Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Tak Perlu Alim untuk Peduli Agama

Kamis 04 Des 2014 17:00 WIB

Red:

Suasana temaram menemani perbincangan kami di salah satu kedai kopi di Jakarta, Selasa (2/12). Rateka Winner Lee seperti anak muda Jakarta kebanyakan. Dia akrab dengan gadget dan suka sepak bola.

Pemuda ini sempat membuat heboh jagat dunia maya dengan video unggahannya bertajuk "Spesial Kristenisasi Terselubung di Car Free Day Jakarta". Hingga kemarin, video ini sudah dilihat oleh 1.842.812 orang.

Pemilik RTK Channel tersebut mengungkap motif dan bagaimana sesungguhnya video tersebut diproduksi. Mengenakan jersey Arsenal, Rateka dengan lugas menjawab setiap pertanyaan Republika. Berikut ini kutipan wawancaranya.

Bagaimana Anda dibesarkan dalam keluarga?

Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah saya asal Palembang. Dia Cina Buddha yang menjadi mualaf. Ibu saya Sunda dan Muslim. Ayah pengusaha onderdil mobil. Saya dilahirkan di Surabaya kemudian pindah ke Tangerang karena ayah beli rumah di sana.

Apa latar belakang pendidikan Anda?

Saya sempat kuliah di jurusan film Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi, enggak selesai. Saya berhenti setelah dua tahun. Soalnya saya enggak cocok sama lingkungannya. Setelah itu, saya mulai fokus ke dunia jurnalistik dan buat usaha sendiri.

Anda sempat sekolah di SD dan SMP Kristen?

Awalnya dari kakak saya. Waktu ayah saya cari SD, dia sebenarnya ingin kakak sekolah di Al Azhar. Tapi, waktu itu bayarannya mahal sedangkan ayah saya tak punya biaya. Terus ada juga Tarakanita yang dekat dari rumah. Tarakanita mau kasih beasiswa buat kakak saya. Jadilah dia sekolah dengan biaya yang rendah. Akhirnya saya pun ikut sekolah di sana. Karena awalnya sekolah di Tarakanita, saya pun melanjutkan SMP di Strada. Cuma SMA saya pilih negeri.

Sekarang masih jadi wartawan?

Ya, saya punya media RTK Channel di Youtube. Channel saya itu fokus pada gadget karena dari dulu memang hobi saya. Kalau lihat background pekerjaan juga memang masih seputar gadget.

Pernah di media mana saja?

Macam-macam. Dari fotografer di Studio 35 Cileubut, Media Treasure, Tabloid SMS, Info Cileubut, Tabloid Pulsa, yangcanggih.com, banyaklah.

Di mana Anda bersentuhan dengan Islam?

Saya sempat ikut-ikutan rohis (rohani Islam) waktu masih di SMA, tapi cuma sebentar. Di IKJ juga saya ikutan komunitas masjid Amir Hamzah. Terus saya juga ikutan liqo-nya PKS waktu 2004. Tapi, itu motifnya politik karena saya tertarik PKS-nya, bukan agamanya. Juga PKS dulu kan terkenal partai paling bersih dari korupsi. Cuma saya berhenti karena labil. Soalnya di sana nggak bisa pacaran.

Sekarang Anda berafiliasi dengan organisasi apa?

Tidak ada. Saya ngurus RTK Channel saja. Enggak ada organisasi apa pun.

Soal video kristenisasi di Car Free Day, apakah itu dibuat terencana?

Saya buat spontan. 2 November itu saya liputan jofi (joget selfie)-nya Smartfren. Saya di bundaran HI dari Subuh. Saat saya sedang di belakang panggung, muncul sekelompok relawan mau menyumbangkan performance. Mereka ngakunya dari kelompok kebangsaan. Di panggung, mereka nyanyi sambil joget. Tapi, liriknya khas, seperti Indonesia diselamatkan, Indonesia diberkati.

Kemudian Anda langsung merekam?

Belum. Saya baru sadar setelah adanya bagi-bagi kalung dengan simbol merpati dan tulisan "iam saved". Terus bagi-bagi susu dan biskuit. Objeknya perempuan berjilbab dan anak-anak. Ada mbak-mbak kerudung lalu mengingatkan ke orang yang menerima. Itu upaya kristenisasi. Dia bukan tim kami. Saya pun bilang ke produser saya, gimana kalau kita balik lagi minggu depan. Soalnya kita harus kasih peringatan.

Dimana Anda mulai reportase?

Di Kedubes Jepang, waktu lihat banyak anak-anak main sepeda yang pakai kalung mereka. Saya geregetan lalu spontan langsung merekam dan kasih peringatan kalau ada misi tertentu di balik bagi-bagi kalung dan biskuit itu. Terus terbukti dengan adanya seorang nenek pengemis diajak percaya Yesus. Itu sudah sangat jelas.

Respons soal video ini sangat keras?

Sejak awal saya sudah bilang sama produser. Siap-siap ini bakal jadi ramai dan urusannya panjang. Tapi, saya harus siap. Di Youtube pun saya sudah share Twitter dan Facebook dan siap dengan segala konsekuensi. Di Youtube, banyak juga yang nantang berkelahi satu lawan satu, ada yang bilang mau nabrak sampai mati. Tapi, alhamdulillah semua nggak terjadi.

Ada yang bilang video ini settingan dan rekayasa?

Macam-macam komentarnya. Ada yang bilang ini video amatir yang dibuat seprofesional mungkin. Ada juga yang mempertanyakan soal kualitas Dolbi di video ini, padahal semua video saya pakai standar Dolbi. Sekarang saya balik tanya, sebagus apa sih video ini sampai dibilang settingan.

Ini bisa menimbulkan gesekan antarumat beragama?

Harusnya sih enggak yah. Karena yang saya kritik caranya. Saya enggak akan masalah kalau mereka bawa Bibel dan bilang ini upaya penginjilan. Tapi, ini kan terselubung dengan cara-cara yang tidak disadari orang.

Apakah Anda juga diajarkan kristenisasi di sekolah?

Tidak. Justru di Tarki dan Strada, kami diajarkan untuk bertenggang rasa. Murid-murid itu dilarang untuk jajan di luar waktu jam istirahat saat puasa. Alasannya demi menghormati umat Islam. Saya pun waktu shalat Jumat diminta untuk mencatat lengkap khotbah dari khatib supaya tidak sekadar ibadah.

Setelah video Anda muncul, banyak aktivitas dakwah di Car Free Day. Apa bedanya dengan kristenisasi itu?

Saya pernah bilang kalau akan ada aksi tandingan yang buka-bukaan setelah ini. Memang ada dakwah Islam di sana. Tapi, kan tidak secara terselubung. Ceweknya juga berkerudung. Dan organisasinya juga jelas-jelas bilang kalau dari Islam. Tapi, bedanya kalau kita di Islam kan diajarkan tak ada paksaan dalam beragama. Jadi, jangan takut. Enggak akan ada orang dari agama lain yang dipaksa baca syahadat.

Anda ikut serta di sana?

Tidak. Saya cuma ikut nge-share.

Pesan Anda untuk umat Islam?

Pertama, Anda tidak perlu jadi orang alim untuk bisa peduli sama agama. Meskipun Anda brengsek, kalau sudah menyangkut agama harus maju. Kedua, jangan pandang sebelah mata pengemis. Ketidakpedulian kita sama mereka ternyata dimanfaatkan. Padahal, potensi zakat kita kan besar dan kita sudah diajarkan untuk menyisihkan 2,5 persen harta kita. Terakhir, untuk mengingatkan ada bahaya itu, bisa share video saya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA