Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Monday, 24 Rajab 1442 / 08 March 2021

Bulan Suci untuk Latih Diri

Jumat 27 Jun 2014 16:18 WIB

Red:

JAKARTA – Tinggal hitungan hari, Ramadhan kembali menemui umat Islam. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, niat merupakan bekal penting menjalani Ramadhan. Yakni, menjalankan puasa dan ibadah tak sekadarnya.

"Setiap tahun, kita lakukan hal-hal yang formal saja saat berpuasa pada Ramadhan. Jadi, sekarang harus ada peningkatan," ujar Haedar, Kamis (26/6). Dengan demikian, mestinya sejak awal setiap orang berniat untuk puasa dengan lebih baik.

Langkah ini kelak dapat menghindarkan peringatan dari Nabi Muhammad, banyak orang berpuasa hanya memperoleh lapar dan dahaga. Agar puasa tahun ini lebih dan berdampak pada perilaku, seseorang harus menjadikan puasa sebagai ajang latihan atau riyadhah.

Dalam pandangan Haedar, riyadhah merupakan olah rohani yang kemudian benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan, ketika tiba waktu berbuka, tak boleh dendam, sehingga makan dan minum berlebihan.

"Belajarlah menahan diri, sehingga makan dan minum seperlunya," kata Haedar. Puasa juga harus diwujudkan dalam perilaku baik. Tak mudah marah, menjaga diri, dan berbuat ihsan. Cendekiwan Muslim Didin Hafidhuddin menegaskan hal senada.

Umat Islam, kata dia, harus pandai mengambil spirit atau ruh Ramadhan yang datang setiap tahun ini. Selama bulan suci, setiap orang biasanya akan menjalan ibadah siang dan malam. Inti Ramadhan adalah peningkatan ibadah.

Menurut Didin, ibadah bukan hanya dalam bentuk ritual, seperti shalat, tetapi juga hal yang terkait muamalah. Bekerja untuk keluarga, berdagang, dan menolong orang lain juga ibadah. "Sayangnya, kita sering tak memahami hal tersebut," katanya.

Tak banyak orang melihat itu sebagai bagian dari ibadah. Akibatnya, saat bekerja dan berniaga tak menjalankannya sesuai dengan aturan Allah. Pedagang menipu pembelinya dan mereka yang berada di kantor menyalahgunakan jabatannya.

Ramadhan sebenarnya juga mengajarkan etos kerja yang baik, berupa keuletan. Jadi, mestinya saat berpuasa seorang Muslim tetap bersemangat. "Saya berharap, Ramadhan bukan sekadar rutinitas. Segera hadirkan peningkatan," ujar Didin.

Sebaiknya, para ustaz dan dai selama Ramadhan menyebarkan kesadaran ini. Jadi, tak hanya membahas persoalan fikih. Sebaliknya, perluas pemahaman bagaimana mestinya seorang Muslim bertetangga, berkegiatan ekonomi, dan bermuamalah sesuai ajaran Islam.

Karena itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MU) Anwar Abbas meminta setiap orang bersiap diri. Apalagi, saat Ramadhan pintu ampunan terbuka sangat lebar. Ini kesempatan yang baik melatih diri menepis segala godaan dunia.  rep:c57 ed: ferry kisihandi

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA