Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

BMKG: Puncak Kemarau Agustus

Rabu 08 Jul 2015 11:00 WIB

Red:

JAKARTA -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau akan berlangsung pada Agustus. Kemarau ini memengaruhi sejumlah daerah yang sudah mengalami kekeringan bahkan menyebabkan gagal panen atau puso.

Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG Indonesia Evi Lutfiati mengatakan, bulan ini sudah masuk kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Ia juga menyebutkan, musim kemarau tahun ini tidak jauh berbeda dengan periode yang sama tahun lalu.

Ia menambahkan, September dan Oktober nanti menjadi peralihan antara kemarau dan musim hujan. Tetapi, BMKF memperkirakan bahwa awal musim hujan di beberapa daerah akan mundur. 

Menurut dia, daerah seperti Sumatra wilayah selatan, Pulau Jawa bagian tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Bali mengalami awal musim hujan pada November. Sedangkan, musim hujan di Indonesia bagian tengah terjadi pada Desember.

Wilayah Indonesia bagian timur, seperti Ambon dan Papua wilayah selatan juga baru memulai musim hujan pada penghujung tahun 2015. BMKG telah menyerahkan laporan cuaca dan perkiraannya ke instansi terkait seperti Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi kekeringan.

Disinggung apakah kemarau yang terjadi di Indonesia saat ini akibat pengaruh fenomena El Nino, Evi membantahnya. Menurut dia, El Nino baru bisa dirasakan kalau Indonesia sudah waktunya memasuki musim hujan tetapi masih mengalami kemarau.

Menurut Evi, dampak El Nino baru bisa diketahui pada November besok. Namun, BMKG berjanji akan terus mengevaluasi kembali cuaca, termasuk kemungkinan El Nino moderat pada November. "Kami akan mengevaluasi curah hujannya," ujarnya, Selasa (7/7).

Kepala BMKG Denpasar I Wayan Suardana mengatakan, pada akhir Juli semua daerah di Bali akan memasuki musim kemarau. Diperkirakan, kemarau akan berlangsung hingga akhir September atau awal November.

Ia mengakui, di beberapa tempat, khususnya di dataran agak tinggi, hujan masih turun tetapi sebentar. Hal itu di antaranya terjadi di Bedugul, Kabupaten Tabanan atau Kintamani, dan Kabupaten Bangli.

Suardana menambahkan, kendati sudah memasuki musim kemarau, Bali belum mengalami kekeringan. Sistem irigasi subak di Bali, masih bisa mengairi area persawahan. ‘’Ini karena pengaruh cuaca di Australia, jadi udara di Bali selama ini terasa sejuk dan dingin," kata Suardana, kemarin.

Perkiraan lain disampaikan Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Tabing, Padang, Budi Samiaji. Menurut Budi, kondisi tanpa hujan atau kemarau akan berlangsung hingga akhir Juli mendatang. ‘’Memang kalau kita pantau, sudah 20 hari tanpa hujan. Estimasi akan berlangsung sampai akhir Juli," kata dia, di  Padang, Sumatra Barat.

Menurut dia, secara umum kondisi kemarau terjadi merata di seluruh Sumatra Barat. Meski demikian, kata dia, ada sejumlah daerah yang potensi hujannya masih cukup tinggi, yakni sebagian Pasaman, Pasaman Barat, dan Padang Panjang. Di Sumatra Barat ada dua kali kemarau dalam artian musim yang mempunyai curah hujan rendah.

Curah hujan rendah berlangsung pada Januari-Februari. Curah hujan tinggi berlangsung pada Maret, April, Mei. Kemudian, curah hujan rendah lagi berlangsung pada Juni-Juli. Dan, curah hujan tinggi lagi, pada Oktober-November. Suhu kelembaban pernah hampir mencapai 33 derajat Celcius. Namun, menurut dia, dalam beberapa hari ini, suhu sudah turun mencapai 31,8 derajat Celcius.

Menurut Kepala Subdivisi Management Data BMKG VII Makassar Sri Murniati, musim kemarau juga sudah menyambangi Sulawesi Selatan. Namun, kemarau baru terjadi di sebagian wilayah. Masih terdapat daerah yang intensitas hujannya cukup tinggi, di antaranya di Sulawesi Selatan bagian timur seperti Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, dan Kabupaten Wajo.

Kepala Bidang Produksi Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Sulawesi Selatan M Aris Mappeangin menuturkan, pihaknya tidak terlalu mengkhawatirkan musim kemarau terhadap keberlangsungan pertanian. Kekeringan di Sulsel kebanyakan berada di wilayah yang memiliki sawah tadah hujan. Dinas telah melakukan sosialisasi agar para petani di sana, yang saat kemarau tak menanam padi, menanam palawija. n debbie sutrisno/umi nur fadhilah ed: ferry kisihandi

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA