Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Makan Lima Kali Sehari dan Minum Minuman Kemasan 20 Gelas

Rabu 13 Jul 2016 14:00 WIB

Red:

Foto : Mahmud Muhyidin  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ade Somantri (40) dan istrinya Rokayah (38) begitu bahagia tatkala anak keduanya lahir 10 tahun lalu. Perawatan maksimal agar Arya Permana (10), nama anaknya, bisa tumbuh sehat.

Mereka tak menyangka jika bocah laki-laki itu tumbuh berlebihan. Pada usia 10 tahun, Arya memiliki bobot 190 kilogram. Akibat obesitas ekstrem yang dialaminya, Arya kesulitan beraktivitas layaknya anak-anak normal pada umumnya.

Jangankan berlari mengejar bola, melangkahkan kaki saja Arya tak sanggup jika terlalu jauh dan lama. "Jalan 10-20 meter sudah sesak. Tapi, beberapa saat jalan lagi. Eungap," kata sang ayah kepada Republika, di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/7).

Kondisi ini juga membuat Arya tidak bisa bersekolah seperti siswa kebanyakan. Beruntung ia tidak putus sekolah. Sang guru dengan penuh perhatian justru datang ke rumahnya untuk memberikan pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Menjelang akhir kelas 2 SD di SDN Cipurwasari 1  Karawang, Arya menjalani layaknya home schooling, dengan bantuan gurunya. Arya tetap mendapat pelajaran, mengerjakan ujian, dan mendapatkan rapor. Bahkan, Arya tergolong siswa berprestasi yang kerap mendapat peringkat.

Ade menuturkan, awalnya Arya tumbuh seperti anak normal biasa. Lahir dengan bobot 3,8 kilogram pertumbuhan Arya tampak berbeda mulai usia 4 tahun. Berat badannya naik tak seperti anak normal. Berat badannya bahkan naik ekstrem saat menginjak usia sembilan tahun.

"Usia empat tahun mulai besar. Sampai delapan tahun 90 kilogram. Nah dari delapan tahun ke sembilan itu jadi 119 kilogram. Yang paling banyak dari usia sembilan tahun ke 10 itu mencapai 192 kilogram," tutur Ade.

Pria yang bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik di Karawang itu mengatakan, Arya memang memiliki pola makan yang besar. Dalam satu hari, Arya bisa makan hingga lima kali. Hal ini diperparah dalam satu tahun terakhir Arya gemar mengonsumsi minuman kemasan manis berasa buah. Dalam sehari, kadang Arya bisa menghabiskan 20 gelas minuman itu.

Meski menderita obesitas ekstrem, Ade mengaku anaknya tidak pernah menderita sakit parah. Apalagi, sampai dirawat di rumah sakit. "Anaknya enggak ada sakit apa-apa. Paling juga batuk pilek demam biasa. Sebelum Lebaran juga diambil darah. Delapan dokter menyatakan normal," ujarnya.

Kendati demikian, khawatir dengan bobotnya yang semakin berat, Arya akhirnya diboyong ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada Senin (12/7) kemarin. Berat badannya harus dipangkas sesuai dengan usia normalnya.

Ade Somantri bukannya tidak merasakan perbedaan yang dialami anaknya, Arya Permana. Namun, rasa sayangnya begitu besar sehingga dia tidak bisa menolak permintaan anaknya terhadap makanan. "Namanya anak kecil ya, kalau enggak diturutin minta ini itu suka marah. Anaknya memang emosional," katanya.

Oleh karena itu, semakin tahun berlalu berat badan Arya tak terkendali. Beberapa bulan terakhir, Ade mengikuti saran dokter dan masyarakat lain untuk tidak memberikan makanan berlebih dan minuman kemasan. "Ya akhirnya saya ikutin omongan dokter kalau pola makan dia harus diatur. Jangan makan mi instan dan minuman kemasan lagi," ujarnya.

Program diet dan perawatan
Arya ditangani tim ahli yang berjumlah 13 dokter dari RSHS. Ketua tim ahli yang menangani, Julistyo TB Djais, mengatakan obesitas biasanya disebabkan oleh faktor hormonal, seperti insulin berlebih dalam tubuh.

Untuk kasus Arya, Julistyo mengatakan, obesitas yang diderita cukup berbahaya bagi anak dan tergolong ekstrem. Dalam satu tahun ke belakang, berat badan Arya meningkat hampir 100 kilogram. Padahal, untuk anak seumurnya, berat badan ideal, yakni sekitar 50 kilogram.

Meski memiliki bobot raksasa, Julistyo mengatakan, kesehatan Arya tergolong baik. Dalam pengecekan, baik secara fisik maupun laboratorium, tidak ada permasalahan dengan organ dalamnya. Mulai dari jantung hingga paru-paru masih baik. "Jadi ini baru sebatas penumpukan lemak. Peningkatan kolesterol belum," ucapnya.

Namun, dengan berat badan yang tidak proporsional, sang anak juga mengalami keterbatasan dalam bergerak. Sehingga dengan bergerak sedikit saja, anak dapat mengalami pusing dan sesak napas. Akibatnya, mobilitas terhambat. Dalam masa penanganan di RSHS akan dilakukan perawatan dan pemrograman agar berat badan anak tersebut bisa kembali normal.

Tahap yang dilakukan, antara lain, mengatur program diet ketat. Berdasarkan dietary recall yang dilakukan tim gizi RSHS, total kalori yang dikonsumsi Arya dalam satu hari mencapai 6.000 Kkal. Padahal seharusnya, total kalori yang dikonsumsi Arya cukup sebanyak 2.300 Kkal.

Program diet yang akan diterapkan kepada Arya, yakni dengan memperbanyak sayuran, makanan berserat, dan pemakaian energi. "Kita perbanyak sayuran, gerakan, tapi tentu saja bertahap. Kita perhatikan juga kesehatannya," ujarnya.

Selain itu, Arya akan menjalani terapi berjalan untuk melatih mobilitasnya, seiring program diet yang dilakukan. Dalam satu hari, Arya akan menjalani tiga kali terapi jalan. Selama beberapa menit, Arya diminta berjalan sejauh 25 meter berulang-ulang.

Diperkirakan, Arya akan menjalani perawatan hingga dua pekan lamanya. Diharapkan bobotnya bisa turun drastis ke ukuran ideal. Pada Selasa (12/7) kemarin, berat badan Arya mulai turun sedikit setelah mulai menjalani diet. Satu hari berselang, berat badan Arya turun dari bobot awal. "Sekarang 188 kilogram," kata Ade.

Menurut dia, sejak masuk, dokter sudah melakukan pengaturan pola makan Arya. Dalam satu hari, anak itu diberi makan tiga kali dengan kandungan lauk pauk yang lebih banyak serat. Seperti sayuran dan buah. Ia mengatakan, Arya juga berpuasa sejak pukul 22.00 malam kemarin untuk diambil darah kemarin pagi. Saat ditimbang, penurunan berat badan Arya sudah tercatat. rep: Zuli Istiqomah ed: Fitriyan Zamzami

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA