Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Perang Kedongdong dan Ki Bagus Rangin yang Terlupakan

Selasa 02 Sep 2014 16:30 WIB

Red:

Selama ini, sejarah bangsa Indonesia mencatat perjuangan gigih Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda. Perang yang berlangsung pada 1825 – 1830 itupun, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan bangsa dalam mengusir penjajah.

Namun ternyata, di Cirebon, ada perang melawan penjajah Belanda yang telah berlangsung sebelum Perang Diponegoro. Perang itu dikenal masyarakat setempat dengan nama ‘Perang Ke dongdong’. Perang tersebut berlangsung pada 1802 – 1818, dengan tokoh pejuangnya yang bernama Ki Bagus Rangin.

Kala itu, Ki Bagus Rangin melakukan pemberontakan terhadap penjajah Belanda yang membuat sengsara rakyat di Wilayah Cirebon. Ki Bagus Rangin mengobarkan peperangan di sejumlah daerah di Wilayah Cirebon, termasuk Ciebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan. Bahkan, meluas hingga ke Sumedang dan Subang.

"Perang itu merupakan pemberontakan besar pertama di Pulau Jawa (dalam melawan penjajah Belanda), sebelum Perang Diponegoro," ujar Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, kepada Republika, Senin (1/9). Perlawanan yang dilancarkan Ki Bagus Rangin sempat membuat pasukan kompeni kewalahan. Apalagi, perjuangan Ki Bagus Rangin mendapat dukungan dari masyarakat luas.

Namun, seperti halnya Pangeran Di ponegoro, perjuangan Ki Bagus Rangin juga berakhir dengan ditangkapnya Ki Bagus Rangin oleh penjajah Belanda pada 1812. Namun, perjuangan Ki Bagus Rangin diteruskan oleh sejumlah kerabatnya hingga akhirnya berhasil dipadamkan pada 1818.

Sultan Sepuh mengatakankan, ketokohan Ki Bagus Rangin dan Perang Kedongdong itu akan ditampilkan dalam rangkaian acara ‘Haul Sunan Gunung Jat’i pada 7 8 Oktober 2014. Kegiatan itu akan dilaksanakan di Keraton Kasepuhan, bersama pula dengan seminar film Sunan Gunung Jati.

"'(Melalui film Kedongdong) masyarakat jadi tahu bahwa di Jabar ada perang yang lebih awal dari perang Di ponegoro," tutur Sultan Sepuh. Sultan Sepuh menambahkan, meski Ki Bagus Rangin menggelorakan perlawanan melawan penjajah di Wilayah Cirebon, namun hanya ada satu jalan yang mengabadikan namanya. Jalan itu adalah Jalan Ki Bagus Rangin di Kota Bandung.

Sultan Sepuh menyatakan, akan memberikan penghargaan kepada walikota Bandung dan masyarakat Bandung secara umum karena telah mengabadikan nama Ki Bagus Rangin menjadi namajalan. Penghargaan itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan nama jalan tersebut karena kemungkinan wali kota Bandung pun tidak mengetahui asal-usul nama jalan tersebut. "Supaya nama Jalan Ki Bagus Rangin tidak di ganti," tegas Sultan Sepuh.

Selain menggelar Haul Sunan Gunung Jati, Cirebon juga akan menjadi tuan rumah sejumlah agenda yang menyangkut seni budaya. Diharapkan, ke giatan-kegiatan tersebut mampu mendongkrak dunia pariwisata di Cirebon.

Sultan Sepuh menyebutkan, sejumlah agenda kegiatan itu, di antaranya ada lah Gotrasawala pada 22 25 Okto ber 2014. Dalam kegiatan itu, akan di adakan seminar tentang seni, sejarah dan budaya maupun berbagai pagelaran seni budaya di keraton-keraton yang ada di Cirebon.

Selain itu, pada awal Oktober 2014, akan ada Festival Pesisiran dengan peserta dari Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jateng dan Jatim. Acara itu merupakan hasil kerja sama dengan Kementerian Pariwisata. "Cirebon memiliki potensi yang besar dalam bidang pariwisata," ujar Sultan.

Sultan pun berharap, semua agenda kegiatan tersebut mampu lebih men dongkrak pariwisata di Cirebon. Selain itu, dapat lebih mempromosikan kekayaan seni budaya Cirebon ke dunia luar.  rep:lilis sri handayani ed: agus yulianto

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA