Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Selasa, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Bank Siap Turunkan Bunga

Senin 28 Mar 2016 17:15 WIB

Red:

JAKARTA--Tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengumumkan rencana untuk menurunkan suku bunga kredit. Penurunan ini menyusul turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 6,75 persen dan juga untuk mendorong perekonomian domestik.

Bank Mandiri menyatakan akan menurunkan suku bunga kredit 25 hingga 50 basis poin yang disesuaikan dengan sektor bisnis. Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, langkah ini merupakan awal dari penerapan suku bunga rendah oleh Bank Mandiri.

Melalui suku bunga rendah, kata Rohan, diharapkan mampu meningkatkan fungsi intermediasi Bank Mandiri. "Penurunan suku bunga kredit 25 hingga 50 basis poin akan memerhatikan sektor-sektor yang paling ideal untuk diturunkan segera," ujar Rohan Hafas, Ahad (27/3).

Rohan memastikan bahwa kinerja Bank Mandiri tidak akan terpengaruh oleh penerapan suku bunga rendah ini karena perseroan juga mendorong peningkatan sumber dana murah. "Mudah-mudahan, pada semester II tahun ini, suku bunga kredit Bank Mandiri akan berada di single digit secara merata di semua segmen," katanya.

Saat ini, Bank Mandiri memulai penerapan suku bunga rendah single digit dengan mengoptimalkan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk membantu pendanaan sektor UMKM dengan bunga yang ditetapkan sebesar sembilan persen. Tahun ini, Bank Mandiri akan menyalurkan KUR hingga Rp 13 triliun, meningkat dibandingkan alokasi tahun lalu sebesar Rp 3,5 triliun.

Pada akhir tahun lalu, Bank Mandiri mencatatkan penyaluran kredit hingga Rp 595,5 triliun, tumbuh 12,4 persen dari posisi 2014 senilai Rp 530 triliun. Perseroan terus memacu pembiayaan ke sektor produktif karena pada akhir 2015, kredit ke sektor produktif tumbuh 13 persen mencapai Rp 463,8 triliun.

Adapun, kredit investasi tumbuh 14,2 persen dan kredit modal kerja tumbuh 12,3 persen. Sektor terkait infrastruktur, yaitu konstruksi mencatat akselerasi pertumbuhan sebesar 4,2 persen, diikuti oleh industri pengolahan sebesar 21,7 persen.

Dilihat dari segmentasi, kenaikan penyaluran kredit terjadi di seluruh bisnis dengan pertumbuhan tertinggi pada segmen mikro yang mencapai 22,9 persen menjadi Rp 42,5 triliun pada Desember 2015. Jumlah nasabah kredit mikro juga meningkat sebanyak 1.108.992 nasabah. Sementara, kredit yang tersalurkan untuk segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencatat pertumbuhan sebesar 3,2 persen menjadi Rp 75,8 triliun.

"Kami berharap, langkah yang kami lakukan ini juga diikuti bank-bank lain di Indonesia sehingga upaya kita bersama untuk mampu mendorong perekonomian Indonesia dapat tumbuh lebih baik dapat terwujud," ucap Rohan.

Sementara, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyatakan siap untuk menurunkan suku bunga kredit menjadi single digit. Upaya ini untuk mendukung imbauan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. "Kami telah melakukan langkah-langkah mengarah ke suku bunga kredit single digit pada akhir tahun ini. Pertama, kita melakukan efisiensi biaya overhead cost (biaya operasional serta produksi) bank," ujar Direktur Utama BRI Asmawi Syam, pekan lalu.

Perseroan juga akan mencari sumber pendanaan yang murah dan meningkatkan penghimpunan dana murah atau current account savings account (CASA). Selain itu, perseroan juga akan lebih aktif melakukan ekspansi dengan melakukan pembukaan unit kerja khusus di bidang mikro atau penyaluran KUR.

Ia menambahkan, perseroan juga akan memperluas ekspansi dengan melakukan pembukaan unit-unit kerja khusus di bidang mikro sehingga penyaluran KUR dapat lebih cepat. Per 21 Maret 2016, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 20,27 triliun atau mencapai sekitar 40 persen dari target penyaluran kredit pada tahun ini.

Selain itu, faktor eksternal untuk mendorong suku bunga kredit bank di Indonesia menjadi single digit juga didukung faktor eksternal, yakni pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), giro wajib minimum (GWM), hingga pemberian insentif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada perbankan yang bisa menurunkan SBK, menambah pemicu perseroan untuk melakukan efisiensi.

Ia mengatakan, hal ini menyangkut banyak faktor, yakni internal dan eksternal bank. Dari internal bank, akan melakukan strategi efisiensi untuk menciptakan daya saing di bidang bunga. Faktor eksternal, ada kebijakan penurunan BI Rate, GWM, dan insentif dari OJK.

PT Bank BNI memiliki rencana untuk menurunkan suku bunga kredit bagi yang berjenis kredit kecil yang bernilai sampai dengan Rp 5 miliar pada April 2016. "Kita turunkan suku bunga kredit hingga berada di bawah 10 persen untuk kredit kecil yang jumlahnya sampai dengan Rp 5 miliar pada April," kata Direktur Utama Bank BNI Ahmad Baiquni.

Sementara, untuk suku bunga deposito pasar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Baiquni mengatakan, nilainya diprediksi akan mengalami penurunan sampai akhir tahun seiring dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate. "Prediksi saya, sampai akhir tahun nanti akan terjadi penurunan karena BI Rate sendiri kan sudah mengalami penurunan," katanya.

Mantan menteri keuangan Chatib Basri menilai, jika penurunan tingkat suku bunga tidak perlu melalui regulasi pemerintah, nantinya akan terjadi melalui mekanisme pasar.

"Biarkan saja prosesnya melalui pasar. Kalau makronya stabil, nanti bunganya juga turun. Sabar saja," ujar Chatib Basri seusai memberikan seminar internasional "Structural Reform in Emerging Asia" di Kompleks Bank Indonesia (BI), Rabu (23/3).

Menurut mantan menteri keuangan 2013-2014 ini, suku bunga rendah bisa mengakibatkan kanibalisme. Sebab, jika bunganya rendah, bank hanya berani meminjamkan ke sektor yang risikonya rendah. Akibatnya, bunga yang rendah itu akan diberikan oleh bank kepada nasabahnya yang sudah lama.

"Tapi, nasabah baru yang belum dikenal tidak diberi pinjaman. Padahal, idenya supaya kreditnya bisa bertambah," ujarnya.

Penurunan suku bunga acuan yang hingga tiga kali pada awal tahun ini, dinilainya, merupakan langkah yang tepat. Apalagi, dengan adanya negative interest rate di Jepang dan Eropa yang akan mengakibatkan capital inflow masuk ke Indonesia.

Jika BI tingkat bunganya terlalu tinggi, lanjut Chatib, akibatnya capital inflow-nya terlalu banyak dan yang terjadi adalah hot money (uang panas). "BI antisipasinya dengan kebijakan mengurangi tingkat bunganya secara perlahan," katanya.

Sehingga, dengan inflasi yang sudah lebih rendah dan terkendali, kata Chatib, BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali menjadi 6,75 persen dan pasar akan menurunkan suku bunga. C37/antara ed: Ichsan Emrald Alamsyah

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA