Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Mobil Listrik Kembali Diabaikan

Rabu 10 Sep 2014 13:00 WIB

Red:

JAKARTA — Asosiasi Industri Logam dan Mesin Indonesia menilai pemerintah kembali mengabaikan pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Padahal, mobil listrik dapat menjadi pilihan alternatif yang menghemat bahan bakar minyak (BBM) sekaligus lebih ramah lingkungan.

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Industri Logam dan Mesin Indonesia Dasep Ahmadi menilai pemerintah tidak lagi memperhatikan mobil listrik dalam beberapa tahun terakhir. Perhatian pemerintah terhadap mobil listrik hanya terasa sewaktu Dahlan Iskan baru menjabat Menteri BUMN.

"Gaungnya kembali meredup," ujarnya saat ditemui di pameran produk industri permesinan dan alat transportasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Selasa (9/9).

Saat ini, Dasep yang juga produsen mobil listrik telah mampu memroduksi bus listrik. Namun, bus tersebut belum banyak peminatnya. Pemerintah daerah (pemda) pun masih enggan menggunakan bus listrik.

Dengan kapasitas 20 tempat duduk, bus listrik dinilai cocok menjadi kendaraan dinas pemda. Bus listrik juga dapat menjadi kendaraan pariwisata. Penggunaan bus listrik untuk pemda dinilai Dasep akan menghemat anggaran pembelian BBM. Sebab, bus tersebut menggunakan energi listrik serta tenaga surya (solar cell).

Bus listrik sama seperti kendaraan lainnya. Bus tersebut bisa memacu kecepatan sampai 80 kilometer per jam. Saat ini, bus listrik diproduksi di daerah Bogor.

Selain bus listrik, dalam pameran yang diselenggarakan Kemenperin tersebut, dipamerkan sepeda motor listrik. Sepeda motor ini dibawa oleh Itron Indonesia.

Technical Suport Itron Indonesia Muhammad As’ad mengatakan, sepeda motor listrik diproduksi perusahaan di Bandung. Namun, Itron Indonesia hanya memroduksi stasiun pengisian bahan bakar listrik untuk sepeda motor tersebut. Untuk menghasilkan tenaga listrik sebesar lima kWh atau setara lima liter bensin, dibutuhkan waktu untuk mengisi sekitar 2,5 jam. "Saat ini, kami telah memasarkan stasiun pengisian listriknya di Bali," katanya.

Stasiun pengisian listrik, ia menambahkan, akan menjadi aset PLN. Masyarakat yang memiliki kendaraan bertenaga listrik bisa mengisi energi di tempat khusus, seperti stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Namun, mereka akan membayar pembelian listrik tersebut ke PLN.

Hingga saat ini, Itron Indonesia baru memroduksi 60 unit stasiun pengisian listrik. Ke depan, stasiun pengisian listrik terus dikembangkan, termasuk di Jakarta dengan menyasar tempat parkir berhalaman luas. Namun, rencana tersebut tergantung dari populasi mobil dan motor listrik. "Sampai sekarang mobil atau motor listrik masih kurang populer," ujar Muhammad. rep:ita nina winarsih ed: nur aini

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA