Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Gen-Y Alergi Politik?

Selasa 24 May 2016 17:07 WIB

Red: operator

Suara populasi muda akan menentukan banyak arah kebijakan.

 

Stereotip tentang politik telanjur tertanam dalam benak. Politik disebut sebagai kotor, kejam, dan penuh tipu daya. Benarkah begitu? 

Mereka yang berkecimpung di ranah politik pun angkat bicara. "Mulai dari harga beras, minyak goreng, sampai biaya pendidikan adalah bagian dari kebijakan politik," ucap Sandiaga Uno, pengusaha yang kini mulai terjun kedunia politik, saat menjadi pembicara di Pa ramadina Graduate School, SCBD, Jakarta, belum lama ini.

Maka, dia pun menyayangkan bila anak muda sekarang cenderung apatis dan enggan berurusan dengan politik. Apalagi, konon Generasi Y (Gen-Y) atau kita-kita yang lahir di era 1977-1997 tak sedikit yang mengidap alergi politik. Sandiaga pun mewanti-wanti, "Generasi muda jangan alergi politik."

Pria kelahiran Pekanbaru, 28 Juni 1969 itu memaparkan, anak muda idealnya perlu aktif berpartisipasi politik. Sayangnya, kondisi itu belum tercapai yang terlihat dari rendahnya jumlah pemilih muda dalam pemilu.

Ia menyebutkan data, dari 186,5 juta pemilih terdaftar dalam pemilu 2014, terdapat 25,7 persen pemilih yang berusia 17 sampai 30 tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11,7 persen adalah pemilih pemula yang berusia 17 sampai 21 tahun.

Meski begitu, Sandi mengungkap ada kanal lain tempat anak muda menyalurkan partisipasi politiknya. Gen-Y banyak menggunakan media sosial sebagai instrumen untuk membahas berbagai isu sosial dan politik.

Soalnya, media sosial menyediakan platform untuk berkomunikasi tentang apa saja dan dengan siapa saja. Gen-Y, kata Sandi, menggunakan media sosial ketika mengkritik kebijakan, menyoroti masalah sosial, sampai membuat dan menandatangani petisi daring.

Menurut dia, partisipasi politik Gen-Y sangat penting karena suara populasi muda akan menentukan banyak arah kebijakan. Mulai dari pendidikan, ketenagakerjaan, sampai kesehatan. "Di masa depan, Gen- Y akan menjadi pengambil keputusan penting untuk bangsa Indonesia," ucap peraih gelar Master of Business Administrationdari George Washington University tahun 1992 itu.

Pengamat politik Gun Gun Heryanto mengungkap beberapa hal yang menyebabkan sebagian generasi muda masih alergi politik. Pertama adalah ketidaksinkronan antara karakteristik Generasi Y dan politik Indonesia.

Dosen pada Program Pascasarjana Komunikasi Universitas Paramadina itu mengatakan, Gen-Y punya kecenderungan tidak menyukai pemimpin bergaya aristokrat dan elitis. Namun, pola demikian masih tampak pada lembaga pemerintah atau partai politik tertentu.

Anak muda yang rata-rata punya karakter lebih bebas, menyukai jejaring, dan menjadikan inovasi sebagai gaya hidup juga sangat memerhatikan integritas sosok tertentu. Begitu ada figur publik yang melakukan hal buruk atau pelanggaran hukum, citranya akan segera tercoreng di mata mereka.

"Generasi ini juga menyukai pola komunikasi yang menyenangkan, interaktif, dan timbal balik," kata Gun Gun yang menamatkan studi doktor di jurusan Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran Bandung.

Agar anak muda lebih aktif berpartisipasi politik, Gun Gun merekomendasikan untuk mengombinasikan basis komunikasi fisik dan daring. Misalnya, menindaklanjuti forum diskusi daring yang sudah banyak lahir di media sosial dengan kegiatan kopi darat.

Selain itu, inisiatif virtual di media sosial seperti petisi daring dan semacamnya perlu diwujudkan dalam aksi konkret. Penggagas petisi bisa mengajak para penandatangan untuk melakukan gerakan nyata guna mengubah kebijakan yang mereka protes. "Dua bentuk par tisipasi politik, baik virtual maupun fisik, punya ke terhubungan yang sangat signifikan," katanya. c34, ed: Endah Hapsari

 

 

KRITIK Lewat Meme

Partisipasi politik ternyata tidak harus kaku dan `berat'. Menurut pengamat politik Gun Gun Heryanto, cara sederhana seperti lewat memejuga bisa jadi alat partisipasi politik bagi generasi muda.

Malah, kata Gun, meme(baca: mim) bisa lebih kena dan menohok.

Alih-alih serius, kelucuan sarkastik dalam sebuah memebisa membuatnya mudah dimengerti banyak orang.

"Bagi sebagian anak muda, kritik lewat dialog televisi mungkin terlalu hard. Jadi, mereka coba sharingpandangan mereka dengan membikin meme di media sosial," ucap dosen kelahiran Cianjur, 12 Agustus 1976 itu.

Ia menyampaikan, tak sedikit kalangan muda yang memakai cara ini dalam berpartisipasi politik. Mereka menyimak isu atau kebijakan tertentu, lalu mengomentarinya dengan membuat meme.

Meme, berasal dari mimema, di internet merujuk pada pranala, video, gambar, laman web, tanda pagar (tagar), atau kata-kata yang tersebar luas di internet. Istilah memepertama kali dicetuskan oleh Richard Dawkins pada tahun 1976 melalui bukunya yang berjudul The Selfish Gene.

Kaitannya dengan politik, ucap Gun, memebiasanya mengkritisi kebijakan yang dianggap tidak masuk akal dan kurang nyambung dengan keinginan publik. Mulai dari isu sentral, putusan hakim, sampai sikap konyol pejabat publik serta kandidat politik, semua bisa dibuat meme. "Bagi saya, memeadalah ekspresi demokrasi dan partisipasi politik nonkonvensional yang menarik," ucap penulis buku berjudul 10 Tokoh Transformatif Indonesiaitu. c34, ed: Endah Hapsari

 

 

 

TEUKU AZRIL

Politik Ibarat Saraf Tubuh

Meski banyak pemuda yang alergi politik, tidak demikian dengan Teuku Azril. Pria asal Aceh ini sepakat bahwa generasi muda harus aktif berpartisipasi dalam kancah politik demi masa depan bangsa. "Saya tidak pernah menganggap politik kotor, politik itu penting ibarat saraf dalam tubuh," ucap Azril yang lahir di Singapura pada 12 Maret 1989 itu.

Tanpa saraf, kata Azril, sistem tubuh manusia tidak akan berjalan baik. Begitulah ia memaknai politik yang disebutnya sebagai penggerak banyak sektor, mulai hukum hingga ekonomi.

Sarjana hukum lulusan Monash University Malaysia itu bersinggungan dengan dunia politik sejak belia.

Ketika masih duduk di bangku SMA di Aceh, Azril sudah belajar tentang seluk-beluk politik dengan sejumlah politisi.

Ketua Umum LSM Save Our Indonesiatersebut juga pernah menjadi anggota organisasi sayap salah satu partai politik. Saat ini, ia malah terdaftar sebagai kader salah satu parpol dan berencana mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI pada 2019 mendatang.

Rencana itu dilatari keyakinan Azril bahwa pemuda harus hadir secara konkret dalam pemerintahan. Ia mendapati banyak wali kota, bupati, dan anggota legislatif muda yang terbukti bersih, bisa memperbaiki sistem, juga memberi warna di parlemen.

Menyoal partisipasi politik di media sosial, Azril mengaku kerap menuliskan komentar tentang isu terkini. Akan tetapi, ia menyayangkan masih banyak perisakan yang bermunculan atas pernyataan spontan yang ia lontarkan.

"Sebagian ada yang komentarnya menghujat, ada juga yang secara halus. Saya biasa saja menanggapinya, enggakserius-serius sekali,"

ucap Azril yang pernah beberapa kali trial and errorsaat mencari karakter partai yang sesuai dengan idealismenya. c34, ed: Endah Hapsari

 

 

 

ULFAH DWITYANINGSIH JUNAIDI PUTRI

Tahu Isu Politik dari Medsos

Media sosial tidak hanya bisa digunakan untuk berinteraksi dengan kawan, tetapi juga meninjau berbagai isu politik. Paling tidak, itulah yang dilakukan oleh Ulfah Dwityaningsih Junaidi Putri.

Ulfah, panggilannya, memang sangat aktif di media sosial. Dari sejumlah tagar, gambar, atau tautan yang beredar di internet, ia mendapat informasi mengenai permasalahan yang sedang hot, termasuk di bidang politik.

"Jadi penasaran apa yang sedang kejadian dan biasanya segera saya cari info lengkapnya dengan baca berita," kata mahasiswi 21 tahun yang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina itu. 

Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Paramadina Social Care tersebut berpendapat, saat ini sangat banyak memeunik bermunculan terkait isu politik. Ia suka mengaksesnya dan cukup menikmati karya kreatif yang dibuat dengan tujuan have funitu.

Di sisi lain, ada banyak memeyang menurut Ulfah sudah kelewatan dan menyerang sosok pribadi. Meme yang kadar lucunya berlebihan itu, disebut Ulfah perlu dibatasi dan bahkan diberi sanksi jika keterlaluan. 

Meski tidak sering mengutarakan pandangan politiknya di media sosial dan termasuk tidak suka berdemo, Ulfah menganggap dirinya cukup baik dalam partisipasi politik. Ia aktif mencoblos saat gelaran pemilu dan tidak sepakat dengan sikap golput.

"Menurut saya, sayang bangetkalau generasi muda tidak menggunakan kesempatan mereka menyampaikan aspirasi," katanya. c34, ed: Endah Hapsari

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA