Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

Thursday, 6 Zulqaidah 1439 / 19 July 2018

Gus Dur, dan Mbah Hasyim dalam Kenangan

Selasa 10 January 2017 14:00 WIB

Red:

Sejumlah lukisan Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dipamerkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (8/1). Pameran ini memeriahkan acara haul Gus Dur yang ke-7 di pesantren yang didirikan Kiai Hasyim Asy'ari itu.

Ada puluhan lukisan yang dipajang di lantai dasar gedung KH Yusuf Hasyim, area Pesantren Tebuireng tersebut. Sejumlah tokoh seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Yusuf Hasyim, Gus Dur, KH Ishak Latif, dan kaligrafi serta pemandangan terpajang dengan rapi.

Salah seorang pelukis, M Rozi mengemukakan, pameran ini memeriahkan haul Gus Dur. Ada beragam cara untuk menikmati karya seni ini. "Ada yang baru dapat dilihat dengan jelas kalau jarak pandangnya minimal dua meter," kata dia sembari menunjukkan lukisan KH Yusuf Hasyim.

Bila disaksikan dari jarak dekat, gambar tersebut malah kurang jelas. Pameran lukisan ini diharapkannya mampu membuat masyarakat mengenang jasa Gus Dur dan tokoh lainnya. Gus Dur dikenang sebagai Presiden RI keempat. Dia merupakan tokoh yang menggaungkan reformasi dan toleransi keagamaan.

Paman Gus Dur, Kiai Yusuf Hasyim, merupakan 'alim yang meraih bintang gerilya. Almarhum berkontribusi memerangi kelompok komunis yang kerap menyerang pesantren. Dia juga dikenang sebagai petinggi Hizbullah yang merupakan kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia.

Tokoh lainnya adalah kakek Gus Dura tau ayah Kiai Yusuf Hasyim, yaitu Kiai Hasyim Asy'ari. Masyarakat kerap memanggilnya Mbah Hasyim. Warga mengenangnya sebagai pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama. Dia adalah tokoh yang mempersatukan ulama untuk melawan penjajahan.

Sya'roni, pelukis lainnya mengaku senang bisa menampilkan lukisannya. Terlebih lagi, lukisannya dipajang dalam momentum haul. Ia berharap, hal ini sekaligus memupuk bakat dan minat para santri. Selain pandai mengaji, mereka juga tetap bisa berkreasi dan mendalami seni.

Dia mengatakan, seni bukan semata-mata mengekspresikan keindahan membuat sketsa. Lebih dari itu, seni dapat mengolah jiwa agar semakin tunduk kepada keindahan ilahi yang tak tertandingi. Ketundukan ini akan semakin menyadarkan siapa pun agar semakin tunduk kepada kebesaran ilahi. "Ke depan, kami ingin ada komunitas alumni Tebuireng yang hobi melukis," ujarnya.

Selain dipajang, lukisan itu juga diperbolehkan untuk dibeli. Para penikmat lukisan bisa mendapatkan lukisan itu dengan harga yang relatif terjangkau, mulai belasan ribu hingga jutaan rupiah.

Pengurus PP Tebuireng, Kabupaten Jombang, Lukman mengatakan, pameran lukisan ini merupakan puncak acara haul Gus Dur yang sudah dilaksanakan pekan lalu. Acara itu dihadiri ribuan warga, ataupun para santri pondok dari berbagai daerah dan angkatan.

Mereka mengikuti acara yang diselenggarakan di kawasan pondok tersebut dengan tertib. Gema selawatan juga terus berkumandang saat haul berlangsung. Para hadirin membacakan tahlil, memunajatkan doa agar para pahlawan diterima di sisi Allah.

Haul juga dihadiri sejumlah tamu undangan. Mantan Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan yang merupakan teman akrab Gus Dur selama belajar di Universitas Al-Azhar Mesir, KH Sanusi Baco, hadir memberikan ceramah agama.

Selain itu, juga terdapat dua teman baik Gus Dur yang juga hadir, yaitu mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Libanon, Abdullah Syarwani, dan cendekiawan muslim, Habib Chirzin. Mereka menceritakan pengalaman hidupnya bersama Gus Dur.      antara, ed: Erdy Nasrul

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA