Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Monday, 3 Rabiul Akhir 1440 / 10 December 2018

Ponpes Wali Songo Ngabar Ponorogo Memadu Ilmu Klasik dan Modern

Jumat 18 Dec 2015 16:00 WIB

Red:

Pesantren Salafiyah terkenal dengan khazanah keilmuan klasik yang dipegang teguh. Namun, bukan berarti ilmu-ilmu turats tersebut menjadikan santri yang tertutup dengan perkembangan dunia luar. Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo di Ngabar Jawa Timur adalah salah satu buktinya.

Pesantren yang sudah berusia 54 tahun ini telah sukses menunjukkan alumni-alumni yang cakap dan punya kredibilitas. Tak kurang dari 7.000 alumni di seantero dunia dengan berbagai profesi. Seperti guru, dosen, wartawan, praksi hukum, entrepreneur, dan politisi. Alumni yang terkenal seperti Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid dan Duta besar Republik Indonesia di Republik Arab Mesir Abdurrahman Mohammad Fachir.

Pondok Pesantren Wali Songo (PPWS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok Ngabar adalah salah satu pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Desa Ngabar, Kecamatan Siman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Pondok pesantren ini didirikan KH Mohammad Thoyyib dibantu ketiga putra beliau, yaitu KH Ahmad Thoyyib, KH Ibrohim Thoyyib, dan KH Ishaq Thoyyib.

Ponpes ini berdiri tanggal 4 April 1961 dan kemudian diwakafkan tanggal 6 Juli 1980. Hal menarik dari ponpes ini, semenjak awal berdiri hingga sampai sekarang, ponpes ini tak pernah berafiliasi dengan partai politik atau golongan manapun.

Pengasuh pondok pesantren (ponpes) KH Heru Saiful Anwar MA mengatakan, pendiri PPWS telah berjuang untuk melahirkan lembaga pendidikan semenjak masa penjajahan Belanda. Saat itu kondisi Desa Ngabar masih terbelakang, baik secara ekonomi, pendidikan, maupun sosial, apalagi dari segi pemahaman beragama. Kebiasaan masyarakat setempat soal berjudi, mabuk-mabukan, dan sebagainya adalah hal biasa di tengah masyarakat.

Inilah motivasi Kiai Thoyyib untuk membuat pesantren ketika prihatin melihat kondisi sosial-kultural masyarakat Ngabar. Untuk mewujudkan cita-citanya, putra-putra Kiai Thoyyib dikirim untuk menuntut ilmu ke pondok pesantren Salafiyah yang berada di Ponorogo, seperti Pesantren Joresan dan Pesantren Tegalsari dan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Saat ini kehadiran PPWS sudah menerangi Desa Ngabar dengan cahaya keilmuan Islam. Pondok Pesantren Wali Songo menjadi salah satu rujukan ilmu-ilmu Islam dan telah banyak melahirkan lulusan yang berkompeten.

Menurut Kiai Heru, yang menjadi fokus utama Ponpes Walisongo saat ini tetap berkutat pada peningkatan mutu di setiap lini. Menurut Kiai Heru, model peningkatan mutu tersebut dititikberatkan pada dua sisi, yakni internal dan eksternal.

"Sisi internal, yaitu peningkatan mutu lembaga bahasa, lembaga tahfidz, pengasuhan, lembaga pendidikan formal, dan penataan ulang fasilitas pergedungan. Sedangkan, sisi eksternalnya terkait dengan pengembangan jaringan. Misalkan, dalam waktu dekat ini kita akan bertemu Kedutaan Jepang di Indonesia," katanya kepada Republika, Rabu (9/12).

Menurut Kiai Heru, dalam rangka peningkatan mutu tersebut, Ponpes Walisongo sangat terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan. "Kita membuka diri untuk bekerja sama dengan berbagai kalangan. Sehingga, pencapaian mutunya akan semakin cepat dilakukan," ujarnya.

Tak hanya di bidang kognitif, pengembangan life skill dan keterampilan para santri juga mendapat perhatian serius. Kiai Heru berkeinginan pesantrennya juga punya basis ekonomi yang kuat yang dihidupkan para santri. Misalkan, pengembangan beberapa unit ekonomi yang saat ini dikelola.

Ponpes Walisongo sudah memiliki unit ekonomi yang sedang berkembang, mulai dari minimarket, Walisongo Business Center, penginapan, konveksi, hingga peternakan dan pertanian. "Semua ini dimaksudkan untuk memperkuat fondasi ekonomi pesantren. Ini menjadi salah satu dari skala prioritas Pesantren Ngabar menyongsong 2016 akan datang," jelas Kiai Heru.

Hal ini sesuai dengan amanat yang dipesankan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ketika meresmikan Gedung Andalusia di Asrama Putri dan Peresmian Gedung Madinah di Asrama Putra dalam rangkaian Milad Pondok Ngabar ke-54 tahun 2015. Menag memesankan agar Pesantren Ngabar meningkatkan perannya untuk berkontribusi pada masyarakat dan bangsa. Menurut Menag, Pesantren Ngabar adalah bentuk konkret kontribusi pendidikan pesantren sebagai model pendidikan masa depan generasi bangsa Indonesia.

Saat ini Ponpes Walisongo diasuh tiga orang kiai: KH Heru Saiful Anwar MA, Drs KH Moh Ihsan MAg, dan KH Moh Tholhah SAg. Tiga orang pengasuh ini dipilih Majelis Riyasatil Ma'had sebagai lembaga tertinggi dengan masa kepemimpinan lima tahun.

Melihat rekam jejak dari pesantren ini, agaknya sudah begitu panjang perjuangan para pendiri serta kontribusinya dalam memajukan pendidikan bangsa. Awal merintis, lembaga pendidikan Islam yang pertama didirikan berupa Madrasah Diniyyah Bustanul Ulum Al-Islamiyah (BUI) pada tahun 1946. Awalnya, madrasah ini masuk sore lalu berubah pagi. Nama pun diganti menjadi Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda Al-Islamiyah pada tahun 1958.

Untuk menampung lulusan sekolah ini, pada tahun 1958 dibuka madrasah tingkat lanjutan yang bernama Tsanawiyah lil Mu'allimin. Kemudian berganti menjadi Manahiju Tarbiyatil Mu'allimin/Mu'allimat Al-Islamiyah pada tahun 1972. Pada tahun 1980 berubah lagi menjadi Tarbiyatul Mu'allimin al-Islamiyah dan Tarbiyatul Mu'allimat al-Islamiyah.

Sebelum tahun 1961, seluruh siswa yang nyantri berasal dari daerah sekitar Ngabar. Baru pada tahun 1961 datanglah sembilan orang santri yang berasalkan dari daerah di luar Ponorogo yang dengan sendirinya memerlukan tempat tinggal. Kedatangan mereka membuka lembaran baru dengan didirikannya secara resmi Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar 4 April 1961.

Pemilihan Wali Songo sebagai nama pondok ini bukan tanpa alasan. Para wali dianggap berjasa besar dalam penyebaran agama Islam, khususnya di Pulau Jawa. Perjuangan para wali ini sangat berkesan di hati pendiri Ponpes Ngabar hingga memberi nama Wali Songo. Nama itu juga didorong dua hal.

Pertama, keinginan mengingat jasa-jasa para wali dalam bidang dakwah Islam di Indonesia. Kedua, keinginan mewarisi sekaligus meneruskan semangat dan usaha para wali dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam. Selain itu, santri pertama yang datang ke pesantren ini ada sembilan orang dari berbagai daerah. n ed: hafidz muftisany

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA