Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Pertamina Mengaku Rugi

Selasa 23 Dec 2014 12:00 WIB

Red:

  Suasana tempat pengeboran minyak di kawasan Cemara Indramayu PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat. (Republika/Raisan Al Farisi)

Suasana tempat pengeboran minyak di kawasan Cemara Indramayu PT. Pertamina EP Asset 3 Field Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat. (Republika/Raisan Al Farisi)

JAKARTA -- Pertamina mengakui penghentian produksi dan impor bensin beroktan RON 88 (Premium) seperti diusulkan Tim Reformasi Tata Kelola Migas akan membuat mereka rugi. Perusahaan negara itu harus mengimpor RON 92 (Pertamax) lebih besar dan mahal.
 
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko menilai, penghapusan RON 88 akan mengakibatkan naiknya impor bahan bakar minyak (BBM) karena kilang dalam negeri tidak bisa secara optimal mengolah RON 92. Selama ini, kilang lebih banyak mengolah RON 88 yang merupakan pencampuran RON 92 dan Naphtha.

Dia mengungkapkan, konsumsi BBM bersubsidi jenis Premium pada 2014 sekitar 30 juta kiloliter (kl). Sementara olahan Pertamina hanya sekitar 10 juta kl.  ''Kita Impor sekitar 20 juta kl,'' kata Suhartoko kepada Republika,  Senin (22/12).

Alhasil, dengan peralihan ke RON 92, pengolahan RON 88 di kilang Pertamina akan semakin menipis. Artinya, produksi kilang kian minim dan impor BBM semakin meningkat. Selain itu, kata dia, impor RON 92 akan membengkakkan biaya pembelian.

Saat ini harga RON 88 senilai 98,42 persen dari Ron 92. Apabila setahun konsumsi 30 juta kl, berarti sekitar Rp 8 triliun dana tambahan yang akan dikeluarkan. Meski demikian, kata dia, Pertamina siap mengikuti kebijakan pemerintah.  Waktu lima bulan yang diberikan tim transisi pun dirasa cukup untuk penyesuaian. 

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia (KSPMI) Faisal Yusra menyatakan, penghapusan RON 88 tak bertahap berpotensi menghancurkan bisnis BBM  Pertamina. Menurutnya, kilang minyak di Indonesia sudah tua dan hanya bisa menghasilkan produksi RON 92-96 sebesar 200 ribu per bulan.  Yusra mengatakan, jika Premium RON 88 dihilangkan, maka produk valuable Kilang Pertamina akan jeblok atau hancur. Akibatnya, pesaing (pihak asing) akan merajalela.

Sebelumnya, Tim Reformasi Tata Kelola Migas mengusulkan untuk menghentikan impor RON 88 dan mengalihkan produksi bensin beroktan rendah itu ke RON 92.  Penghentian ini dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kartel. Menurut Tim, harga RON 88 tidak memiliki patokan dasar yang jelas.

RON 88 hanya mengikuti acuan Means of Plats Singapore (MoPS) Mogas 92 di Singapura.  Indonesia mengimpor RON 88 dari Singapura melalui fasilitas blending yang disewa anak perusahaan Pertamina Petral. 

Berbeda dengan Pertamina, menurut Tim, jika Indonesia beralih ke RON 92, pilihan harga terbuka, tidak hanya di Singapura. Dengan begitu harga impornya bisa lebih murah dari RON 88.  Tim memberikan waktu lima bulan masa transisi kepada Pertamina.

Menteri Koordinator Perekenomian Sofyan Djalil menilai, spesifikasi kilang minyak di Indonesia masih rendah alias belum bisa memproduksi BBM jenis Pertamax.  Untuk itu, penghentian pemakaian bensin beroktan RON 88 (Premium) tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. "Kita harus memberikan waktu kepada Pertamina memperbaiki kilang. Pada saat yang sama, kami beri kesempatan kepada mereka tetap memproduksi dengan kualitas rendah (RON 88)," ujarnya, Senin (22/12).  Dia mengakui untuk menambah pasokan Premium,  Indonesia mengimpor RON 92 dan mengoplosnya dengan bahan tertentu (Naphtha) sehingga menjadi RON 88. 

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, Senin (22/12), pemerintah masih mempelajari usulan ini. Kendati begitu JK mendukung rencana penghapusan Premium. Menurut JK, rekomendasi penghapusan Premium bagus untuk menjaga kualitas kendaraan

Sementara sejumlah pengelola SPBU yang ditemui Republika umumnya tak masalah. Salah satu SPBU di Karang Jangkong, Mataram, NTB, misalnya, tak bermasalah bila Premium di setop. Ini karena fasilitas mereka sudah memadai.  "Tidak masalah, tinggal dikuras (tangki) saja pengisian bahan bakarnya," ujar staf SPBU, Senin (22/12).

Hal sama juga diungkapkan sejumlah pengelola SPBU di Bali dan Surabaya. 

n c71/c81/c75/c54/mursalin yasland/ahmad baraas/antara/s bowo pribadi/dessy suciati saputri rep: aldia wahyu ramadhan, satria kartika yudha ed: teguh firmansyah

***
Kapasitas Kilang Pertamina

Kemampuan Produksi RON 92-96 : 200 ribu barel per bulan

Kemampuan Produksi Naphtha dan RON sekitar 75:3,5 juta barel per bulan.


Pembuatan dan Pengadaan RON 88

- RON 88 dibuat dengan mencampurkan RON 92 dan Naphtha.

- RON 88 diimpor dari Singapura dan juga diproduksi di dalam negeri oleh Pertamina. 

Sumber: Tim Reformasi Tata Kelola Migas/KSPMI

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA