Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Masjid Essalam Rotterdam CERITA SEBUAH FUSION

Ahad 01 Feb 2015 19:57 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Sebuah masjid berdiri kokoh di wilayah Colosseumweg, Kop Van Zuid. Di sebuah daerah bekas pelabuhan di selatan Sungai Maas, Rotterdam, Belanda. Daerah yang juga dikenal bekas Taman Varkenoordse ini terkenal karena wilayah yang multietnis. Namun, kawasan ini juga dianggap sebagai tempat pionir Islam di Rotterdam yang berkembang hingga kini.

Masjid Essalam resmi dibuka pada 17 De sem ber 2010. Proses pembangunannya meng hadapi tantangan yang tidak sedikit. Ketika pembangunan di mulai pada 2003, berbagai penolakan dan konflik terjadi. Mulai dari sikap sebagian masyarakat Belanda yang anti-Islam dimotori kelompok politik ekstrem kanan Belanda pimpinan Gert Wilders hingga konflik internal umat Islam di Rotterdam. Proses pembangunan sempat terhambat lebih dari enam tahun dari yang direncanakan.

Rancang bangun Masjid Essalam ini dibuat oleh beberapa arsitek Belanda, di antaranya, Wilfried van Winden. Ia terkenal dengan inovasi arsitektur bergaya fusion, mencampur gaya arsitektur modern dan tradisional serta Timur dan Barat. Karena luas lahan yang terbatas hanya 800 meter persegi, Winden memilih mengem bangkan struktur bangunan masjid secara vertikal.

Tujuannya, agar masjid ini tetap dapat menampung jamaah yang cukup besar untuk shalat dan aktivitas Muslim lain.

Alhasil, bangunan masjid ini berdiri dengan tiga lantai dengan luas bangunan 2.500 meter persegi dan mampu menampung maksimal hingga 1.500 orang. Masjid ini memiliki kekhasan seni bangunan pada eksteriornya, mengambil unsur Masjid Nabawi dan gaya arsitektur Mamluk, dinasti Islam di Mesir pada abad ke-15. Struktur bangunan ini menunjukkan ikonik masjid pada umumnya, dengan dua buah kubah di ketinggian 25 meter dan dua menara menjulang setinggi 50 meter.

Walau demikian, masjid ini justru menjadi sangat indah karena susunan batu alam. Pemanfaatan granit dan pualam yang memiliki aksen warna abu-abu putih pada lengkungan jendela dan pintu masuk. Model eksterior ini meniru lengkungan pada Masjid Nabawi di Madinah. Sedangkan, pada desain menara yang dirancang Hendrick de Keyser meniru ornamen dan atap menara masjid di Mesir pada umumnya. Struktur bangunan yang vertikal dengan menara tinggi sukses membuat Masjid Essalam menjadi landmark tidak hanya di Rotterdam, tapi juga Belanda.

Pada desain interior bangunan, kesan yang ditampilkan lebih bernuansa modern.

Sebuah struktur tangga melingkar yang menghubungkan setiap lantai masjid menjadi ikon desain arsitektur modern masjid ini.

Lantai dasar masjid digunakan sebagai tempat wudhu dan aktivitas umum di luar shalat, seperti ruang pertemuan, toko, dapur, hingga binatu. Sedangkan, ruang shalat terletak di lantai satu hingga lantai paling atas untuk menampung jamaah perempuan.

Di lantai paling atas ini juga terdapat ruang perpustakaan, kantor pengurus masjid, dan ruang imam, serta kelas. Uniknya walaupun struktur bangunan masjid yang sangat tertutup, namun pencahayaan di dalam ruang shalat sangat baik. Ini karena sang arsitek menggunakan struktur void atau ruang-ruang kosong yang menghubungkan antar ruangan serta dapat menerima cahaya sangat baik dari kubah ke dalam ruang shalat.

Pada ruang shalat utama suasana mi ni malis ruangan menjadi tujuan utama. Sebuah mihrab yang menghadap ke Makkah dan empat buang tiang kolom menjadikan ruang sholat ini terlihat luas. Masjid ini tidak memiliki banyak dekorasi, hanya sebuah mimbar dengan lantai berlapiskan karpet dan sebagai sajadah shalat. Sang arsitek, Wilfried van Winden, mengaku sangat bangga akan hasil rancangannya. "Bangunan ini contoh rancangan yang sangat baik dari apa yang saya sebut arsitektur fusion," katanya.

Pola pikir arsitektur yang diambil, jelas Winden, adalah titik tolak penggunaan masjid sebagai tempat ibadah. Tapi, tanpa mengurangi unsur kehidup an umum umat Islam. Karena itu, beberapa struktur bangunan tambahan tetap ada tapi berada di dalam satu bangunan masjid. Ini, menurut dia, membuat umat Islam di Rotterdam merasa masjid seperti rumah.

Dan, ia secara pribadi bangga akan hasil karyanya ini yang akhirnya menjadi simbol kebanggaan umat Islam Belanda. Oleh Amri Amrullah  ed: Nina Chairani

Tantangan dari Luar dan Dalam

Dalam perjalanannya, pembangunan masjid ini tidak sepenuhnya berjalan lancar. Walaupun secara resmi perizinan telah didapatkan dari Dewan Kota Rotterdam, berbagai penolakan terus disuarakan. Khususnya, oleh berbagai kelompok ekstrem kanan Belanda yang dipimpin politikus anti-Islam Geert Wilders.

Berbagai tuduhan dan propaganda negatif pun dilancarkan terhadap umat Islam dan proses pembangunan Masjid Essalam ini. Kalangan ekstrem kanan Belanda meminta bangunan masjid ini tidak menunjukkan identitas masjid, seperti kubah dan menara yang menjulang tinggi. Kelompok ini juga khawatir hadirnya bangunan masjid menjadi pusat kegiatan Islamisasi bagi masyarakat asli di Belanda.

Hal lain yang mereka khawatirkan adalah tingginya struktur menara masjid yang di khawatirkan akan mengganggu ikon bangunan kota Rotterdam serta menimbulkan kebisingan dengan adanya suara azan. Hingga propaganda negatif lain, seperti kekhawatir ikon negara Kincir Angin berubah menjadi menara masjid karena masjid ini dinilai seba gai masjid terbesar di kawasan Eropa Barat.

Propaganda ini terbukti sukses membuat proyek pengerjaan masjid yang berawal dari sumbangan swadaya Muslim Belanda ini akhirnya terkendala pembiayaan. Hingga, akhirnya harus tertunda lebih dari enam tahun. Permasalahan pembangunan masjid tidak terhenti sampai di sini. Pada 2010 Dewan Kota Rotterdam memperingatkan Abdelrazak Boutaher selaku ketua eksekutif pelaksana pembangunan ketika itu. Bahwa, pencabutan izin akan dilakukan bila masjid tidak urung diselesaikan.

Abdelrazak mengungkapkan, rencana pembangunan masjid yang menghabiskan dana empat juta euro tersebut masih membutuhkan setidaknya 2,6 juta euro. Berkat kegigihan umat Belanda, sebuah lembaga donatur masjid di Uni Emirat Arab, Yayasan Al Maktoum siap menanggung kekurangan dana tersebut.

Penolakan kecil pun sempat muncul dari segelintir umat Islam karena hadirnya lembaga donor Timur Tengah di proyek ini. Walau, akhirnya proses pengerjaan pun dilanjutkan dan terselesaikan secara sempurna. Hingga, kini masjid ini akhirnya menjadi simbol ke banggaan umat Islam Belanda. Oleh Amri Amrullah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA