Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tips Memotret Jurnalistik Ala Redaktur Foto ROL

Selasa 14 Mei 2013 17:19 WIB

Red: Miftahul Falah

Redaktur Foto ROL M. Amin Madani tengah mengisi materi di Photography Workshop.

Redaktur Foto ROL M. Amin Madani tengah mengisi materi di Photography Workshop.

Foto: KFP Jaktim

 

Sobat tertarik dengan dunia fotografi tapi juga suka jurnalistik? Nah, jangan lewatkan artikel yang satu ini yakni beberapa tips memotret jurnalistik. Selain karya fotomu akan lebih "bercerita", tentunya juga akan mengasah kemampuanmu dalam mengarungi dunia jurnalisme. Simak yuk tips memotret jurnalistik ala Redaktur Foto ROL (Republika Online) Mohammad Amin Madani, berikut ini.

1. Momen

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam fotografi jurnalistik yaitu momen. Ya, dalam dunia jurnalistik, suatu momen itu tidak bisa diulang kembali. Jadi, jika kita melewatkannya sedetik saja bisa-bisa momen tersebut akan hilang. Berbeda dengan fotografer model yang bisa menciptakan momennya sendiri, bahkan mengutak-atiknya sesuka hati.

Bagaimana caranya supaya momen berhasil kita rekam? Pertama, kita harus fokus, tidak boleh lengah, dan peka terhadap keadaan sekitar. Jika memakai kamera SLR/ DSLR, format kamera dengan shutter speed tinggi dan menggunakan high-continues shoot. Jika menggunakan kamera saku atau kamera ponsel, kembali lagi, kita harus fokus, tidak boleh lengah dan peka terhadap informasi dari keadaan sekitar.

2. Angle

Yang kedua adalah angle atau sudut pengambilan gambar. Jika Sobat telah menemukan momen, coba perhatikan angle-nya. Hal ini sangat penting untuk memberikan persepsi tersendiri. Satu objek yang sama, namun jika dipotret dari beberapa angle berbeda maka akan terlihat beda pula.

Menguasai sudut pengambilan gambar juga tidak rumit. Angle dibagi tiga; High, di mana kita memotret dari sebelah atas objek, Medium, di mana kita memotret sejajar dengan objek, dan Low, di mana kita memotret lebih rendah dari objek. Tidak rumit 'kan?

3. Komposisi

Setelah itu ada "komposisi" yang berperan untuk "merapikan" gambar. Jika sebuah objek dipotret tapi komposisinya berantakan, kita akan sulit mengerti apa tujuan si fotografer memotret objek tersebut.

Biasanya, fotografer profesional menggunakan "aturan ketiga" atau bahasa populernya adalah rule of third. Rule of third adalah saat di mana kita ingin memotret, bayangkan foto itu dibagi oleh garis menjadi 9 kotak berbeda namun dalam satu kotak besar. Biasanya, objek ditempatkan di titik titik-titik temu antar garis. Memang sedikit rumit, namun foto kita akan terlihat lebih menarik dan tidak flat.

4. Pencahayaan

Yang terakhir adalah lighting atau pencahayaan. Fotografi memang seni menangkap cahaya. Jika kita sudah menemukan momen, menentukan angle terbaik, dan sudah mengukur komposisi, tapi kalau pencahayaannya kurang tentu foto yang dihasilkan akan berwarna hitam semua. Demikian sebaliknya, jika pencahayaannya berlebihan, hasil fotonya justru hanya akan berwarna putih semua. Jadi, kita harus pandai menyiasati pencahayaan.

Segitiga pencahayaan (exposure) juga harus diperhatikan, yaitu Kecepatan Rana (Shutter speed), Bukaan Diafragma (Aperture) dan ISO. Pemakai SLR/DSLR mungkin bisa dengan mudah mengatur exposure di kameranya. Ditambah dengan adanya lampu flash internal yang ada di kamera, maupun membeli flash eksternal yang tentu dengan biaya tambahan yang lebih mahal.

Untuk pengguna kamera saku, justru lebih dimudahkan dengan tidak adanya hal-hal di atas, karena semua hal teknis tentang pencahayaan sudah otomatis diatur oleh kamera. Pengguna ponsel juga sekarang dimudahkan dengan ditambahkannya fitur lampu flash untuk beberapa tipe ponsel tertentu. Tentu kita tidak perlu bersusah payah lagi untuk memotret jurnalistik.

Keempat komponen itu memang harus diperhatikan. Akan tetapi, jika kita tidak dapat mengambil keempatnya sekaligus, disarankan mengambil "safe shot" untuk mengambil momen terlebih dahulu agar aman. Setelah mendapatkan safe shot, baru kemudian mengambil "better shot" yaitu foto yang lebih baik dari safe shot. Bukan berarti safe shot merupakan foto yang kurang baik atau asal-asalan. Safe shot tetap foto yang bagus dan dapat digunakan sebagai cadangan jika kita tidak bisa mendapatkan better shot .

Sekian tips memotret jurnalistik ala Redaktur Foto ROL Mohammad Amin Madani. Semoga bermanfaat untuk Sobat sekalian yang ingin menjadi jurnalis foto atau yang ingin menjadi citizens journalist.

 

 

 

Rubrik ini bekerja sama dengan Komunitas Fotografi Pelajar Jakarta Timur

@KFPJaktim

CP:

Kurnia Yaumil Fajar: 081219169008

Musa Abdul: 085693913794

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA