Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

H Mulyadi Muslim Lc MA: Setiap Umat Islam Harus Punya Amal Unggulan

Jumat 27 Mar 2015 19:13 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Mungkin terlalu menyusahkan jika seluruh syariat diamalkan oleh seorang Muslim secara sempurna. Karena keterbatasan umur, finansial, dan kemampuan fisik, tidak semua syariat bisa dilaksanakan. Misalnya, berangkat haji, menunaikan zakat, berkurban, berangkat berjihad, dan seterusnya.

Untuk menyikapinya, sebaiknya seorang Muslim memiliki amalan-amalan unggulan yang nanti akan menjadi pembelanya pada hari kiamat. Seperti halnya para sahabat pada masa Rasulullah SAW. Masing-masing dari mereka mempunyai amalan yang diunggulkan. Ada yang mengandalkan puasa, sedekah, berjihad, menuntut ilmu, dan lain sebagainya.

Cendekiawan Muslim asal Sumatra Barat, H Mulyadi Muslim Lc MA, mengatakan, setiap orang yang mengaku beriman dan ingin masuk surga harus memiliki amalan unggulan. Penggiat dakwah dan praktisi dunia pendidikan Islam ini menegaskan, umat Islam harus memiliki sebuah amalan yang biarpun kecil, tapi istiqamah terus dilakukan. “Walaupun nilai atau bobotnya lebih kecil, tetapi dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, dia bisa menjadi ibadah unggulan,” katanya. Berikut petikan wawancara selengkapnya bersama wartawan Republika, Hannan Putra.

Bolehkah seseorang memiliki amalan unggulan?

Istilah amalan unggulan sejatinya tidak keluar dari batasan syariat. Dia adalah amalan-amalan atau ibadah yang diperintahkan Allah dan dicontohkan oleh Rasul SAW. Amal ini dikatakan amalan unggulan karena dilakukan secara terus-menerus oleh seseorang. Bisa juga karena pahala yang dijanjikan sangat besar sehingga orang mengerjakannya dengan penuh semangat dan berkelanjutan.

Seseorang perlu mencari dan menentukan amalan unggulannya karena keterbatasan umur dan kesempatan yang dimilikinya. Alasannya karena tidak semua orang bisa melakukan semua perintah Allah secara terus-menerus dan berkelanjutan.

Jika membaca biografi para sahabat, kita bisa melihat masing-masing mereka menonjol dalam hal tertentu. Biasanya mereka menonjol bidang ibadah, khususnya ibadah-ibadah sunah.  Jadi, ibadah unggulan adalah ibadah-ibadah sunah yang dikerjakan oleh seseorang secara istiqamah karena keterbatasannya untuk melakukan ibadah-ibadah sunah lainnya.

- Mengkhususkan sebuah amalan apakah termasuk bid'ah?

Yang dimaksud dengan bid’ah secara bahasa ataupun istilah adalah suatu amalan dalam ibadah dengan membuat-buat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom mendefinisikan bid’ah sebagai suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat tanpa ada dalil yang modelnya menyerupai syari’at atau ajaran Islam. Maksudnya, ketika melakukan hal itu untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Berdasarkan definisi ini, maka amalan unggulan tidak bisa dikatakan bid’ah karena ibadah dikerjakan secara terus-menerus dan ada dasarnya. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Amalan yang disukai Allah adalah amalan yang berkelanjutan, walaupun amal itu sedikit." (HR Bukhari Muslim).

Maka hadis ini memperkuat pentingnya ibadah dilakukan secara berkelanjutan bagi setiap Muslim. Namun, karena keterbatasan kemampuan, maka dia harus memilih amalan tertentu. Walaupun nilai atau bobotnya lebih kecil, amalan dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, dia bisa menjadi ibadah unggulan.

-Bolehkah bertawasul dengan amalan unggulan?

Para ulama sepakat bahwa ada tawasul yang masyru’ (sesuai syariat) dan ada yang tidak masyru’ (tidak ada dalil yang membolehkannya). Adapun yang termasuk kategori tawasul masyru’ ada tiga. Pertama, dengan nama-nama dan sifat Allah yang Mahamulia. Kedua, dengan doa orang saleh yang masih hidup. Ketiga, dengan amal saleh.

Karena amalan unggulan adalah amal saleh yang ada landasan hukumnya, maka sah-sah saja seseorang bertawasul kepada Allah dengan amal saleh. Sebagai contoh, orang senantiasa bersedekah dan berharap kepada Allah agar rezekinya dimudahkan serta urusannya diselesaikan. Maka ini adalah tawasul kepada Allah dengan amal saleh.

-Bagaimana seorang Muslim memilih amalan unggulannya?

Setiap Muslim bisa memilih amalan unggulannya untuk dilakukan secara terus-menerus karena faktor amalan itu ringan dan mudah baginya untuk dilakukan. Bisa juga dia memilih amalan unggulan karena dia merasa berat untuk melakukannya pada tahap awal sehingga dia berusaha untuk melazimkannya. Hal ini dia lakukan sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatannya kepada Allah SWT.

Di samping itu, bisa juga seseorang memilih melakukan sebuah amal karena manfaatnya besar bagi dirinya atau orang lain. Pilihan-pilihan ini sangat mungkin menjadi alasan untuk menentukan pilihan amalan unggulan. Namun, pada akhirnya yang menjadi penting adalah amalan unggulan itu idealnya terus dan berkelanjutan dilaksanakan.

Ada amalan unggulan yang terkait dengan tempat dan waktu atau karena kondisi tertentu. Sebagai contoh, iktikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan adalah amal unggulan dan utama, tetapi terkait pada waktu. Begitu juga tawaf dan sa'i. Amal ini menjadi amalan unggulan ketika berada di Makkah. Demikian juga shalat sunah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ketika berkunjung ke sana.

-Apakah para sahabat memiliki amalan unggulan?

Hampir semua sahabat memiliki amalan unggulan. Hal ini disebabkan kelebihan dan keutamaan itu. Akhirnya semua sahabat mendapat kedudukan terhormat dan mulia di mata Allah SWT. Seorang sahabat yang mantan budak (Bilal bin Rabah) sudah dijamin masuk surga oleh Rasul. Bahkan, bunyi sandalnya sudah terdengar di surga. Ternyata, ini karena Bilal mempunyai amalan unggulan, yaitu shalat sunah wudhu.

Dalam perjalanannya selama Isra dan Miraj, Rasulullah SAW mendapat gambaran bahwa Bilal akan mendapatkan surga. Rasulullah kemudian bertanya pada Bilal, "Hai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Sesungguhnya ketika aku masuk surga tadi malam (malam Isra’), aku mendengar suara terompahmu.” Bilal menjawab, “Aku tidak tahu. Hanya saja, setiap kali aku hendak azan aku shalat dua rakaat. Dan tiap kali aku berhadas, aku berwudhu kemudian shalat sunah dua rakaat."

Jika para sahabat biasa dengan amalan khusus dan menjadi unggulannya, maka tidak mengherankan jika sahabat sekaliber Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sekalipun juga punya amalan-amalan unggulan. Inilah yang menjadikan mereka dipandang istimewa di mata Allah SWT.  ed: Hafidz Muftisany

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA