Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Belum Semua SPBU Siapkan Pertalite

Rabu 29 Apr 2015 13:00 WIB

Red:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAKARTA--Belum semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama di Jakarta, siap menjual Pertalite. Produk baru PT Pertamina dengan Research Octane Number (RON) 90 itu direncanakan akan hadir di pasaran pada awal Mei. Mayoritas SPBU yang dipantau Republika sepanjang Rabu mengatakan belum mendapat informasi perihal Pertalite dari Pertamina. Karena itu, mereka belum menyiapkan infrastruktur di tempatnya masing-masing.

Pertalite yang nantinya menggantikan Premium dibanderol dengan harga sekitar Rp 8.000 hingga Rp 8.300 per liter. Sesuai kebijakan Pertamina, Pertalite hanya akan dijual di SPBU kota-kota besar di Indonesia. Tahap pertama penjualan Pertalite di Kota Jakarta. Bila berjalan baik, akan dilanjutkan ke daerah lain di Indonesia. Sementara, di SPBU kota-kota kecil dan pinggiran kota besar, Premium masih tetap dijual. Selain itu, Premium hanya akan dijual kepada pengendara angkutan umum.

SPBU berkode 31 yang berarti dikelola oleh Pertamina, di Grogol, Jakarta Barat, sudah mempersiapkan perangkat untuk penjualan Pertalite. Pengawas SPBU tersebut, M Raden, menyatakan, langkah itu di antaranya dengan menambah operator sebanyak dua orang.

Mereka bahkan sudah dibekali pengetahuan tentang bahan bakar baru tersebut. "Tujuannya agar para operator dengan mudah menjelaskan kepada masyarakat yang ingin mendapatkan informasi mengenai Pertalite,’’ ujar Raden, Selasa (28/4).

Selain itu, dilakukan pengecekan tangki yang kelak digunakan untuk menampung Pertalite. Raden mengakui, pengecekan tangki membutuhkan waktu cukup lama. Meski demikian, ia tak menyebutkan secara pasti berapa lama pengecekan dilakukan.

Hal lain yang Raden anggap penting adalah pengamanan, terutama saat Pertalite mulai dijual kepada masyarakat. Ia beralasan, pengamanan krusial karena setiap kebijakan pemerintah mengenai bahan bakar selalu ada reaksi cepat dari masyarakat.

Raden mengungkapkan belum tahu pasti mulai tanggal berapa Pertalite diperjualbelikan. Kalau melihat persiapan dan kabar yang beredar, ungkap dia, kemungkinan Pertalite mulai dijual pada pertengahan atau akhir bulan depan.

Namun, sejumlah SPBU berkode 34 di Jakarta Barat belum menyiapkan diri. Para manajer SPBU jenis ini rata-rata menjelaskan, tak adanya persiapan karena RON 90 itu juga belum didistribusikan ke SPBU 31 atau yang dikelola langsung oleh Pertamina.

Manajer SPBU 34-11505 Kemanggisan, Ocan, memperkirakan, Pertalite baru akan sampai ke SPBU-nya setelah disalurkan ke SPBU dengan kode 31. Menurut Manajer SPBU 34-11508 Kelapa Dua, Faisal, belum ada arahan soal penjualan Pertalite.

Sejumlah SPBU di Kota Tangerang, Banten, juga menyatakan belum mendapat surat edaran terkait pengisian Pertalite. "Masih menunggu perintah dari pusat (Pertamina)," kata Manajer SPBU 34-15113 Cikokol, Mochamad Sochip.

Mochamad juga menjelaskan, Pertamina belum mengadakan survei ke SPBU yang dipimpinnya. Ia menyatakan siap kalau Pertamina nantinya memerintahkan SPBU-nya untuk segera mengisi Pertalite, tetapi tak akan menambah jumlah pompa, melainkan mengurangi jumlah pompa lain.

Saat ini, kata dia, ada delapan pompa untuk Premium dan akan dikurangi empat untuk Pertalite. Pengawas SPBU 31-15103 di Perumahan Royal, Kota Tangerang, Djuwari, menyatakan sudah siap menjual Pertalite.

Apalagi, surat edarannya sudah ada dan sudah ada tim yang menyurvei SPBU tersebut. Djuwari menyatakan pula, tak akan menambah jumlah pompa untuk Pertalite. "Manajemen akan menukar salah satu pompa solar untuk Pertalite.’’

Meski demikian, Djuwari mengungkapkan, manajemen belum tahu pasti kapan Pertamina akan menyalurkan Pertalite ke SPBU. Ini masih akan didiskusikan dengan Pertamina Pusat. "Tunggu saja hasil rapatnya, Rabu ini," katanya.

Sementara, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DIY Siswanto masih menunggu kebijakan dari pemerintah, apakah benar pada Mei nanti mulai ada penjualan Pertalite atau tidak.

Hingga saat ini, ia mengaku terus berkoordinasi dengan Pertamina sebab belum juga ada kejelasan. Kalau Mei mulai berlaku, SPBU kecil yang hanya memiliki tangki di bawah tiga akan menghadapi masalah karena kesulitan menampung Pertalite.

Siswanto yang juga pemilik SPBU Gesikan di Jalan Godean ini menuturkan, bahkan masih banyak SPBU yang jumlah tangki dalamnya terbatas hanya dua buah atau tiga buah tangki dalam. Nanti, jelas dia, sambil jalan dipikirkan jalan keluarnya.

Wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT dipastikan belum menjual Pertalite pada 1 Mei. Assistant Manager External Relations Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Heppy Wulansari mengatakan, Pertalite sementara hanya didistribusikan di Jakarta.

Itu pun, kata Heppy, sepertinya tidak dimulai 1 Mei nanti. Menurut dia, MOR V masih menunggu kepastian dari pemerintah dan Pertamina pusat. Jika sudah ada kejelasan roadmap, pihaknya menyampaikan informasi lebih lanjut soal Pertalite.

Marketing Branch Pertamina Regional Bali dan Nusa Tenggara Iwan Yudha Wibawa menambahkan, pihaknya belum menerima arahan apa pun tentang pendistribusian Pertalite di Bali. Jika ada SPBU di Bali yang mengosongkan tangki untuk Pertalite, itu tidak benar.

"Kita meminta SPBU untuk menyiapkan ketersediaan produk Pertamax dulu. Jika ada yang bilang tangki kosong untuk Pertalite, itu mungkin karena beritanya sudah ramai di media sehingga pengawas dan petugas ikut terpengaruh informasi tersebut," ujar Iwan.

Pertamina Regional Bali, kata Iwan, mengarahkan pengusaha SPBU menyiapkan produk selain Premium, khususnya Pertamax dan Pertamax Plus. Itu ditempuh karena animo masyarakat untuk mengonsumsi Pertamax kian meningkat.

Merespons penjualan Pertalite, sejumlah sopir angkot di terminal angkutan Ubung, Denpasar, Bali, menolak rencana pemerintah mengalihkan Premium ke Pertalite. Saat ini, satu liter Premium Rp 7.400 sedangkan Pertalite diperkirakan Rp 8.000 per liter.

Nyoman Rai (50), sopir angkot, kurang setuju peralihan ke Pertalite karena harganya lebih mahal sehingga biaya operasional meningkat sedangkan penghasilan minim. rep: Neni Ridarineni, Mutia Ramadhani c10/c18/c21/c25/antara ed: ferry kisihandi

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA