Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Selasa, 16 Ramadhan 1440 / 21 Mei 2019

Cerita Dari Tanah Mbaru Niang

Ahad 10 Agu 2014 12:00 WIB

Red: operator

Perjalanan menuju Kampung Adat Wae Rebo bertabur pemandangan laut dan darat yang memukau.

Hampir empat jam meninggalkan Pertigaan Pela di Desa Bulan, Kecamatan Ruteng, Ka bupaten Manggarai Tengah, otokol (truk bak terbuka) mem bawa saya menyusuri jalanan Desa Satar Lenda.

Dari desayang masuk dalam wilayah Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai ini, saya akan menuju Kampung Denge, dusun terakhir sebelum menuju perkampung an adat Wae Rebo.

Di sepanjang jalan desa ini, udara yang terhirup begitu segar. Di kanan kiri jalanan yang saya telusuri terlihat hamparan petak sawah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tak kalah elok, pemandangan arah belakang perjalanan. Perairan selatan Flores dengan latar depan Pulau Mules yang cukup menawan.

Pesona ini mampu membuai sayayang sejak berangkat dari Pelabanyak waswas dengan jalanan yang sempit dan berkelok di bibir jurang.

Tiba di Kampung Denge, saya disambut ramah oleh seorang pria berperawakaan tinggi. Blasius Mota, demikian ia memperkenalkan diri kepada saya. "Selamat datang di `gerbang' menuju Wae Rebo," lanjut pria berkumis ini.Tak menunggu lama, ia pun mempersilakan saya masuk ke dalam bangunan homestayWejang Asih.Sebuah rumah singgah yang dapat dimanfaatkan para tamu untuk bermalam sebelum menuju Wae Rebo.

Blasius merupakan salah satu generasi ke-18 dari masyarakat adat Wae Rebo. Guru SD ini juga menjadikan homestay-nya sebagai pusat informasi tentang Wae Rebo.Ia akan membekali setiap tamu de ngan informasi seputar Wae Rebo.

Mulai informasi tentang adat yang ma sih berlaku, kultur warganya hingga hal-hal yang ditabukan bagi para tamu.Pak Blasiusdemikian warga Denge akrab memanggiljuga mengoordinasi setiap pemandu yang akan mengantar para tamu berkunjung ke Wae Rebo.

Termasuk pemandu yang akan meng antar saya mengunjungi kampung adat peraih Award of Excellence, Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage oleh UNESCO ini.

Berangkat dari Denge

Kampung adat Wae Rebo terletak di lembah gunung Curunumbe. Saya memulai perjalanan dari Kampung Denge ditemani Macarius (39 tahun), pemandu yang juga putra asli Wae Rebo.

Ia menuturkan, dari Denge kampung adat yang berada pada ketinggian 1.200 mdpl ini berjarak 9 ki l o meter. Butuh waktu 2,5 jam untuk mencapainya. "Kalau jalannya lebih santai, bisa tiga jam perjalanan,"ujarnya.

Ada dua pos untuk sejenak melepas lelah karena jalan setapak dari Kampung Denge menuju Wae Rebo didominasi jalan yang menanjak dan terjal.

Kedua pos ini masing-masing Wae lomba dan Pocoroko. "Pos Waelom bahanya berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Kampung Denge,"kata Macarius.

Perjalanan awal menuju Wae Rebo kami lalui dengan melewati ladang warga Denge. Selama perjalanan saya banyak mencari informasi dari Macarius.

Ia pun bercerita, selain bertanam padi, warga Denge jamak mengandalkan hasil perkebunan berupa cengkih dan damar.

Sebab, di desa ini belum ada irigasi teknis yang mampu mengairi seluruh lahan persawahan yang ada di ka wasan ini secara serentak.

Air irigasi harus dibagi dan diman faatkan secara bersama-sama dengan adil, agar semua lahan petak sawah dapat ditanami walaupun peng airannya harus bergiliran.

Tanaman cengkih dan damar jamak ditemui di sepanjang perjalanan menyusuri jalan setapak untuk mencapai Waelomba.

Menantang

Disebut Pos Waelomba, karena tempat rehat ini berada di tepi Sungai Waelomba. Di pos ini terpasang beberapa ketentuan dan aturan yang harus dipatuhi para pengunjung.

Macarius mengatakan, warga Wae Rebo masih menjaga kearifan perlakuan terhadap hutan. Sebab, hutan adalah warisan yang harus dijaga."Hutan juga merupakan sumber penghidupan bagi warga Wae Rebo.Sehingga, harus terus dilestarikan demi generasi kami," katanya.

Perjalanan semakin menantang selepas Pos Waelomba. Betapa tidak, jalan setapak memasuki kawasan hutan yang rimbun dan semakin terjal.

Tak jarang jalan setapak ini melintas di bibir maupun punggung jurang yang sangat dalam. Jalur ini juga sangat licin.

Kabut yang sering menyelimuti kawasan lereng Gunung Curunumbe menjadi lembap. Kelembapan ini juga membuat permukaan tanah cenderung basah.

Kurang dari dua jam perjalanan, kami tiba di Puncak Pocoroko atau Pos II menuju Wae Rebo. Lokasinya berada di bibir jurang yang menghadap langsung ke Selat Sumba.

Sayangnya, saat kami tiba pos ini sudah berselimut kabut tebal. "Jika tak berkabut, pemandangan Selat Sumba dari sini sangat bagus," kata Macarius.

Menembus Kabut

Meski tak sempat menikmati pemandangan Selat Sumba, tak membuat saya kecewa. Karena perkampungan adat Wae Rebo tinggal menyisakan waktu sekitar setengah jam.

Jalan setapak pun mulai melandai dan bahkan cenderung menurun. Jalan setapak ini mulai menembus perkebunan kopi warga Wae Rebo.

Meski senja mulai menjemput, semburat merah butir-butir buah kopi ini masih dapat saya lihat. "Sebentar lagi kami akan memasuki panen kopi," tambah Macarius.

Kami pun masih membelah pekatnya kabut yang semakin menebal hing ga akhirnya tiba di sebuah dangau.Macarius pun bergegas menuju salah satu sudut dangau -yang disebut `rumah kasih ibu' ini dan mengambil pepak, semacam alat penghasil bunyi yang terbuat dari bambu.

Ia pun segera mengayunkan alat ini hingga menimbulkan suara seperti bunyi kentongan. Para pemandu harus membunyikan pepak sebagai penanda tamu yang datang.

"Suara ini akan terdengar hingga ke perkampungan, sehingga warga Wae Rebo tahu bakal ada tamu (pengunjung) dan segera menyiapkan kopi panas untuk menyambut," tambahnya.

Pilihan Transportasi Menuju Wae Rebo

Ingin mengunjungi Kampung Adat Wae Rebo? Jangan pernah memusingkan sarana transportasi serta angkutan yang bisa membawa ke sana.

Penerbangan langsung menuju Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, setidaknya sudah sangat membantu.

Pun demikian dengan sarana penyeberangan dari Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Provinsi NTB. Ada jadwal tetap kapal feri SapeLabuan Bajo, pulang-pergi.

Dofan (25 tahun), salah seorang kawan dari Manggarai Barat mengatakan, dari Labuan Bajo banyak angkutan umum untuk menuju Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai dengan menyusuri Jalan Raya Trans Flores.

Jarak dari Labuan Bajo-Ruteng 130 kilometer. Jika menggunakan mobil travel, bisa turun di Pertigaan Pela, sekitar 20 kilometer sebelum Ruteng, dengan ongkos Rp 80 ribu per kepala.

Jika Anda beranggaran lebih juga bisa sewa mobil pribadi, di Labuan Bajo dengan biaya Rp 1,2 juta per hari. Biaya ini belum termasuk bahan bakar dan sopir.

Menurut Dofan, dari Labuan Bajo menuju Kampung Denge paling tidak bakal menghabiskan BBM sebanyak Rp 350 ribu.

"Yang lebih ekonomis menggunakan angkutan umum minibus cukup merogoh kocek dengan membayar Rp 60 ribu per orang," ungkapnya.

Dari Pertigaan Pela, selanjutnya menyambung dengan otokol, atau angkutan umum berbasis truk bak terbuka yang diberi kabin untuk mengangkut penumpang.Untuk menuju Desa Dintor cukup membayar Rp 30 ribu per orang.

Hanya saja jadwal angkutan umum ini hanya sekali jalan, sekitar pukul 10.00 hingga 11.00 waktu setempat.Jika jam keberangkatan ini tak terkejar, masih ada alternatif ojek dengan biaya Rp 200 ribu per orang, langsung menuju Kampung Denge.

"Jika menggunakan otokol, dari Desa Dintor perjalanan bisa menyambung dengan ojek menuju kampung Denge dengan ongkos Rp 20 ribu," lanjutnya.

Perjalanan dari pertigaan Pela menuju Desa Dintor akan melintasi jalanan yang sempit (seukuran satu mobil) dan berkelak-kelok.

Sesekali, jalanan sempit yang berkelak-kelok dan aspalnya sudah tak mulus lagi ini juga akan melintasi bibir jurang yang cukup dalam serta tebing-tebing yang curam.

Naskah dan Foto: Bowo Pribadi

Editor: Nina Chairani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA