Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Hotlin Ompusunggu, Aktivis Lingkungan: Mengubah Perilaku Keliru Masyarakat Pinggir Hutan

Jumat 18 Mar 2016 14:00 WIB

Red:

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Republika kembali memberikan anugerah Tokoh Perubahan. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang dianggap mempunyai karya nyata  di tengah masyarakat dan melakukan perubahan yang bermanfaat bagi bangsa ini. Berikut  Tokoh Perubahan Republika 2014.

***

Dahulu, akses kesehatan menjadi masalah masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Palung (TNGP), Kalimantan Barat. Untuk berobat di ibu kota Kabupaten Ketapang, warga desa harus menempuh jarak sekitar 87 kilometer. Sehingga, mereka harus membayar biaya tinggi untuk transportasi serta penginapan di kota ketika sedang menjalani masa pengobatan.

Lantaran hasil pertanian dan menjual sapi tak mencukupi untuk biaya berobat, warga terpaksa menebang pohon di hutan untuk dijual. Bahkan, ada warga yang menebang 60 pohon di hutan secara ilegal untuk bisa membayar biaya berobat di rumah sakit.

Hal itu membuat drg Hotlin Ompusunggu merasa miris. Apalagi, masyarakat yang tinggal di sekitar TNGP itu sangat bergantung pada hutan. Pembalakan liar pun marak. Namun, Hotlin memperhatikan, maraknya pembalakan liar tak lantas berpengaruh pada perbaikan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Setelah ditelisik, kata dia, masyarakat menebang pohon di hutan bukan bermaksud merusak, tetapi karena terdesak. Misalnya, ketika butuh biaya untuk operasi anak atau keluarga lainnya karena penyakit tertentu, mereka lantas menebang kayu di hutan.

Menurut Hotlin, untuk mengubah perilaku masyarakat di pinggir hutan itu solusinya tak cukup dengan penegakan hukum, tetapi harus dibarengi pemberdayaan masyarakat. "Pemberdayaan masyakarat yang menggabungkan layanan kesehatan dengan konservasi," kata pendiri Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) ini kepada Republika, Selasa (15/3).

Minat Hotlin untuk pengembangan masyarakat muncul sejak di bangku kuliah. Selepas tamat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, Hotlin mengabdikan diri di puskesmas selama empat tahun, lalu dua tahun di pedalaman Sumatra Selatan. Kemudian, ia belajar lagi ke Inggris, mendalami Community Development and Higher Education di Redcliffe College University of Glocestershire.

Sepulang dari Inggris, ia berkenalan dengan Kinari Webb MD, dokter keluarga yang pernah melakukan penelitian di Gunung Palung. Ia tertarik dengan konsep Kinari tentang pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan layanan kesehatan dengan konservasi.

Maka, dibentuklah Yayasan Asri di Kecamatan Sukadana bersama Kinari dan Antonia Gorog PhD, pakar ekologi dan konservasi yang pernah bekerja dua tahun di Indonesia menjadi scientific advisor. ''Nama Asri itu usulan dari sopir pribadi Doktor Gorog di Bogor, lalu kita bawa ke Sukadana dan masyarakat menerimanya,'' ujar Hotlin.

Bertujuh, Hotlin menggerakkan Yayasan Asri di awal pendirian. Pertemuan demi pertemuan dengan warga mereka lakukan selama setahun. ''Filosofi kami yang sangat mengakar dalam setiap kegiatan yakni radical listening,'' ujar perempuan kelahiran 19 Juli 1974 itu.

Hotlin memahami kekuatan dari mendengarkan. Satu per satu dusun-dusun didatangi, termasuk dengan cara naik speedboat untuk mencapainya. Terdapat 23 dusun yang dikunjungi selama setahun.

Namun, program pemberdayaan tidak semulus yang dibayangkan. Misalnya, ketika puluhan warga telah berkumpul untuk pelatihan pertanian organik, sebagian besar dari mereka lantas pulang. Mereka marah karena sudah bersedia meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti pelatihan tetapi ternyata tak mendapat uang saku.

Kepada yang masih bertahan, Hotlin lantas memberi gambaran yang lebih luas dari program yang ia jalankan. Ia jelaskan, bisa saja Asri memberi uang saku yang besarnya sama dengan uang saku yang diberikan oleh lembaga-lembaga lain yang pernah memberikan pelatihan.

''Tetapi, kami tidak memberikan, kami ingin uang itu punya dampak ke kehidupan selanjutnya, menjadi ilmu yang bermanfaat dan ada dampak panjang setelah mempraktikkan ilmunya,'' tutur Hotlin.

Sebagai dokter gigi, Hotlin mengaku tak mungkin bicara soal teknis pertanian. Yang bisa ia lakukan adalah memberikan gambaran yang bisa memotivasi para petani. Untuk pelatihan, ia mendatangkan pelatih-pelatih dari Bogor. ''Seiring waktu, masyarakat makin antusias mengikuti pelatihan,'' ujar Hotlin.

Pelatihan pertanian organik menjadi salah satu program yang dijalankan Asri untuk menghambat laju kerusakan lingkungan di kawasan TNGP—salah satu program yang juga diinginkan oleh warga sekitar TNGP sehingga mereka bisa beralih pekerjaan dari pembalak liar menjadi petani organik. "Benar saja, setelah kita membangun komunikasi mendalam, mereka pun ingin lebih berdaya dengan tidak menebang pohon di hutan," kata Hotlin.

Hotlin tidak datang seperti Superman yang serbatahu kebutuhan warga lantas memberikan bantuan kemudian pergi. Ide masyarakat selama setahun dikumpulkan. ''Masyarakat minta pelayanan kesehatan yang terjangkau, ambulans 24 jam, karena infrastruktur jalannya sangat minim, jauh dari dokter,'' kata Hotlin.

Inti pertemuan itu, kata Hotlin, masyarakat mempunyai pendapat yang sama bahwa mereka bisa kuat jika mereka sehat. Menurut mereka, punya uang banyak tak ada artinya kalau tak sehat. ''Mereka juga sadar, hutan itu sumber kehidupan yang baik bagi mereka sehingga perlu dijaga,'' kata Hotlin.

Kegiatan ditindaklanjuti dengan penyusunan konsep kerja konservasi. Hotlin dan tim lantas mendirikan klinik sebagai layanan jasa kesehatan masyarakat yang murah tetapi berkualitas. Murah bukan berarti masyarakat disuapi dalam memperoleh layanan kesehatan. Hotlin pun merangkap menjadi dokter gigi di klinik itu.

Klinik menggolongkan pasien berdasarkan status dusun tempat tinggal mereka. Setiap dusun diberi status zona dengan indikator tertentu. Indikatornya yakni seberapa besar komitmen masing-masing dusun melakukan konservasi hutan dengan tidak menebang pohon sembarangan. Dusun dibagi dalam zona hijau dan merah, yang hijau—sudah terbebas dari usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 70 persen. Yang merah—masih ada usaha terkait pembalakan liar—mendapat diskon 30 persen.

Kini, dusun dibagi ke dalam empat zona, yaitu hijau, kuning, biru, dan merah. Status zona biru diberikan kepada desa-desa yang tidak berbatasan langsung dengan TNGP tetapi memiliki komitmen menjaga hutan. Sebab, banyak kasus, ada dusun yang berbatasan langsung dengan TNGP menjadi berstatus kuning atau merah gara-gara ulah pembalak dari dusun lain. Hingga kini, sebanyak 76 dusun bekerja sama dengan Yayasan Asri dengan warna zonasi yang beragam.

Sudah dapat diskon, biaya berobat pun bisa dicicil dan dibayar tidak dengan uang. Biaya berobat bisa dibayar dengan bibit pohon, dengan kerajinan tangan, dengan sekam, kulit telur, kotoran sapi, dan sebagainya. Klinik memberi harga lebih tinggi dari harga pasar. ''Kami katakan, kalau bapak-ibu sakit, bapak-ibu tak perlu menjual sapi, cukup dengan menjual kotorannya kepada kami. Tak perlu menebang pohon lagi, tapi cukup menyediakan bibit pohon untuk kami,'' kata Hotlin.

Selama 2007-2015, menurut Kepala Klinik Asri dr Nurmilia Afriliani, klinik telah melayani hampir 25 ribu pasien dengan total kunjungan hampir 60 ribu kali. Pada 2009, bupati Kayung Utara mencanangkan pelayanan kesehatan gratis. Meski begitu, warga tetap membanjiri Klinik Asri dengan membawa kerajinan tangan atau bibit pohon dan lainnya yang bisa dijadikan alat bayar. Itu terjadi karena masih ada keterbatasan fasilitas kesehatan yang disediakan pemda untuk layanan kesehatan gratis.

Lima tahun berjalan, usaha Hotlin sudah terlihat. Jumlah pembalak berkurang drastis, dari 1.360 keluarga pembalak yang menjadi sasaran Asri, berkurang menjadi 450 keluarga pada 2012. ''Kini tinggal 180 keluarga. Mereka belum bisa beralih profesi karena mereka tak punya sawah,'' ungkap Hotlin.

Para pembalak yang sudah beralih profesi, ada yang bekerja di perusahaan (14 persen). Ada pula yang bekerja di pabrik minyak sawit (13 persen), menjadi pedagang (empat persen), menjadi nelayan (dua persen), menjadi pekerja konstruksi (1,5 persen), dan sebagainya. ''Paling banyak menjadi petani organik, mencapai 52 persen,'' ujar Hotlin.

Ketika memulai program pada 2007, kasus diare mencapai 40 persen. Pada 2012, kasus diare turun menjadi 20 persen. Angka kematian bayi juga turun menjadi 1,1 persen dari 3,4 persen. Penurunan tersebut terbantu oleh semakin terampilnya bidan menangani kelahiran karena yayasan memfasilitasi sejumlah pelatihan kebidanan.

Kasus TBC pada tahun 2012 ada 10 persen, turun dari kondisi tahun 2007 yang mencapai 20 persen. Sedangkan, kasus malaria turun dari 71 persen menjadi 52 persen. Oleh Sonia Fitri, ed: Muhammad Fakhruddin 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA