Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

Senin, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 Desember 2018

KH Fakhruddin Perintis Badan Penolong Haji Indonesia

Ahad 13 Sep 2015 20:25 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Upaya memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji bagi umat Islam di Tanah Air melewati sejarah panjang sejak sebelum kemerdekaan. Nama KH Fakhruddin tak bisa terlepas dari catatan perjalanan dunia perhajian Indonesia, terutama saat penyelenggaraannya masih berada di bawah cengkeraman Hindia Belanda.

Tokoh kelahiran Yogyakarta, 1890, ini bahkan didaulat sebagai perintis berdirinya Badan Penolong Haji Indonesia. Ia bahkan malang melintang memperjuangkan perbaikan penyelenggaraan haji kepada Kerajaan Arab Saudi, jauh sebelum kelahiran Kementerian Agama.

Persentuhan tokoh yang memiliki nama kecil Muhammad Jazuli ini dengan dunia perhajian tak terlepas dari keaktifannya di organisasi Muhammadiyah. Pada 1921 ia diutus Muhammadiyah ke Makkah untuk meneliti nasib jamaah haji Indonesia.

Ini menyusul beredarnya kabar bahwa para jamaah tersebut kerap mendapat per la kuan yang kurang baik dari pejabat-pejabat di Ma kkah. Bersama sejumlah sahabat sekembalinya dari Tanah Suci, antara lain, Haji Soedjak, ia mendirikan pembentukan Badan Penolong Haji.

Dalam menjalankan tugasnya itu, dia berkesempatan menghadap pucuk pimpinan Kerajaaan Arab Saudi, Raja Syarif Husein, untuk membicarakan perbaikan sistem perjalanan jamaah haji Indonesia. Ia juga berperan besar dalam perintisan pembentukan Persaoedaraan Djamaah Hadji Indonesia (PDHI) Algemeene Vergadering X di Yogyakarta. Upayanya ini dinilai sebagai langkah besar dalam meletakkan fondasi tata kelola peningkatan kualitas penyelenggaran haji di Indonesia.

Selain dikenal aktif di dunia perhajian, figur yang juga pernah aktif di Budi Utomo dan Sarekat Islam ini merupakan sosok pendidik andal. Ia banyak berperan dalam pembinaan generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan.

Selama berada di Muhammadiyah pula, ia dipercaya untuk mengurus bidang dakwah, taman pusaka, dan pengajaran. Kesempatan ini ia gunakan untuk membina calon-calon pemimpin dan generasi muda Muhammadiyah.

Sikap dan pendiriannya kuat. Ia beranggapan, pemahaman keagamaan yang mencerdaskan harus selaras dengan progresivitas Islam. Umat Islam harus berani menentang pembodohan dari pikiran kolot. Sekolah-sekolah agama harus diperbanyak untuk mendidik pemuda-pemuda yang kelak meneruskan syiar Islam.

Fondasi ilmu

Sejak kecil hingga hingga beranjak dewasa, Muhammad Jazuli tidak pernah mendapatkan pendidikan formal layaknya di sekolah formal. Namun, bukan berarti ia tidak memiliki pengetahuan, justru ia dikenal sebagai pribadi yang serbabisa.

Hal itu tidak terlepas dari peran didikan ayahandanya, Haji Hasyim. Dari orang tuanya itulah ia mendapatkan ilmu agama maupun ilmu praktis lain. Ia pun berguru pada para ulama terkenal lain di tanah Jawa.

Menginjak usia remaja, ia kemudian menuntut ilmu ke Makkah sekaligus melaksanakan haji. Ia belajar agama di Makkah selama kurang lebih delapan tahun sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air. Sekembalinya ke Tanah Air, ia mengganti namanya menjadi H Fakhruddin.

Setelah menimba ilmu di Makkah, KH Fakhruddin mendedikasikan waktunya untuk aktif di pergerakan. Ia terlibat dalam Sarekat Islam. Meski, keikutsertaannya dalam organisasi tersebut tak bertahan lama, hanya satu tahun. Ini menyusul kemelut di internal SI yang berujung pada terbitnya larangan rangkap keanggotaan bagi anggota SI. Berkaitan dengan peraturan tersebut, Fakhruddin memilih untuk tetap di Muhammadiyah. c38, ed: Nashih Nashrullah

Sosok Ulama yang Multitalenta

KH Fakhruddin memang seorang ulama yang terkenal multitalenta. Sisi lain dari pribadinya terungkap bahwa ia juga seorang orator dan penggerak massa.Bersama-sama dengan Suryopranoto, dia pernah menggerakkan demonstrasi buruh perkebunan tebu untuk menuntut hak, kehormatan, dan upah yang wajar. Akibat ulahnya tersebut, dia pernah ditangkap Belanda dan dituntut di pengadilan dengan kewajiban membayar denda sebesar 300 gulden.

Bersama Sutan Mansur, KH Fakhruddin melakukan tabligh dan mengembangkan Muhammadiyah di Medan dan Aceh. Ia juga pernah menggerakkan pawai umat Islam untuk memprotes kebijakan residen Yogyakarta yang terlalu menganakemaskan misi dan zending Kristen. Aksinya tersebut membuka mata umat Islam terkait jati diri mereka sebagai mayoritas dan ancaman bahaya zending Kristen.

Kiprahnya di kancah internasional jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Dia pernah menjadi utusan wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam. Ia pernah terpilih oleh Kongres al-Islam Hindia dan Komite Khilafat saat itu sebagai delegasi menghadiri Kongres Khilafat di Mesir. Meski agenda tersebut batal lantaran alasan politik, kongres tersebut ditunda.

Di tengah kesibukannya tersebut, ia juga produktif menulis. Ia mengarang sejumlah buku, seperti Pan Islamisme dan Kepentingan Pengajaran Agama. Perhatiannya di dunia media juga tercatat sejarah. Ia adalah sosok penting di balik Majalah Soeara Moehammadijah. Berkat jasanya, maja lah ini menjadi media resmi Hoofdbestuur Muhammadiyah di bawah naungan Bagian Pustaka.

Pada 28 Februari 1929 sosok alim multitalenta ini wafat pada usia yang relatif muda, 39 tahun. Ia dimakamkan di Pakuncen, Yogyakarta. Pada 26 Juni 1964 pemerintah menobatkan gelar kepadanya sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.  Oleh Amri Amrullah ed: Nashih Nashrullah

NEXT MUJADDID

KH Mansur Ismail Putra Banjar Perintis Depag se-Kalimantan

Keberadaan tokoh kelahiran Pantai Hambawang, 1905 ini tak bisa dipisahkan dari Departemen Agama (Depag) yang kini disebut dengan Kementerian Agama itu. Ia berperan penting dalam pengembangan Depag se-Kalimantan, yang ketika itu membawahi seluruh wilayah provinsi di Kalimantan sekarang (Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat).

Berbagai torehan cemerlang KH Mansur Ismail dihasilkan selama menjabat sebagai kepala kantor Departemen Agama Kalimantan. Putra asli Banjar ini berhasil memperjuangkan pem bangunan 27 sekolah Islam di Kalimantan. Satu di antara bukti keberhasilannya tersebut adalah pendirian Madrasah Tsanawiyah Negeri Pantai Hambawang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pada masa penjajahan Belanda, madrasah tersebut bernama Madrasah Persatuan Perguruan Islam (PPI).

Sejarah mencatat nama KH Mansur Ismail di Tanah Air sebagai salah satu ulama Banjar yang turut berjuang di medan tempur pada awal kemerdekaan di tanah Banjar. Pada masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemer dekaan Republik Indonesia di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, ia bergabung dengan para pejuang gerilya dan masuk ke pedalaman.

Di antara sekian jabatan yang pernah dipegang oleh alumnus al- Azhar Mesir ini, amanat yang paling berkesan baginya ialah saat dipercaya sebagai Ketua Partai Islam Indonesia di Mesir. Kiai Mansur juga dikenal aktif menulis dan menghasilkan karya tulisan. Di antara kitab dan buku yang ia hasilkan adalah buku-buku pelajaran agama Islam, seperti fikih, tauhid, dan lain-lain. Seperti apakah keteladanan dan riwayat perjuangan Kiai Mansur? Simak ulasan lengkap kisah perjuangannya pada rubrik Mujaddid edisi pekan depan.

Oleh Amri Amrullah ed: Nashih Nashrullah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA