Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

M Kasim, Bapak Cerpen Indonesia

Ahad 03 Mei 2015 19:39 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID, BIASANYA orang yang bertengkar tak dapat tidak akan melepaskan sekuat-kuatnya suaranya dan berkata berebut-rebut dengan tidak memedulikan koma titik. Dalam cerita ini, suatu pertengkaran, yang disudahi dengan perkelahian yang hebat, telah berlaku dengan berbisik saja...

Kutipan itu merupakan pembuka sebuah cerita pendek (lucu) karya Muhammad Kasim Dalimunte atau yang lebih dikenal dengan nama pena M Kasim berjudul "Bertengkar Berbisik." Penulis cerpen dan novel pada zaman Balai Pustaka ini lahir di Muara Sipongi, Sumatra Utara, 1886.

Menyebut nama M Kasim, tidak bisa tidak, harus menyebut nama Melayu tatkala membicarakan peta cerpen karena ia besar dan kemudian meninggal di tanah Melayu. Selain itu, ia juga fasih menggunakan akar tunggang bahasa Indonesia: bahasa Melayu, sebagai "bahan baku"

karya-karya sastranya, termasuk cerpen- cerpennya di kawasan induk tempat bersemai dan berseminya bahasa Melayu sebagai lingua franca yang kelak menjadi bahasa Indonesia.

M Kasim dianggap sebagai salah seorang pemula cerita pendek di Indonesia dan disebut- sebut sebagai Bapak Cerpen Indonesia. Sebab, diakui atau tidak, M Kasim telah menulis cerita pendek dari 1910 yang diterbitkan dalam bentuk buku, tiga tahun sebelum Perang Dunia II dimulai.

Sesuai dengan kekhasan yang dimiliki, cerita pendek buah pena M Kasim berisi cerita-cerita jenaka akibat dari kekentalan sastra lisan di nusantara. Keadaan pada saat itu mengilhami M Kasim untuk menulis cerita pendek jenaka untuk majalah Panji Pustaka yang kemudian diterbitkan Balai Pustaka dengan judul Teman Duduk terbit 1936 sebagai kumpulan cerita pendek yang pertama dalam sastra Indonesia.

Karyanya yang lain, novel berjudul Si Samin berhasil meraih hadiah Sayembara Buku Anak- Anak Balai Pustaka 1924. Buku ini kemudian terbit pada 1928 dengan judul Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak. Selain Si Samin, M Kasim juga menulis novel Muda Taruna (1922).

Kumpulan cerita pendeknya selain Teman Duduk adalah Bertengkar Berbisik, Bual di Kedai Kopi, dan Dja Binuang Pergi Berburu. Selain itu, ia juga menulis naskah terjemahan, seperti Niki Bahtera (karya CJ Kieviet, 1920) dan Pangeran Hindi (karya Lewis Wallace, 1931).

Cerita-cerita M Kasim dianggap sebagai titian penghubung antara dongeng bertema humor dan karya sastra yang berbentuk cerita pendek. Cerita-cerita M Kasim merupakan langkah pertama dalam sejarah penulisan cerita pendek, mengingat pada zaman itu banyak sastrawan yang menulis roman dan hanya penulis romanlah yang dianggap sebagai sastrawan.

Tidak salah kiranya apabila Ajip Rosidi mengatakan bahwa M Kasim adalah pembuka jalan dalam penulisan cerita pendek Indonesia. Selain itu, M Kasim oleh pengamat, peneliti, dan analis sastra ditempatkan sebagai salah seorang peletak dasar lahirnya kesusastraan Indonesia modern, khususnya genre cerita pendek. Selain M Kasim, ada Soeman HS dengan karyanya Kawan bergelut, HAMKA dengan karyanya Di Dalam Lembah Kehidupan, dan Saadah Aim dengan karyanya Taman Penghibur Hati.

Sebagian besar cerita pendek Angkatan Balai Pustaka muncul sesudah 1930, sebagai cermin kehidupan masyarakat dengan suka dukanya yang bersifat jenaka dan sering berupa kritik. Sebagian besar dari cerita-cerita pendek itu mula-mula dimuat dalam majalah, seperti Panji Pustaka dan Pedoman Masyarakat, kemudian banyak yang dikumpulkan menjadi buku.

Kegemaran sastrawan Indonesia menuliskan cerita pendek semakin meningkat setelah Perang Dunia II atau setelah tahun 1945. Alasannya, bentuk karya sastra yang pendek dirasa lebih menguntungkan penulis dan pembaca karena tidak membutuhkan banyak waktu untuk membuat, apalagi membacanya. Hingga akhirnya cerita pendek memiliki ketenaran melebihi roman.

Sesungguhnya, di penghujung abad ke-19 atau awal abad ke-20, jauh sebelum M Kasim dan Soeman HS menulis cerpen-cerpennya, sudah muncul sejumlah kisah-kisah yang ditulis amat pendek oleh pengarang-pengarang Cina, menyerupai sketsa dan hikayat yang dipublikasikan di koran-koran dan majalah yang terbit di Surabaya, Solo, Bandung, dan Batavia, namun tidak mendapat "pengakuan."

Di samping itu, media-media massa tersebut cenderung tidak diakui dan dianggap sebagai media massa sempalan karena tidak membawa misi penguasa dan cenderung pula menggunakan bahasa Melayu rendah. Para penulisnya, selain cenderung NN (nomen nescio) atau anonim, mereka juga sering menggunakan nama pena (samaran) daripada nama asli. Inilah beberapa ciri utama karya cerita-cerita pra-M Kasim.

Memang, jika dilihat secara struktur penulisan cerpen, pola dan gaya cerita-cerita M Kasim belumlah jelas. Tema-tema yang diangkat pun ringan-ringan, dengan gaya bahasa yang mudah dicerna, sangat realistis dalam pengungkapan, dan bernada humor. Selain bentuknya mini short stories atau yang lebih dikenal dengan "cerita-cerita telapak tangan" karena terlalu pendek, jenis sastra ini benar- benar hanya sebagai teman duduk. Meskipun demikian, keberhasilan M Kasim terutama adalah mampu menembus sensor penerbit Balai Pustaka dan kumpulan cerita-cerita lucunya itu merupakan buku kumpulan cerita pertama di antara banyaknya roman yang terbit.

Jika dipahami secara mendalam, akan terlihat bahwa karya-karya M Kasim bukanlah sekadar karya lelucon picisan semata, melainkan peristiwa-peristiwa dalam cerpennya merupakan sisi lain dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat. Ada sikap dan semangat untuk tidak ditertawakan atau menertawakan diri sendiri di dalamnya. Hal ini yang terkadang tidak disadari oleh masyarakat sehingga menganggap cerpen- cerpen M Kasim hanya sebagai anekdot belaka.

Cerpen-cerpen jenaka tersebut menjadi bukti kesadaran kebangsaan Indonesia seorang M Kasim bahwa bangsa ini adalah bangsa yang plural.

Lelucon dalam cerita-ceritanya menjadi sebuah senjata untuk menyatukan perbedaan-perbedaan di masyarakat karena dengan tertawa ia menyadarkan bahwa posisi semua rakyat Indonesia ini adalah sama: sama-sama membutuhkan kebebasan untuk mengekspresikan "kebahagiannya."

Setidaknya begitulah pesan M Kasim lewat ceritanya yang sangat jenaka dan kritis berjudul "Bertengkar Berbisik" itu. Agaknya cerpen tersebut masih sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang ini, yang terus-menerus terjadi pertengkaran politik dengan pekik, namun sejatinya hanya berbisik.

Latief S Nugraha, staf Balai Bahasa

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA