Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Guru Menulis

Menghidupkan Diponegoro dan Tan Malaka

Selasa 23 Sep 2014 12:00 WIB

Red:

Kapan Perang Diponegoro berlangsung? Tan Malaka dilahirkan di pulau mana? Itulah dua pertanyaan yang masih saya ingat saat saya duduk bangku sekolah dasar. Rupanya saya menemukan kembali pertanyaan ini saat mengukuti tes calon tenaga pengajar.

Sebuah pertanyaan yang mendorong anak didik menghafal angka (tanggal kejadian atau peristiwa) atau nama tempat. Pelajaran yang saya terima saat itu juga memberi kesan Perang Diponegoro sebagai perang "biasa" yang tidak berbeda dengan perang kemerdekaan lainnya. Ini hanya perang melawan dan mengusir Belanda dari tanah nusantara.

Namun, pengetahuan saya tentang Pangeran Diponegoro sontak berubah total usai membaca buku ( Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro1785-1855) (Penerbit Buku Kompas: 2014) karya Peter Carey yang merupakan versi "ringkasan" dari Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (Kompas Penerbit Gramedia: 2012) dari penulis yang sama. Saya merasa seakan-akan Pangeran Diponegoro belum wafat. Carey berhasil menghadirkan sosok Diponegoro lebih hidup, lebih berwarna, dan lebih lengkap.

Misteri kehidupan Tan Malaka juga terkuak berkat tulisan Harry A. Poeze dalam bukunya setebal 2.200 halaman yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta: 2008) sebanyak enam jilid. Padahal, buku ini merekam jejak Tan Malaka mulai tahun 1945 dan sesudahnya atau sekembalinya dari Moskow. Saya benar-benar kagum ketelatenan Poeze mengumpulkan serpihan kehidupan Tan Malaka dan mengemasnya menjadi referensi berkelas dan nyaman dibaca.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Peter Carey, Harry A Poeze, dan penulis-sejarawan Barat lainnya begitu piawai menghidupkan kembali sosok hebat Pangeran Diponegoro dan Tan Malaka? Jawabannya, karena mereka meneliti. Peter Carey menghabiskan 30 tahun untuk meneliti sejarah pangeran keturunan Keraton Yogyakarta itu, sedangkan Harry A Poeze membutuhkan 40 tahun.

Mengapa penulis Barat rela dan betah menghabiskan puluhan tahun untuk meneliti pahlawan dari negara lain? Mereka didorong oleh rasa ingin tahu (curiousity), bukan budaya menghafal sebagaimana yang terjadi pada pendidikan di Tanah Air. Kedua, pendidikan Barat mendorong orang mencintai pekerjaan mereka (passion). Passion itulah yang membakar tungku semangat terus menyala dan senantiasa mencintai pekerjaan. Ketiga, mereka sangat menghargai arti sebuah proses. Kegagalan sebuah penelitian bukanlah sebuah hal memalukan karena tidak semua penelitian membuahkan hasil.

Budaya Meneliti

PTK (Penelitian Tindakan Kelas), best practice adalah awalan yang tepat untuk mengungkit budaya meneliti di kalangan guru. PTK mendorong guru tidak hanya peduli terhadap masalah yang dihadapi anak didik, tetapi juga mencari solusi dengan memberi perlakuan-perlakuan tertentu kepada mereka.

Sejalan dengan PTK, best practice juga intinya merupakan "laporan" pengalaman nyata dalam memecahkan masalah pembelajaran dan pengelolaan kelas (guru), masalah di tingkat satuan pendidikan (kepala sekolah), dan masalah di level kepengawasan (pengawas sekolah).

Ketika kegiatan PTK dan best practice digarap berkesinambungan, saya yakin akan menumbuhkembangkan budaya meneliti dan literasi di kalangan pendidik. Meneliti dalam lingkup paling kecil (kelas) akan menjadi kebiasaan yang menyenangkan dan menggairahkan apalagi bila disertai insentif berupa lomba-lomba dan sejenisnya.

Oleh:Hernawati Kusumaningrum -Guru SMP Al Hikmah Surabaya

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA