang benar," ujar Ma'ruf kepada pekan lalu (17/3).

Ma'ruf mengaku, pihaknya mengundang dai-dai yang kerap tayang di televisi dan juga yang berkomunikasi lewat media sosial. Hal ini, kata Ma'ruf, sebagai bentuk penyuluhan agar berdakwah tetap sesuai tuntunan.

Menurut Ma'ruf, pengetahuan tentang gadget dan teknologi dapat diperoleh secara individu. "MUI lebih berupaya untuk memberikan pelatihan dan penguatan materi sehingga ketika berdakwah sesuai dengan tuntunan yang benar," ujar Ma'ruf.

Anggota Departemen Dakwah PP Salimah, Ustazah Ika Abriastuti, mendorong agar kecanggihan teknologi, seperti Facebook, Twitter, Youtube untuk berdakwah.

Misalnya, ujar dia, Facebook bisa digunakan untuk mengunggah kisah para nabi. "Ini akan memberikan pembelajaran bagi para pembacanya," ujarnya, Rabu, (18/3).

Unggahan kisah nabi ini, kata dia, jauh lebih bermanfaat daripada hanya untuk mengunggah foto-foto saja. "Orang yang membaca postingan kisah nabi akan mendapatkan ilmu agama sehingga manfaatnya lebih terasa."

Ika sendiri juga sering menggunakan aplikasi di internet untuk menyebarkan video membaca Alquran. Jadi, teknologi itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk berdakwah.  Daripada teknologi digunakan untuk hal-hal yang sia-sia lebih baik untuk memberikan pengetahuan agama dan pencerahan

Pengamat media sosial, Heru Sutadi, menilai, para dai yang menggunakan medsos untuk dakwah perlu berhati-hati. Meski dinilai cukup efektif menjadi sarana dakwah, Heru mengimbau para dai untuk memperhatikan beberapa hal agar tidak terjadi masalah yang justru tidak berkaitan dengan esensi dakwah itu sendiri.

"Ustaz-ustaz ini kan follower-nya banyak dan merupakan sosok contoh. Semestinya, dalam menyampaikan sesuatu atau mungkin me-retweet berita hendaknya berhati-hati," ujar Heru kepada Republika.

Heru mencontohkan, dalam sejumlah kasus pernyataan seorang dai justru menimbulkan polemik panjang. Sifat media sosial yang menawarkan informasi terbatas, kata Heru, justru ditelan mentah-mentah sehingga menambah masalah. Heru juga mengimbau para dai untuk memastikan kebenaran sebelum menyampaikan informasi pada umat. "Ini penting karena umat atau follower-nya akan menganggapnya benar," ujarnya.

Bahkan, kata Heru, para dai juga harus bijak dalam menyikapi haters yang ada di medsos. "Ustaz semestinya memiliki kesabaran yang tinggi dan bertugas menyebarkan itu," ujar Heru.

Apabila terjadi suatu hal yang perlu ditanggapi hendaknya ditanggapi secara bijak. Apabila sudah keluar konteks dari konteks permasalahan, Heru mengimbau untuk tidak perlu menanggapinya terlalu serius.n c71 ed: m akbar wijaya

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA