Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Gracety Shabrina Pengabdian Sang Dokter Gigi Rimba

Jumat 18 Dec 2015 16:00 WIB

Red:

Tenaga kesehatan di daerah, utamanya pedalaman, masih minim. Salah satu penyebabnya, jarangnya tenaga kesehatan yang mau ditempatkan di wilayah pedalaman. Berbeda halnya dengan seorang Muslimah belia yang dijuluki rekan-rekannya dengan "Sang Dokter Gigi Rimba."

Muslimah bernama lengkap Gracety Shabrina melalui komunitas Dentist Day Out yang didirikannya telah menjelajah sedikitnya 60 desa di pedalaman se-Indonesia. Mereka memberikan pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan kepada warga pedalaman.

Gadis belia yang akrab disapa Grace ini mengaku ingin menuntaskan skripsi kedokterannya dengan cara yang berbeda. Ia memilih melakukan penelitian di daerah pedalaman suku Badui. Ia rela mengeluarkan dana lebih serta kerja ekstra dibanding teman-temannya. Alasannya, ia ingin menebar manfaat yang lebih luas, khususnya di bidang kesehatan gigi.

"Kalau ditanya alasan yang rasional, saya tidak punya. Entah apa alasannya saya mau mengeluarkan uang lebih banyak dari teman-teman yang lain untuk melakukan penelitian yang juga lebih susah dari yang lain. Itu semua karena saya cinta sama Badui," kata Grace kepada Republika, pekan lalu.

Keinginannya untuk meneliti suku Badui sempat ditentang keluarga, dosen, hingga teman-temannya. "Saya sempat dicekal sama dosen-dosen. Katanya bahaya, nanti perut saya bisa ditusuk. Karena tidak ada penelitian mahasiswa kedokteran yang sedemikian dalam ke masyarakat Badui," ujar Grace mengisahkan.

Namun, tekadnya sudah mantap. Setelah mendapat restu dari keluarganya, Grace pun mulai mendatangi suku Badui. Ternyata ia mendapat penerimaan sangat baik dari penduduk setempat. Lingkungan di Badui, menurut Grace, tidak seseram yang dibayangkan sebelumnya.

"Mereka itu tulus dan suka menolong. Itu membuat saya benar-benar jatuh cinta sama Badui atas kesopanan dan akhlak mereka. Ketika di sana, mereka ada masalah soal kesehatan gigi. Saya yang anak SKG rasanya malu kalau nggak ikut nolong," jelas Grace.

Menurut Grace, suku Badui yang tinggal di pedalaman lereng Gunung Kendang tersebut sangat terbelakang soal pengetahuan kesehatan. Jangankan paham soal layanan kesehatan, soal urusan menyikat gigi saja mereka tak mengerti. "Kita tidak bisa menyamakan pelayanan kesehatan ke masyarakat adat pedalaman dengan masyarakat biasa. Jangan pikir mereka akan mengerti dengan prosedur puskesmas, BPJS, dan sebagainya," ujar Grace.

Aturan adat setempat melarang warganya menyikat gigi dengan alat sikat gigi. Namun, Grace dan rekan-rekannya tak kehabisan akal. Grace menciptakan sabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa untuk menggantikan fungsi sikat gigi. "Walau itu sabut kelapa, pengaplikasiannya sama dengan sikat gigi. Edukasi seperti itu seru karena mereka belum mengerti dengan kesehatan mulut," jelasnya.

Melalui penyuluhan-penyuluhan kesehatan, Grace secara bertahap mengubah paradigma buruk masyarakat setempat soal kesehatan. Misalkan, masyarakat Badui meyakini gigi berlubang karena makanan pedas. Ia meyakinkan masyarakat Badui bahwa gigi berlubang karena makanan manis.

Grace mengaku sangat menikmati perannya di tengah-tengah suku Badui. Skripsinya berjalan lancar dan ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. "Seru dan lucu aja dikasih tantangan untuk mengedukasi mereka," ucapnya.

Langkah yang diambil Grace pun menginspirasi rekan-rekannya. Melalui komunitas Dentist Day Out, banyak mahasiswa kedokteran di kampusnya yang turut bergabung. Satu per satu misi ke pedalaman dijalankan. Tak terasa sudah lebih 60 daerah se-Indonesia sudah mereka jelajahi. "Paling jauh ke Lampung, Kalimantan, NTB, dan banyak lagi," ujarnya.

Komunitas Dentist Day Out didirikan Grace bersama rekan-rekannya yang punya keprihatinan sama soal rendahnya kualitas kesehatan masyarakat di pedalaman. Menurut mereka, setiap orang sama haknya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pemahaman yang baik tentang hidup sehat. Termasuk mereka yang tinggal di pedalaman.

Awal terbentuknya komunitas tersebut ketika Grace bertamasya ke Karimun Jawa. Akses pelayanan kesehatan bagi warga setempat sangatlah susah. "Ketika sakit, mereka harus ke Jepara yang menempuh perjalanan enam jam. Banyak daerah kurang layanan kesehatan seperti Karimun Jawa," kata gadis yang punya hobi mendaki gunung ini.

Setelah melihat fenomena tersebut, cara berpikir Grace soal mendaki gunung pun berubah. "Jadi, naik gunungnya bukan sekadar naik gunung. Tapi, naik gunung sambil pengabdian ke masyarakat di kaki gunung," jelasnya.

Ia mengajak rekan-rekannya agar tidak jadi dokter yang terbiasa nyaman-nyaman saja dalam menerima pasien. Apa salahnya sesekali kaum dokter mau turun ke lapangan untuk menjemput bola mencari pasien.

"Kita lihat dokter gigi itu jarang sekali turun ke masyarakat. Kebanyakan diam di rumah sakit atau klinik, duduk nyaman di ruangan ber-AC. Jarang yang mau panas-panasan di luar cari pasien dan diobati secara gratis," jelas Grace.

Inilah ide awal dari komunitas yang diinisiasi Grace. Komunitas anti-mainstrem ini ingin menghadirkan pencerahan bagi orang pedalaman yang selama ini jarang mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. "Kita ingin menjemput bola. Kita yang mendatangi pasien. Kalau biasanya dokter gigi hanya nunggu pasien di klinik, kita kebalikannnya, turun ke lapangan sekaligus menebar kebaikan," ungkapnya.

Hingga saat ini, seluruh kegiatan pengabdian yang dijalani Grace dan rekan-rekannya didanai secara pribadi. "Semuanya dari infak dan iuran kita sendiri. Syukur-syukur kalau ada donatur yang mau ikut membantu. Tapi, sampai sekarang kita tidak punya donatur tetap, baik dari personal maupun perusahaan," jelasnya.

Saat ini Grace sedang menjalani koas untuk merampungkan gelar dokternya. Ketika ditanya, apakah akan kembali ke pedalaman untuk mengabdi, Grace dengan semringah mengiyakan. "Tentu saya pribadi sangat senang. Itu sudah masuk ke list-nya kita walau entah kapan itu tercapai. Insya Allah tekad itu sudah tertanamkan. Tentu setelah selesai urusan-urusan yang lain," ujar Grace. n ed: hafidz muftisany

BIODATA
Nama Lengkap : Gracety Shabrina
Panggilan  : Eci/ Grace
TTL : Bandung, 4 Agustus 1993
Alamat : Perumahan Puri Cibeureum Permai 1 Blok 12 No 24 Kota Sukabumi, Jawa Barat
E-mail : gracetyshabrina@gmail.com
Line ID : gracesha
Facebook  : Gracety Shabrina
Twitter  : @gracetygrace

Pendidikan     :
SDN Ir H Juanda
SMP Negeri 3 Kota Sukabumi
SMA Negeri 3 Kota Sukabumi
Universitas Padjajaran Fakultas Kedokteran Gigi

Penghargaan    :
- Aktivis Sosial Teraktif oleh PSMKGI Award tahun 2014
- 20 Besar Penghargaan Satu Indonesia Award oleh Astra Internasional ahun 2014
- Inspirator Bidang Kesehatan Gigi dan Mulut dari Inspirator Freak dalam rangka Hari Pahlawan tahun 2013
- Juara harapan 1 Poem Competition Universitas Muhammadiyah Sukabumi
- Juara 2 Hatoy Photography Competition Pesantren Hayyatan Toyibah Kota Sukabumi
- 10 Besar Photo Concerto oleh Unilever
- Juara 2 Lomba Debat Padjajaran Berprestasi oleh Universitas Padjajaran
- Juara 1 Lomba Foto Milad BKI oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran

Organisasi    :
- Ketua umum SMantie Movie and Photography Club (SMOPHYC) 2009
- CEO and Founder Dentist Day Out 2012
- Kepala Departemen Syiar Media FOSIKAGI Universitas Padjajaran 2012
- CEO and Founder Akhwatraveler 2013
- Anggota Dewan Penasihat Otonom FOSIKAGI Universitas Padjajaran
- Wakil Mentri Advokasi dan Pelayanan Mahasiswa Universitas Padjajaran

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA