Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Menyentuh Kalbu di Masjid Agung

Ahad 07 Sep 2014 15:30 WIB

Red: operator

Ketokohan Baing Yusuf menjadikan Masjid Agung dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.

Layaknya tata kota Jawa tradisional, pemukiman di pusat kota Purwakarta menjadi ciri khas yang hingga saat ini ma sih dipertahankan posisinya.

Alun-alun yang menjadi pusat kota, dihias dengan keberadaan pendopo di sebelah selatan, masjid Agung di sebelah barat, dan rumah keluarga bupati yang berada di sisi timur. Sebuah perkampungan di belakang Masjid Agung, juga bernama Kampung Kaum, sebagaimana nama serupa da pat ditemui di beberapa daerah di Jawa lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:Raisan AL Farisi

Pengembangan Purwakarta menjadi kota yang sedemikian besar, sesungguhnya terjadi pada 1854, saat Purwakarta di bawah ke pemimpinan Bupati RT Sastra Adiningrat I (1854-1863). Beberapa bangunan lama pendopo dan Masjid Agung direnovasi menjadi bentuknya yang semipermanen dan beratap genteng. Belum lagi, tak jauh di dekat Masjid Agung kemudian didirikan bangunan penjara.

"Sebelumnya banyak bangunan pemerintahan, termasuk pendopo, Masjid Agung, dan Gedung Negara masih beratapkan ijuk dan daun-daunan," ujar sesepuh Purwakarta, Garsoebagdja.

Masjid Agung Purwakarta yang kemudian begitu menyita perhatian. Masjid Agung Purwakarta juga dikenal dengan nama lain Masjid Agung Baing Yusuf. Masjid ini merupakan peninggalan salah seorang ulama penyebar agama Islam di Purwakarta, Syekh RMH Joesoef, yang merupakan putra dari Raden Aria Djayanegara, bupati bogor pada abad ke-17.

Basis penyebaran Islam

Masjid Purwakarta menjadi basis penyebaran Islam saat kepemimpinan Baing Yusuf, yang wafat pada 1854. Saat itu, Purwakarta, yang menjadi banyak tempat transit kaum Ero pa beserta misi zendingnya, dianggap per lu mendirikan basis santri untuk me nangg ulangi dampak kristenisasi yang cukup marak pada pertengahan abad ke-19. Sebuah pesantren didirikan Baing Yusuf dengan menggunakan sebagian lahan di belakang Masjid Agung.

Kiprah Baing Yusuf dalam penyebaran Islam di Purwakarta membuat para peziarah dari berbagai penjuru banyak datang memanjatkan doa di pusaranya. Sebagai ulama, banyak kitab yang telah ia lahirkan semasa pengembaraan di Makkah dan menyebar kan nya di tanah Sunda. Kitab yang mewarnai khazanah Islam di tanah Sunda, sebut saja Kitab Tafsir Sunda dan Fiqih Sunda.

Namanya semakin harum saat diketahui bah wa Baing Yusuf merupakan guru Syekh Nawawi Al-Bantani, ulama asal Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram.

Kondisi bangunan pesantren telah ber ubah fungsinya. Dalam sebuah bangunan beratapkan limas, gedung itu kini menjadi tempat dimakamkannya sang ulama. Juru pemelihara makam, Iing Samsudin (60 ta hun), menyebut, ratusan peziarah bisa da tang setiap harinya. Biasanya, peziarah ber asal dari Bandung Raya, Sumedang, Bo gor, Cirebon hingga Banten. "Pada 1 Muharram dan Idul Fitri, peziarah meningkat lima kali lipat," ujarnya.

Iing menyebut, selain makam, setidaknya ada dua lagi sisa peninggalan sang ulama.Bekas rumah Baing Yusuf merupakan bangunan sepetak yang kini difungsikan sebagai mihrab Masjid Agung. Selain itu, Iing beserta kerabatnya yang juga imam Masjid Agung, RH Sanusi, masih menyimpan pusaka peninggalan Baing Yusuf.

Hati siapa yang tak tergetar saat pensiunan kantor Kejaksaan Negeri Purwakarta itu menunjukkan sebilah pedang panjang. Hi tam mengarat namun masih utuh tak ada sa tu pun yang cacat. Pedang itu merupakan pe ninggalan Baing Yusuf semasa berdakwah.

Pedang bermata runcing sepanjang satu se tengah meter menemani tiap khutbah Baing Yusuf kepada masyarakat di Masjid Agung.

Kata Iing, hingga 1900-an pedang itu masih digunakan bagi imam masjid tiap khutbah Jumat. Namun, demi menjaga kondisinya, pedang itu disimpan di kediaman RH Sanusi, imam Masjid Agung Purwakarta sekarang. "Tiap khutbah Jumat, pedang itu digantikan posisinya dengan sebuah tongkat kayu," kata Iing menambahkan.

Segaring Kue Simping

Menjelang sore berjalan santai di sebuah perkampungan bernama Kaum, belakang Masjid Purwakarta. Selain nuansa religi yang kental dari para pemukim setempat, ada karakter unik yang dibangun oleh para penghuninya. Kampung Kaum terkenal dengan sentranya para perajin kue kecil, kuliner simping.

Kota Cirebon terkenal dengan gapit. Pun dengan Purwakarta yang juga memiliki simping. Gapit dan simping ibarat kakak beradik. Sebab, kue ini berbahan dasar sama, yaitu tepung tapioka dan dipanggang dalam bentuknya pipih bundar. Hanya saja, kue gapit memiliki diameter lebih kecil dengan ukuran yang agak tebal. Sementara kue simping lebih lebar dan tipis.

Kue simping bumbu khasnya adalah kencur. Kata orang, renyahnya kue ini membuat orang ketagihan untuk terus mencicipinya. Saya datangi salah satu sentra pembuat simping di daerah Gang Gurame, Kaum, dengan nama usaha Simping Ma' Ani.

Simping Ma' Ani legendaris. Bagaimana tidak, usaha simping telah dilakoni pasangan H Sarjib dan Hj Ani sejak 1965. Sejak Hj Ani wafat, usaha ini kemudian diteruskan oleh Pian Sopian (38 tahun) yang merupakan keturunan dari pasangan perintis itu. "Sekarang generasi keempat,"ujar Pian di rumahnya yang disulap menjadi sentra pembuatan simping.

Pian menyebut, sebelum 1965, penganan simping sejatinya telah ada dan mewarnai aktivitas dapur masyarakat Kampung Kaum. Hanya saja, saat itu kue simping tidak diperjualbelikan.

"Hanya untuk jamuan tamu," katanya menambahkan. Barulah pada 1970 kue simping menjadi bisnis yang cukup menggiurkan.

Sehari Pian membuat ribuan keping simping. Ada satu ciri dari Simping Ma' Ani. Pian tetap mempertahankan rasa original yaitu kencur. Meski demikian, ia tidak menolak jika mendapat pesanan dengan varian rasa lainnya, semisal rasa keju, bawang, cabe, susu, coklat, dan udang. Untuk rasa original, Simping Ma'Ani dijual dengan harga Rp 6.000 per bungkus. Layak dijadikan oleh-oleh dari Purwakarta.

Nasibmu Bumi Ageung

Duduk dua pria tua, ada segelas kopi hitam yang ia minum bersama. Dua pria itu sepuh, kelahiran 1949 dan 1947. Mereka bersantai di teras rumahnya di tepian Situ Buleud, Jalan Siliwangi, Purwakarta. Pria itu bersaudara, bernama Abah Sahbarna dan Dedi Junaedi. Sejak kecil, besar, dan tua tak pernah beranjak dari kotanya.

Dua pria itulah yang menginformasi kan bahwa jangan pernah tanyakan lagi di mana keberadaan Bumi Ageung, salah satu rumah bersejarah di Purwakarta.

Dalam catatan sejarah, Bumi Ageung merupakan bangunan penting tertua tempat cikal bakal Purwakarta.Bumi Ageung merupakan rumah se derhana milik Bupati Suriawinata. Konon, saat pendopo dan Gedung Negara tengah dibangun pada 1831, bupati beserta keluarga bertempat tinggal di Bumi Ageung.

Garsoebagdja, sejarawan Purwakarta, pun menyebut bahwa sesungguhnya roda pemerintahan sempat berjalan dari pusatnya di Bumi Ageung.

"Rumahnya sudah tidak ada yang merawat, saya robohkan beberapa bulan lalu," ujar Abah Dedi, sang pemilik terakhir Bumi Ageung. Abah Dedi menempati rumah yang hancur tersebut lantaran ia dan keluarga merupakan keturunan dari Sastradiningrat, salah satu bupati Purwakarta yang pernah menjabat.

Dedi mengaku sisa-sisa puing, seperti atap rumah, tiang penyangga teras, dan beberapa keramik, telah ia jual guna menutup biaya perawatan pemakaman orang tuanya di Wanayasa. Dedi pun meng aku hasil penjualan puingnya itu tak seberapa, tak lebih dari Rp 12 juta, kepada salah satu pengusaha di Kota Bandung.

Hanya tersisa fondasi yang itupun telah rata dengan tanah. Sepetak lahan tak berbekas menjadi arena bermain untuk anak-anak. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Purwakarta Norman Nugraha mengaku belum memiliki informasi tentang nasib Bumi Ageung tersebut. Wallahualam.

Hoyong Bakakak Hayam...?

Selalu mewarnai kekayaan ku liner di Wanayasa. Adalah pe nganan bakakak hayam yang banyak berdiri sepanjang ja lan antara Purwakarta hingga Wa nayasa.

Bakakak hayam, dari namanya jelas merupakan kekayaan kuliner yang lahir dari daerah Sunda. Me rupakan masakan yang berbahan dasar ayam, dibumbui khas cita rasa Sunda yang terkenal dengan rasanya yang manis. Bakakak hayam disajikan dengan ukuran satu ekor ayam utuh, dipanggang di atas api yang membara.

Keunikan dari bakakak hayam wanayasa adalah bumbu manisnya yang menggunakan gula aren, bukan kecap ataupun gula jawa.Sebab itu, setelah diawetkan dengan gula aren, bakakak hayam mampu bertahan hingga tiga bulan didinginkan.

rep:angga indrawan ed:Nina Chairani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA