Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Sejuta Impian untuk Sang Ibu

Kamis 22 Dec 2016 16:00 WIB

Red:

Keberhasilan seseorang tidak pernah terlepas dari orang-orang terdekatnya. Hal inilah yang dirasakan sejumlah anak-anak berprestasi atas kehadiran keluarganya, terutama Sang Ibu.

Salfia Rahmawati merupakan salah satu pemudi berprestasi yang di dalam benaknya masih memiliki sejuta impian untuk Sang Ibu. Terlebih lagi saat dirinya mendapatkan fasilitas mewah atas prestasinya.

"Setiap kali saya berada di bangunan mewah, atau di acara megah, sejujurnya saya selalu teringat ibu saya," kata pemenang Professional Programme for Cultural Activist to New Zealand, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)  2016 ini.

Dalam ingatan pemilik akun Instagram @rahmasalfia, ibu acap menjadi orang belakang yang selalu membersihkan dan menyiapkan  makanan di suatu keluarga.  Ibu juga selalu melayani setiap ada pesta, arisan keluarga atau sekadar kumpul teman dan datang tamu dari majikan tempatnya bekerja.

Dari hal inilah, Salfia memiliki sejuta impian yang diharapkan dapat tercapai sesegera mungkin untuk ibunya. Perempuan berhijab ini menceritakan, selama ini ibunda biasa menyiapkan isi koper perjalanan ke luar negeri dan segala sesuatunya untuk majikannya. Suatu saat, ia berharap  dapat menyiapkan isi koper ibu ke negara mana pun yang diimpikannya.

Ibu Salfia juga biasa membuatkan teh di pagi hari, mencuci dan menyeterika baju di siang hari serta aktivitas lainnya sampai malam hari di rumah majikannya. Dari hal ini, muncullah dalam benak Salfia agar ibu nantinya bisa menikmati secangkir teh hangat di pagi hari. Kemudian bersantai dengan teman tetangga di siang hari dan menikmati pemandangan bunga serta buah di kebun sendiri.

Begitu banyak impian dan harapan yang ingin dicapai  Founder Komunitas Aksarakoe ini kepada ibunya. Sebab, ibu merupakan alasan terkuat Salfia untuk tidak menyerah di tengah keterbatasan.

Segala pencapaian Salfia selama ini tak pernah lepas dari keringat siang dan tirakat malam sang ibu. Menurut Salfia, ibunya bukan dari kalangan berpendidikan yang tingkat SD pun tidak tamat. Ibunya juga tidak tahu apa itu IPK, cumlaude dan sejumlah penghargaan yang selama ini Salfia dapatkan saat menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI).

Hanya satu yang sang ibu tahu dan harapkan, yakni anaknya bisa berpendidikan dan bermanfaat untuk orang lain. Tapi, justru dari sesederhana 'berpendidikan dan bermanfaat untuk orang lain' itulah yang terus mendorong Salfia untuk berprestasi.  "Ibu adalah segalanya buat saya," ucap pembicara muda dalam forum Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 ini.

Selain Salfia, terdapat pula Dini Hanifa yang sampai saat ini tengah merintis kebahagiaan untuk Sang Bunda.  Sejumlah prestasi yang didapatkannya sejak sekolah dasar tentu tidak terlepas dari usaha Sang Ibu. "Ibu itu segalanya buat saya apalagi dia merupakan sekolah pertama untuk anak yang telah menanamkan nilai keislaman untuk saya," kata Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini.

Dini mengatakan, ibunya memang tak banyak bicara, tapi bukan berarti tidak mendukung sekolah dan prestasinya. Perempuan berhijab ini tahu bahwa Ibu selalu berdoa, usaha, dan puasa demi keberhasilannya.

Hal ini terlihat  jelas saat dirinya hendak masuk kuliah dan sempat terkendala biaya daftar ulang. Sebelum di UI, Dini yang memiliki akun Instagram @dinihanifakarim terlebih dahulu menjadi mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Jurusan Akuntansi pada 2012.

Masuknya Dini di PNJ sebenarnya bukan keinginan hatinya. Dia telah berkali-kali mengikuti tes ujian masuk UI untuk bisa menjadi mahasiswa ekonomi di kampus tersebut. Namun, karena kegagalan itu, sang Ibu meminta Dini agar dirinya dapat mengisi waktunya menjadi mahasiswa PNJ sembari menunggu ujian masuk UI tahun depan.

Pada masa menunggu itu, perempuan berhijab ini berupaya mengisi waktunya sebaik mungkin sebagai mahasiswa PNJ. Sejumlah perlombaan dia ikuti hingga dirinya dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres) PNJ 2014.

Hal ini tentu berdasarkan sejumlah prestasi yang pernah didapatkannya seperti Special Award dari Universitas Toronto Kanada 2013, peraih medali emas Korean Cyber Genius Inventor Fair dari Korean Inventor News dan sebagainya. 

Sejumlah prestasi ini ternyata tidak menyurutkan Dini untuk mencoba kembali menjadi mahasiswa UI. Meski sempat meragu, dia pun memutuskan mengikuti kembali hingga akhirnya diterima pada jurusan psikologi di 2014.

Hasil ini membuat dirinya bingung antara meninggalkan PNJ atau menjadi mahasiswa UI. Dari momen ini, bantuan Sang Bunda hadir untuk memberikan pencerahan yang tak terduga untuk dirinya. "Kalau dua kuliah kamu kuat nggak?" kata Dini mengingat ucapan Sang Bunda yang tak disangka-sangka.

Dari saran Sang Ibu, Dini pun akhirnya menetapkan pilihannya pada dua kampus tersebut. Sebagai wujud terima kasihnya, Dini bercita-cita menghadiahkan ibunya sebuah hadiah. Hadiah ini telah dinantikan ibu sedari lama darinya, yakni mampu menghafal Alquran. Saat ini Dini masih berjuang keras menghafal 30 juz dari ayat suci umat Islam ini.

"Sekarang baru masuk juz lima pada surah an-Nisa dan di momen hari Ibu nanti semoga saya dapat menghafalnya dengan lancar.  Di momen hari Ibu nanti saya mau persembahkan surah an-Nisa yang berarti perempuan ini kepada umi (Ibu). Dan, isi dari surat ini sendiri tentang cara memuliakan perempuan," ujar Alumnus SMAN 55 Jakarta ini.

Sang motivator

Saat ini mahasiswi semester satu dari Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), Patricia Tiara Puspita, tengah disibukkan dengan kegiatan penelitianya terbarunya, terkait dengan mengubah sumber energi panas menjadi energi listrik. Ia bersama dengan dosen di kampusnya, akan terus mendalami penelitian yang masih seumur jagung ini.

Soal penelitian, memang bagi remaja yang akrab disapa Yaya ini bukanlah hal yang biasa. Sebelumnya pemilik akun @patricia_tiara.yaya sempat meraih medali perunggu dalam kompetisi International Conference of Young Scientists (ICYS) 2016 di Cluj-Napoca, Rumania dalam bidang Physics Engineering.

Saat kemenangan tersebut, Yaya masih menyandang status sebagai siswi dari SMA St. Alyosius 1 Bandung. Ia menghabiskan waktu selama dua tahun untuk penelitian Nono Box, sebuah alat untuk menyaring udara agar bisa memiliki daya serap yang jauh lebih besar.

Semenjak masa SMA sampai kuliah, Yaya memang berada jauh dari Ibunya, Anastasia Mariawati. Ibunya tinggal di Brebes, Jawa Tengah, sedangkan Yaya dari SMA tinggal di Bandung, dan kini juga tinggal sendiri di Jakarta.

Namun, Ibu menjadi sosok yang paling terpenting dalam kehidupannya, tanpanya Yaya tidak bisa meraih pencapaian hingga sejauh ini. "My mom is my motivator. Dia selalu berdoa banyak buat saya, di mana pun saya ada masalah, saya akan cerita pada ibu saya," kata mahasiswi berusia 18 tahun ini.

Semua momen bersama dengan ibunya menjadi sesuatu hal yang berkesan bagi Patricia. Namun, ia tidak pernah melupakan jasa ibunya, salah satunya ketika Yaya harus mempersiapkan diri mengikuti kompetisi ICYS ke Rumania, dan pada saat yang sama ia juga harus menempuh ujian akhir sekolahnya.

Anastasia datang memberikan makanan, untuk memastikan Yaya mendapatkan nutrisi yang cukup, ia menemani Patricia selama dalam masa kesibukannya. Ibunya datang menemaninya yang tengah sibuk belajar setiap harinya.

Dalam beberapa kesempatan memang terkadang ia berselisih pendapat dengan ibunya, tetapi ia pun harus bisa belajar mengalah. Menurut Yaya, ia tidak perlu menanamkan rasa ego yang tinggi pada ibunya, karena Patricia sadar, menjadi ibu bukanlah hal yang mudah.

"Saya ada pengalaman ngajarin anak-anak di desa, itu saya ikut kegiatan di SMA. Ternyata susah jadi guru, apalagi ibu, seorang ibu juga menjadi guru, dia ngajarin kita bicara, berjalan, belum lagi kalau kita bandel. Selain itu, dia juga capek dengan kerjaan, jadi pikiran pusing," ujar Patricia.

Selain Patricia, ada pula gadis muda berprestasi bernama Syahrazah Kirana Marnisi. Oktober lalu, siswi SMAN 1 Yogyakarta ini mengikuti Kompetisi Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) bagi para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia menampilkan penelitian dari sistem penetral limbah deterjen, menggunakan microcontroller ATMega 328 pada arduino uno dan solenoid valve.

Sampai saat ini, Syahrazah masih terus mengembangkan penelitian sistem penetral limbah ini. Hingga sejauh ini, pencapaian yang telah didapatkan, memang tidak terlepas dari peran seorang ibu. Syahrazah mengganggap ibunya, Nervi Mei Yuliyani sebagai motivator dalam hidupnya.

"Ibu itu punya peran yang sangat besar dalam kehidupan saya. Ibu salah satu motivasi saya dalam meraih mimpi-mimpi saya. Ibu selalu ada kapan pun saya butuh, dan selalu mengerti saya," kata Syahrazah.     rep: Wilda Fizriyani, Rossi Handayani, ed: Ichsan Emrald Alamsyah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA