Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Diplomasi Berkuda dari Bojong Koneng

Selasa 01 Nov 2016 14:00 WIB

Red:

 

Republika/ Wihdan                  

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbincangan antara Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kemarin berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Meski begitu, Presiden tampaknya tak ingin buru-buru meninggalkan kediaman Prabowo di Padepokan Garuda Yaksa, Bojong Koneng, Bogor.

Selepas berbincang, keduanya terlebih dulu bersantap siang bersama. Menunya sederhana saja, nasi goreng. Tak lama selepas santap siang, dua rival di Pemilihan Presiden 2014 itu keluar ruangan pada 14.30 WIB.

Jokowi terlihat berkemeja batik warna hitam. Namun, tak seperti saat pertama tiba di rumah Prabowo, Presiden kini mengenakan topi lebar dan sepatu bot, layaknya koboi-koboi di Amerika Serikat. Adapun Prabowo tampak lebih santai mengenakan kemeja putih dan celana krem seperti biasanya.

Keduanya lalu menuju halaman rumput, tempat kuda-kuda ramping nan gagah milik Ketua Pembina Partai Gerindra tersebut berada. Prabowo yang pertama kali naik ke atas punggung kuda berwarna coklat tanpa canggung. Kuda yang berpostur tinggi tersebut memiliki nama Principe alias pangeran dalam bahasa Italia. Entah kebetulan atau disengaja, kata itu juga menjadi judul buku panduan politik yang ditulis teoritikus politik Italia, Niccolo Machiavelli, pada abad ke-16. Setelah duduk di atas pelana, Prabowo mengenakan topi koboinya.

Adapun Jokowi perlu dibantu beberapa pengawalnya untuk naik ke atas punggung seekor kuda berwarna putih. Presiden terlihat canggung berada di atas kuda yang bernama Salero tersebut. Ia juga dituntun selama menunggangi kuda tersebut.

Prabowo dan Jokowi kemudian menunggangi kuda mereka secara perlahan mendekat ke arah kerumunan media, jarak yang mereka tempuh hanya sekitar 100 meter. "Tadi makan siang. Kemudian saya diberi hadiah topi oleh Pak Prabowo," ujar Jokowi, masih di atas punggung kuda.

Menurut Presiden, kunjungannya merupakan pemenuhan janji saat ia berkunjung ke kediaman Prabowo di daerah Kebayoran Baru dua tahun lalu. Saat itu, Jokowi berjanji akan bersilaturahim ke rumah Prabowo di Bogor.

Selama hampir dua jam pertemuan, Presiden mengaku berdiskusi mengenai banyak hal dengan mantan rivalnya saat Pilpres 2014 lalu tersebut, dari berbincang isu politik sampai ekonomi. Adapun Prabowo menyebut kunjungan Presiden ke kediamannya yang berada di atas bukit tersebut sebagai suatu kehormatan.

Joko Widodo dan Prabowo Subianto menunjukkan keakraban saat menunggang kuda. Senyum terus tersungging di wajah keduanya. Prabowo bahkan tak ragu menggoda Jokowi dengan menyebut Presiden memiliki bakat menunggang kuda. "Tadi saya beri topi dan beliau punya bakat naik kuda. Badannya ringan. Kuda suka yang ringan-ringan," ucap Prabowo, yang langsung disambut tawa keras oleh Jokowi.

Presiden pun tak mau kalah. Ia mengiyakan candaan yang disampaikan mantan rivalnya itu. "Kudanya besar, saya ringan. Tadi kudanya senyum-senyum," kata Jokowi.

Kunjungan Presiden Jokowi ke kediaman Prabowo di Bogor kemarin merupakan yang pertama kalinya. Prabowo juga tampaknya tak main-main menyambut Presiden Jokowi. Ia juga melakukan penyambutan khusus untuk Jokowi.

Ketika tiba di Bogor sekira pukul 12.30 WIB, tim marching band sudah bersiap di pekarangan kediaman Prabowo. Musik dimainkan begitu kendaraan kepresidenan terlihat. Iringan musik tersebut menyambut kedatangan, sekaligus mengiringi kepulangan Presiden dari kediaman Prabowo yang terletak di atas bukit itu.

Kedua pihak mengindikasikan, tak ada yang istimewa dengan pertemuan kemarin. Kendati demikian, rekaman kejadian menunjukkan sebaliknya. Saat Presiden Joko Widodo secara khusus menemui mantan rivalnya pada kesempatan sebelumnya, selalu ada isu genting yang mengemuka.

Pertemuan sebelumnya antara Jokowi dan Prabowo berlangsung pada 29 Januari 2015 di Istana Kepresidenan Bogor. Kala itu, Prabowo yang bertandang dengan alasan hendak menyampaikan prestasi Indonesia di bidang olahraga pencak silat, sehubungan jabatannya sebagai ketua umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Walaupun begitu, seperti menjadi rahasia umum, saat itu Presiden Joko Widodo tengah dipusingkan dengan penunjukan Budi Gunawan (saat itu berpangkat komjen) sebagai kapolri. Penunjukan yang didukung parpol-parpol pengusung Jokowi pada Pilpres 2014 itu ditentang sejumlah pihak, terutama kalangan aktivis antikorupsi.

Terlebih lagi, tak lama setelah Jokowi mengirimkan usulan penunjukan Budi Gunawan ke DPR, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka. Saat itu juga, Budi Gunawan tengah mengajukan gugatan praperadilan atas penetapan tersangka. Tak lama selepas penetapan tersangka atas Budi Gunawan, Bareskrim Polri juga melakukan semacam gerakan balasan, dengan menetapkan beberapa pimpinan KPK sebagai tersangka.

Pada kunjungan kali itu, Prabowo mengakui, polemik Polri-KPK menjadi salah satu topik pembicaraan. Ia menegaskan, mendukung apa pun keputusan Presiden, terkait penyelesaian sengkarut penunjukan kapolri saat itu. Pada akhirnya, tak lama seusai pertemuan tersebut, Jokowi mengeluarkan keputusan menunda penunjukan Budi Gunawan. Langkah tersebut dikritisi partai pendukung Presiden, tetapi justru direstui koalisi oposisi yang saat itu masih solid.      Oleh Halimatus Sa'diyah, ed: Fitriyan Zamzami

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA