Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Merakdampit dan Kegelisahan Para Penggarap Lahan Sewaan

Ahad 30 Apr 2017 06:04 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Jalur menuju Merakdampit, Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Para petani sewa di Merakdampit, Cimenyan, Kabupaten Bandung mengungkapkan kesedihannya karena lahan yang semakin terbatas.

Foto:

Memasuki kampung Buntis sudah mulai banyak terlihat banyak plang penunjuk jalan, terutama yang menunjukkan objek wisata Bukit Bintang, dan jalan rusak mulai kami rasakan. Bukit bintang dilewat begitu saja karena memang bukan tujuan utama.

Akhirnya kawasan Merakdampit tujuan utama ngaleut momotoran sudah tercapai, dan daerah Batu Tarengtong menjadi pemberhentian puncak karena setelah dari situ perjalanan adalah perjalanan pulang. Di Batu Tarengtong itulah kami dapat melihat salah satu tempat yang dikeramatkan, yaitu keramat Cisebel, yang tahun lalu sudah kami kunjungi.

Di kawasan Merakdampit ini atau mungkin kawasan Bandung utara lainnya, sudah banyak lahan yang tidak dimiliki oleh warga sekitar, kebanyakan para warga yang bermatapencaharian sebagai petani ini menyewa lahan yang disewakan oleh orang kaya dari kota, mungkin daripada tidak diurus lebih baik disewakan.

Patok-patok penanda kepemilikan lahan mudah kita lihat di sepanjang jalan yang mungkin tidak pernah disentuh pengaspalan. Kekhawatiran para petani muncul seiiring dengan berkembangnya kawasan Bandung utara, karena dengan banyaknya lahan-lahan yang dibuat menjadi tempat wisata maka para petani itu harus bersiap menganggur karena sudah tidak ada lagi lahan yang bisa di garap.

Seperti seorang bapak yang sedang menggarap kebun bawang di Batu Tarengtong yang sudah mendapatkan info soal tanah garapannya yang akan dijadikan kafe oleh pemilik lahan.

 

Anggi/Tim Djelajah Priangan & Komunitas Aleut *)

 

 

*) Komunitas Aleut merupakan komunitas anak-anak muda di Bandung yang belajar bersama-sama mengenali sejarah, khususnya sejarah dan budaya Bandung dan sekitarnya. 'Ngaleut' artinya berjalan beriringan. Maka, komunitas tersebut kerap ”ngaleut” menyusuri situs penting. Mereka membuat jargon ”Ngaleut: tjara asjik mengenal Bandoeng”.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA