Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Pemilih Muda Bakal Jadi Penentu

Rabu 28 September 2016 14:00 WIB

Red:

 

Republika/Rakhmawaty La'lang 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAKARTA -- Pemilih berusia muda dinilai bakal berperan signifikan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Dengan persaingan antarkandidat yang berjalan ketat, pemilih pemula bisa menentukan hasil akhir pemilihan.

Direktur Eksekutif Saiful Muzani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, menuturkan, persentase pemilih muda dalam Pilkada DKI Jakarta sekitar 25 persen. Persentase ini merujuk pada hasil survei SMRC pada Juli-Juni 2016. "Jika diperhitungkan dengan daftar pemilih tetap (DPT) pada Pilpres 2014 lalu, ada sekitar 7,5 juta pemilih di Jakarta. Maka, jumlah pemilih muda diperkirakan hampir dua juta orang," kata Djayadi kepada Republika, kemarin.

Jumlah ini, menurut dia, terbilang tinggi di antara daerah yang melaksanakan pilkada tahun depan. Usia pemilih muda dikategorikan dalam rentang 17 tahun hingga 25 tahun.

Djayadi memaparkan, karakter pemilih muda di Jakarta aktif dan cerdas. Keterjangkauan mereka terhadap informasi mengenai para pasangan calon peserta pilkada pun tinggi.

Ia memprediksi, pada gelaran Pilkada Jakarta 2017 mendatang, partisipasi para pemilih pemula sangat tinggi. "Sebab, kesadaran untuk memilih ada. Program-program dari para paslon sengaja menyasar anak muda dan pemilih muda. Hanya sosialisasi dan program yang nantinya menguatkan pilihan mereka," kata Djayadi.

Menurut dia, ada empat isu yang diperhatikan oleh para pemilih muda. Di antaranya, kemudahan memperoleh pekerjaan alternatif yang menjanjikan, kemudahan akses pendidikan, kemudahan akses transportasi (mobilitas), dan pemberantasan korupsi.

Keempat poin itulah yang nantinya diperhatikan para pemilih pemula dari visi dan misi ketiga pasangan calon. Djayadi menekankan informasi tentang pelaksanaan pilkada, tahapan pilkada, dan pentingnya memilih harus terus disosialisasikan. "Sosialisasi ini harus diseimbangkan dengan pengenalan paslon beserta program mereka," katanya.

Sedangkan peneliti Poltracking Institute, Agung Baskoro menilai, pemilih pemula memiliki kriteria ketertarikan tertentu pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Ia menyebut, anak-anak muda merupakan jenis pemilih yang kritis dan unik. "Pemilih pemula ini merupakan kelompok pemilih yang melek informasi (connected kids) sehingga dapat diasumsikan sebagai pemilih yang kritis dan unik," katanya.

Agung menyebut, pemilih pemula lebih tertarik pada kandidat calon gubernur yang kreatif menawarkan programnya. Menurut dia, kendati jumlahnya tidak banyak atau sekitar 11-13 persen dari total pemilih DKI Jakarta, mereka mampu mempengaruhi kelompok usia dewasa. "Kelompok usia ini kebanyakan masih tinggal dengan orang tuanya," ujarnya.

Menurut Agung, dalam pilkada yang paling berpengaruh adalah faktor figur. Sehingga, ia mengatakan, kemampuan para calon gubernur-wakil gubernur menampilkan sosok yang beda dan menjual sisi-sisi lain yang lebih otentik, dapat mengundang simpatik pemilih pemula. Dia meyakini, perjumpaan antara pemilih muda dan Pilkada DKI akan memberi dampak berbeda dari pemilihan sebelumnya. Sebab, ia melanjutkan, pemilihan ini menghadirkan pilihan calon-calon gubernur dan wakil gubernur yang berkualitas.

Pengamat politik dari CSIS, Philips Vermonte, mengatakan, pemilih pemula akan menentukan pilihannya berdasarkan ide dan gagasan dari pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kontestan Pilkada DKI untuk menggaet suara mereka.

"Yang penting, buat anak muda itu zamannya ide, mereka akan senang dengan ide-ide yang komprehensif dan maju," kata dia saat dihubungi Republika, kemarin.

Philips mengungkapkan, pemilih pemula hari ini melek dengan informasi, apalagi anak muda Ibu Kota. Anak muda atau pemilih pemula sangat menantikan gagasan-gagasan segar dan program-program dari pasangan calon terkait pemerintahan.

Sayangnya, menurut dia, partai politik tak menangkap arus pemilih pemula yang jumlahnya cukup signifikan ini meski di sisi lain, para calon gubernur yang bertanding relatif berusia muda. "Jadi ini tantangan tersendiri bagi parpol pengusung dan para calon untuk mendapatkan suara mereka," ujar dia.

Sosialisasi

Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta, Sumarno menuturkan, ada beberapa kegiatan yang dilakukan instansinya untuk membangun kesadaran politik di kalangan pemilih muda tersebut. "Programnya kami kemas dalam ragam bentuk kegiatan yang bersifat fun (menyenangkan). Dari lomba paduan suara, kelompok diskusi, dan election camp (kemping pemilu)," ujarnya kepada Republika.

Sumarno mengatakan, lomba vocal group yang mengusung jingle Pilkada 2017 untuk tingkat SMA se-Jakarta telah digelar oleh KPU DKI sejak bulan lalu. Saat ini, kompetisi paduan suara tersebut sudah memasuki tahap final. "Pada 30 September ini, para finalis dari enam kabupaten kota di DKI akan kembali berlomba di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat," katanya.

Sedangkan untuk program kelompok diskusi dan kemping pemilu, KPU DKI berjanji akan segera melaksanakannya dalam waktu dekat. Sumarno mengatakan, dalam kegiatan kemping pemilu nanti, para peserta bakal disajikan berbagai permainan (gim) yang menarik dan menyenangkan.

Dia mengharapkan, seluruh program tersebut bisa menjadi sarana pengenalan politik yang efektif bagi kalangan pemilih pemula di Jakarta. "Kami ingin mereka tidak apolitis terhadap pilkada, dan menyadari betapa pentingnya partisipasi politik masyarakat dalam menentukan nasib Jakarta untuk lima tahun mendatang," katanya.

Sumarno menambahkan, KPU DKI juga akan menggalang kerja sama dengan sejumlah media, untuk melakukan sosialisasi pilkada kepada kalangan pemilih pemula di Ibu Kota. "Setelah proses pencalonan di KPU rampung, kami akan gencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus selama empat bulan ke depan."

Berdasarkan data penduduk potensial pemilih pemilu (DP4) yang diperoleh KPU dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Provinsi DKI, total pemilih di Jakarta pada Pilkada 2017 diperkirakan mencapai 7.439.149 orang. Dari angka tersebut, jumlah pemilih yang memasuki batas minimum pemilih tercatat sebanyak 387.071 orang. Sementara jumlah pemilih yang berusia di bawah 17 tahun, tapi telah menikah, sebanyak 157 orang.     rep: Dian Erika Nugraheny, Umi Nur Fadhilah, Mas Alamil Huda, Ahmad Islamy Jamil, ed: Fitriyan Zamzami

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA