Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

Jumat, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 Januari 2019

AKBP Tien Abdullah, Tetap Bertugas di Tanah Suci

Jumat 26 Sep 2014 18:30 WIB

Red:

Bagi AKBP Tien Abdullah, musim haji 2013 menjadi istimewa. Di samping melaksanakan ibadah, polisi wanita (polwan) yang juga dosen di Pusat Pendidikan Lalu Lintas Polri ini tetap harus memenuhi tugasnya sebagai abdi negara sepanjang musim haji tahun lalu.

Kisah tersebut berawal ketika Tien terpilih menjadi petugas haji. Saat itu, Tien mendapat surat perintah dari Kapolri. Isinya, Tien masuk daftar 25 anggota Polri yang diberangkatkan ke Arab Saudi untuk melayani jamaah haji.

Jadilah Tien berangkat untuk yang kedua kali ke Rumah Allah. Kala itu, ada enam polwan yang diberangkatkan ke Saudi untuk menjalankan tugas tersebut, termasuk Tien. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya karena petugas haji Indonesia dari kalangan polwan pada musim haji 2012 hanya satu orang.

"Kebetulan, pada waktu itu saya ditunjuk sebagai wakil kepala Sektor di Daker (Daerah Kerja) Makkah. Tentu saja saya bersyukur bisa mengunjungi Masjidil Haram untuk kedua kalinya," ujar ibu empat anak ini kepada Republika.

Sebagai petugas haji, Tien dan rekan-rekannya yang lain harus tiba lebih dulu di Saudi, yakni sebelum kloter (kelompok terbang) pertama jamaah haji diberangkatkan.

Selama dua bulan menjalankan tugas di Makkah, Tien menemukan bermacam-macam persoalan yang harus dihadapi timnya. Mulai melayani jamaah yang tersesat, sakit, pingsan, hingga yang kesulitan dalam melakukan ibadah.

Sayangnya, kata Tien, rasio jumlah petugas yang disiapkan pemerintah ternyata masih belum sebanding dengan jamaah yang harus dilayani. "Bayangkan, polisi kita yang ditugaskan ke Saudi cuma 25 orang. Itu pun penempatannya dipecah-pecah untuk tiga daker, yaitu Jeddah, Makkah, dan Madinah. Saya berpendapat, petugas Indonesia yang ditempatkan di Masjidil Haram itu paling tidaknya seratus orang," ujarnya.

Di samping itu, alat komunikasi yang disediakan Kemenag untuk para petugas haji juga belum memadai. Sebagai dampaknya, Tien dan teman-temannya mengaku kesulitan saat melakukan koordinasi.

Persoalan lainnya, kata Tien lagi, transportasi yang disiapkan pemerintah untuk jamaah haji yang bermasalah ternyata masih minim sekali.  Ia dan timnya pernah harus merogoh kocek sendiri membayar ongkos taksi untuk mengangkut jamaah yang sakit.

"Walau bagaimanapun, kami juga memiliki tanggung jawab moral. Tidak mungkin kami menutup mata saja melihat jamaah dengan keadaan seperti itu," katanya. Tien juga merasa prihatin dengan ulah sejumlah warga Indonesia yang menjadi "joki" Hajar Aswad di Masjidil Haram. Ia pernah melihat dengan mata kepala sendiri para joki tersebut berbuat criminal, seperti mencuri, merampok, dan menipu jamaah.

"Korbannya tidak hanya jamaah Indonesia, melainkan juga jamaah dari Malaysia, Filipina, dan Timur Tengah. Bahkan, anak buah saya pun pernah ditonjok (dipukul) sama mereka. Sebagai orang Indonesia, kita tentu malu," ujarnya. Tien hanya berharap, persoalan-persoalan tersebut bisa menjadi catatan bagi Kemenang dalam penyelenggaraan haji pada masa datang.

Selain itu semua, Tien mengaku memiliki kesan tersendiri selama menjadi petugas haji. Jika dibandingkan  perjalanan haji yang pertama, haji tahun lalu dirasakan lebih menarik.

"Posisi saya saat itu tidak hanya sekadar menjalankan ibadah secara individual, tetapi juga melayani umat. Itu luar biasa sekali rasanya," kata perempuan yang sudah bertahun-tahun memperjuangkan jilbab bagi polwan ini.

rep:ahmad islamy jamil ed: a syalaby ichsan

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA