Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

PPI Belanda Gelar International Conference on Indonesian Development 2013

Sabtu 14 Sep 2013 18:45 WIB

Red: Miftahul Falah

ICID 2013

ICID 2013

Foto: PPI Belanda

Diskusi panel dalam International Conference on Indonesian Development (ICID) 2013 menyajikan topik "Economics policy towards innovation-driven country" pada Jum'at (13/9). Ketiga panelis yang terlibat dalam diskusi ini yakni Dr. Faisal Basri dari Universitas Indonesia, Dr. Howard Nicholas dari Institute of Social Studies dan Prof. Greg Barton dari Monash University. Sementara yang menjadi pemandu acara adalah Dr. Paul Benneworth dari Universiteit Twente.

Diskusi diawali dengan pemaparan oleh Dr. Basri yang menjelaskan mengenai kondisi terkini dari ekonomi Indonesia yang masih belum sesuai harapan. Dr. Basri memberikan contoh bahwa kurang baiknya sistem logistik Indonesia berdampak pada ekonomi biaya tinggi. Salah satunya adalah biaya transportasi domestik yang lebih mahal dibandingkan dengan transportasi luar negeri.

Diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari Dr. Nicholas yang membahas dari sudut pandang global. Salah satu pembahasannya mengenai krisis ekonomi global yang terjadi sekitar 3-5 tahun terakhir. Dr. Nicholas menggaris bawahi, bahwa penurunan produksi dunia merupakan salah satu faktor terbesar terhadap krisis ekonomi global. Ekonomi dunia yang sedang bergeser dari Amerika Serikat ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, juga turut menyumbangkan perannya terhadap krisis tersebut.

Presentasi terakhir adalah dari Prof. Barton yang merupakan salah satu pakar di bidang studi tentang Indonesia. Prof. Barton membahas mengenai perkembangan ekonomi Indonesia yang akhir-akhir ini cukup masif. Salah satunya, ditandai dengan pertumbuhan kelas menengah yang cukup signifikan. Indonesia, menurut Barton, sekarang adalah negara berkembang dengan potensi yang menjanjikan.
















Walaupun ketiga panelis membawakan topik yang cukup beragam, menariknya, kesemuanya menggaris bawahi hal yang sama. Bahwa Indonesia di samping memiliki peluang perkembangan ekonomi yang tinggi, di lain pihak juga harus terus meningkatkan kapasitasnya dalam bidang manufaktur. 

Dr. Nicholas memberikan contoh, bahwa krisis dapat terjadi karena produksi menurun, dan produksi biasanya didorong oleh sektor manufaktur. Prof. Barton juga memberikan aksentuasi, bahwa negara yang ekspornya masih didorong oleh bahan mentah, seperti Indonesia, suatu saat dapat mengalami kejenuhan. Pada saat hal ini terjadi, harga jual bahan mentah akan turun di pasar internasional dan nilai ekspor akan menurun drastis.

Sesi tanya jawab dengan peserta sendiri berjalan dengan menarik. Dr. Benneworth sebagai moderator dapat menjalankan perannya dengan baik, dengan memfasilitasi pertanyaan-pertanyaan dari peserta yang masuk untuk dapat dibahas oleh ketiga panelis.

Salah satu diskusi yang menarik adalah mengenai sektor manufaktur Indonesia. Meskipun sekarang pelan-pelan tumbuh, tetapi pada kenyataannya masih didominasi oleh Foreign Direct Investment (FDI), dan pada akhirnya keuntungan akan kembali ke negara-negara asing pemilik modal.

Menjawab fenomena tersebut, Dr. Nicholas memberikan contoh yang bagus dari Cina, di mana negara tersebut tidak hanya meminta FDI dalam bentuk gelontoran modal semata, tetapi juga meminta pelatihan bagi para pekerja Cina, sebagai bagian kesepakatan investasi dengan pemilik modal asing. Hal ini merupakan contoh bagus di mana FDI dapat dimanfaatkan sekaligus untuk peningkatan kapasitas dalam negeri.

Hal lain yang juga penting dari diskusi adalah, kesimpulan bahwa infrastruktur Indonesia masih banyak perlu ditingkatkan untuk dapat menunjang ekonomi. Namun, pembenahan infrastruktur itu haruslah tepat sasaran.

 


Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA