Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Idul Fitri Jadi Momen Persatuan

Sabtu 09 Jul 2016 13:46 WIB

Red: Firman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Perayaan Idul Fitri 1437 Hijriyah didahului sejumlah aksi terorisme di negara- negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia. Terkait hal itu, sejumlah pihak meminta umat Islam menjadikan perayaan Idul Fitri tahun ini momen menggalang persatuan.

Dalam khutbah shalat Idul Fitri, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengajak umat Islam mengutuki aksi-aksi terorisme menjelang Lebaran tahun ini. "Jangan sampai membenarkan bahwa Islam adalah terorisme," kata dia dalam khutbah shalat Id di Masjid Dian Al-Ikhlas, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rabu (6/7).

Ia menegaskan, aksi pengeboman sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, Islam merupakan agama yang mutlak, umatnya moderat, tidak berkaitan dengan teror dan terorisme.

Hidayat menyebut, Ramadhan merupakan momentum yang penting untuk Muslim. Karena, melalui bulan suci itu, Islam menghadirkan makna kemenangan di hati setiap Muslim. Ia mengingatkan, Islam dan umatnya tidak pernah diajarkan merayakan kemenangan dengan arogansi. "Justru hadirkan sesuatu yang manusiawi," ujar dia.

Hidayat mengusulkan, Muslim di seluruh dunia harus bersatu mengokohkan Islam yang moderat. Selain itu, para pemimpin pemerintahan harus bekerja sama mengoreksi fitnah-fitnah yang dilayangkan pada Islam.

Sedangkan, Ketua MPR Zulkifli Hasan mengimbau agar rakyat tidak boleh kalah, negara tidak boleh kalah, dan jangan takut menghadapi teroris. Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama menghadapi teroris.

Ia percaya, teroris tidak akan menang melawan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, tindakan teror menjelang Hari Raya Idul Fitri di negara-negara Muslim, menurutnya, menunjukkan teroris tidak memandang agama dan tidak beragama. `'Oleh karena itu, kita harus bersatu untuk menghadapi teror tersebut,'' ajak Zulkifli.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie juga mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh politik dunia untuk bersatu melawan terorisme global. Ia berharap, kekerasan-kekerasan yang terjadi di seluruh belahan dunia segera diakhiri.

"Tokoh-tokoh agama harus bersama dengan tokoh politik dunia menenangkan keadaan. Kita tidak bisa hidup menggunakan logika lama. Kalau ada perbedaan sedikit, lakukan kekerasan dan perang. Itu tidak bisa lagi," kata Jimly di kediaman pribadinya di Jakarta Selatan, Kamis (7/7).

Jimly mengatakan, terorisme global yang saat ini terjadi sangat mengancam kemanusiaan. Aksi- aksi terorisme di berbagai belahan dunia, menurutnya, dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami agama secara menyeluruh.

Dia yakin, tak ada satu pun agama yang membenarkan cara- cara kekerasan. "Jangan terpecah belah, mari bersatu. Yang kita perlukan, sinergi antar semua potensi untuk bangun semua kemajuan bersama. Kita ingin lebih damai sejahtera dan berkeadilan," katanya.

Sepanjang Ramadhan, sejumlah aksi bom bunuh diri terjadi di kota-kota besar berpenduduk mayoritas Muslim. Di Dhaka, Bangladesh, terjadi pembacokan yang mengakibatkan 23 orang tewas. Sedangkan, di Bandara Attaturk, Istanbul, Turki, ledakan bom bunuh diri juga menewaskan setidaknya 36 orang.

Di Baghdad, Irak, sebanyak 250 orang tewas dalam ledakan bom bunuh diri di pasar yang tengah disesaki warga Muslim yang berbelanja keperluan Ramadhan. Aksi teror juga mengguncang Arab Saudi di tiga tempat, yakni Jeddah, Qatif, dan area parkir Masjid Nabawi di Ma dinah. Sementara, di Indonesia, aksi bom bunuh diri juga terjadi di Mapolres Surakarta, sehari sebelum Lebaran.

Atas berbagai aksi teror tersebut, para pemimpin dunia Muslim menyampaikan kecaman. Mereka menilai perlunya mengesampingkan perbedaan untuk bersama menyatakan persatuan.

Menteri Dalam Negeri Iran Javad Zarif, misalnya, menyeru agar Syiah dan Suni bersatu. "Suni dan Syiah akan terus jadi korban, kecuali kita bersatu," kata dia melalui akun Twitter resminya.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak juga menyatakan keterkejutannya atas insiden pengeboman di Madinah. "Kami mengecam aksi tersebut khusus karena ini terjadi di kota suci Madinah dan masjid Nabi. Aksi ini bukan Islam," katanya.

Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan agama paling terkemuka dalam Islam Suni juga mengecam aksi tersebut dan menegaskan bahwa Masjid Nabawi adalah tempat suci. Kelompok Syiah Hizbullah tak ketinggalan mengecam serangan Madinah yang disebutnya tanda baru teroris.

Lebaran presiden Presiden Joko Widodo tak ketinggalan mengutuk keras tiga serangan bom yang terjadi di tiga titik di Arab Saudi. Ia menegaskan, aksi kekerasan seperti itu tidak dibenarkan atas nama apa pun. "Tidak ada toleransi terhadap hal-hal seperti itu, apalagi ini di Masjid Nabawi," ucap Presiden di Padang, Sumatra Barat.

Jokowi berada di Padang guna merayakan Idul Fitri di daerah tersebut. Presiden, Ibu Negara Iriana, dan dua anak mereka melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Raya Sumatra Barat, Kota Padang.

Shalat Id dipimpin oleh Kiai Haji Indra Hadi. Sementara, khutbah Idul Fitri dibawakan oleh Kiai Urwatul Wusqa. Khatib mengangkat tema menjaga silaturahim. "Pada hari yang fitri ini, mari kita jaga tali silaturahim untuk mempersatukan kekuatan bangsa," ujar Kiai Urwatul.

Dalam pesan Idul Fitri yang diunggah melalui akun Youtube resmi kepresidenan, Jokowi juga menyampaikan salamnya kepada seluruh masyarakat Indonesia yang merayakan kemenangan.
Presiden sekaligus mengajak segenap lapisan masyarakat Indonesia untuk merayakan hari kemenangan dengan bersama- sama membangun negeri. "Mari kita rayakan hari kemenangan ini dengan semangat kerja bahu- membahu membangun bangsa, bahu-membahu membangun negara," ujarnya.  rep: Umi Nur Fadhilah, Eko Supriyadi  Mas Alamil Huda/Lida Puspaningtyas/Halimatus Sa'diyah, ed: Fitriyan Zamzami  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA