Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Mencari Solusi dengan Shalat

Jumat 23 May 2014 13:44 WIB

Red:

oleh:Hannan Putra--Isra' Miraj adalah peristiwa yang luar biasa. Untuk itulah, ketika menyebutkan peristiwa ini Allah SWT memulainya dengan ucapan tasbih. "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam …." (QS al-Israa' [17]: 1).

Menurut Ketua Gerakan Pembangunan Kebiasaan Shalat Berjamaah (GPKSB) Akhmad Tefur SSi, kalimat tasbih identik dengan hal luar biasa. Seperti halnya, peristiwa Isra' Miraj dan juga perintah shalat yang diberikan Allah dalam peristiwa tersebut.

Tefur menerangkan, Allah sering menggunakan kata ganti shalat di dalam Alquran dengan kata rukuk dan sujud. Misalnya, dalam surat al-Baqarah disebutkan, "... dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." (QS al-Baqarah [2]:43).

"Maksudnya di sini bukan rukuk berjamaah, tapi tunaikanlah shalat secara berjamaah," terang Tefur.

Demikian juga dengan sujud, seperti diterangkan dalam ayat lain, "... bersihkanlah rumah-Ku (Masjidil Haram) untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (QS al-Baqarah [2]:125).

Jadi, rukuk dan sujud adalah salah satu rukun di dalam shalat yang menggambarkan ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Di dalamnya dibaca bacaan tasbih yang menyucikan Allah SWT.

"Rukuk dan sujud itu yang dibaca tasbih, tasbih adalah shalat, dan shalat ketika menjemput perintahnya dalam peristiwa Isra' Miraj itu juga dimulai dengan tasbih," papar Tefur.

Namun, peristiwa luar biasa itu tidak semata-mata hanya untuk menjemput perintah shalat lima waktu. Ketua PBNU KH Said Aqil Siraj menambahkan, latar belakang peristiwa tersebut sebagai bentuk keprihatinan Allah SWT kepada Rasul-Nya yang diterpa berbagai masalah dan penderitaan. Allah SWT ingin memberikan 'paket tamasya' ke ujung langit (Sidratul Muntaha) kepada Nabi Muhammad yang banyak mengalami keperihan hidup.

Setahun sebelum hijrah adalah masa-masa tersulit bagi Rasulullah SAW. Ditinggal istri tercinta Khadijah RA, berikut meninggalnya paman beliau, Abu Thalib. Semenjak itu, kafir Quraisy benar-benar semena-mena kepada beliau. Rasulullah bahkan sempat diusir dari Makkah dan mencari perlindungan ke Thaif. Alih-alih mendapat perlindungan, Rasul SAW bahkan dilempari batu hingga berdarah-darah. Ketika itulah Rasul berdoa kepada Allah.

"Jadi, tujuan utama Isra' Miraj itu awalnya bukan untuk menjemput perintah shalat, tetapi memberikan semacam solusi dari permasalahan yang dihadapi Nabi ketika itu," papar Kiai Said Agil kepada Republika, Sabtu (17/5).

Setelah mendapat paket tamasya itu, Allah SWT memberikan 'oleh-oleh' berupa perintah shalat. Oleh-oleh itulah yang menjadi senjata bagi Rasulullah dan umatnya dalam menghadapi masalah. Dengan adanya shalat, hamba yang mendapat masalah mempunyai akses langsung untuk mengadukan masalahnya kepada Allah Sang Maha Pemberi Solusi.

"Jadi, shalat menjadi solusi dari berbagai masalah kita. Seperti halnya Nabi ketika itu," papar Kiai Said Agil.

Ketua umum Persatuan Islam (Persis) Prof Dr KH Maman Abdurrahman menambahkan, peristiwa Isra' dan Miraj bagi umat Islam jangan hanya sebatas peringatan. Hendaklah peristiwa luar biasa itu menjadi momen untuk meningkatkan kualitas keimanan umat Islam untuk menjadi karakter yang lebih baik.

Menurutnya, perintah shalat sebagai buah hasil dari Isra' Miraj tersebut merupakan media penempaan bagi seorang Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

"Mestinya, mereka yang suka melaksanakan peringatan itu, bagaimana menjadikan kualitas shalat mereka bisa meningkatkan karakter. Karena, dalam shalat itu sebenarnya ada pendidikan karakter di situ," terang Kiai Maman.

Ia menerangkan, secara filosofis, setiap gerakan yang ada di dalam shalat mengandung makna pendidikan karakter. Bahkan, dengan berwudhu saja sudah dapat dimaknai dan menjadi pelajaran bagi umat Islam.

"Misalkan saja dengan berwudhu ada pendidikan karakter bahwa kita wajib memelihara lingkungan," terangnya. Seseorang yang berwudhu harus menggunakan air mutlaq, yakni yang terpelihara kesuciannya. Untuk itulah, seorang mukmin tidak boleh mengotori lingkungan.

Ia melanjutkan, ketika seseorang berkumur-kumur, hendaklah dimaknai dengan membersihkan mulut dari segala ucapan yang kotor. "Jadi, bukan hanya sekadar kebersihan fisiknya saja," terang Maman. Demikian juga dengan anggota wudhu yang lain. Jadi, seseorang yang berwudhu tidak mungkin melangkahkan kaki atau mengayunkan tangan ke tempat yang tidak baik.

Inilah sebenarnya yang ditekankan sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "... sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar....” (QS al-Ankabut [29]: 45). "Itu ibrah yang paling utama dalam shalat itu," tegas Maman. ed: hafidz muftisany

Sumber : http://pusatdata.republika.co.id/detail.asp?id=737620
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA