Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Kekaleman Eep Vs Agresivitas Denny

Rabu 20 Mar 2019 04:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Momentum Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 dimanfaatkan oleh Iwan Awiryawan (41) untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Warga Jajar RT 02 RW 06, Laweyan, Solo, tersebut membuat kerajinan action figur dari para calon presiden yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. 

Momentum Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 dimanfaatkan oleh Iwan Awiryawan (41) untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Warga Jajar RT 02 RW 06, Laweyan, Solo, tersebut membuat kerajinan action figur dari para calon presiden yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. 

Foto: Republika/Binti Sholikah
Kekalamen suveyor Eep Saefulloh Fatah bersaing dengan agresivitas surveiyor Denny JA

Oleh Ramadhani Aksyah, Jurnalis Senior Alumni FISIP UI

Tensi politik Indonesia menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 17 April 2019 sangatlah tinggi. Walaupun kita bisa berdebat apakah tensi yang tinggi itu berbahaya bagi denyut nadi Indonesia sebagai bangsa dan Negara, tetapi, bisa dikatakan tensi itu membuat jagad politik kita gonjang-ganjing dan keterbelahan kita sebagai anak bangsa berada pada posisi yang mengkhawatirkan. Kita berharapkan, usai Pilpres ini semua akan kembali kepada kondisi dan situasi semula. Semoga Pilpres ini hanya sebuah kontentasi mencari pemimpin lima tahun ke depan. Bukan seperti penyakit kanker yang  bisa memendekkan umur Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Di tengah kontentasi yang panas dan berbiaya tinggi itu, kita disuguhkan  sebuah hasil survey tentang elektabilitas para calon. Adalah Konsultan Pemasaran Politik (Political Marketing Consulting) Polmark Indonesia di  bawah pimpinan pengamat dan analis politik terkenal Eep Saefuloh Fatah merilis  hasil penelitian dan survey mereka. Mengakui melakukan penelitian berdasarkan kerja sama dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Polmark merilis bahwa tingkat elektabilitas Jokowi sebagai Capres Petahana adalah 40 persen. Sedangkan Capres dari kubu oposisi Prabowo Subianto adalah 25 persen.

Dari hasil survey dia itu, Eep sampai pada suatu kesimpulan (ini saya formulasikan di dalam kalimat dan diksi saya sendiri, bukan dari Eep): posisi Jokowi sebagai petahana belumlah aman. Ini baru pertama kali terjadi sejak kita memakai rejim Pilpres langsung, posisi elektabiltas Petahana di bawah 50 persen. Posisi yang belum aman itu, berkonsekuensi berat dan serius bagi Jokowi bahwa Petahana sangat mungkin dikalahkan dalam Pilpres 17 April.

Kolega dan teman akrab Eep yang juga aktif di Lembaga Survey dan konsultansi politik serta menjadi pemimpin Lembaga Survey Indonesia (LSI), Denny JA, mempertanyakan hasil riset Polmark dan Eep itu. Maklumlah, sebelumnya jauh-jauh hari LSI sudah merilis bahwa Pilpres mendatang kemenangan akan diraih oleh Jokowi sebagai petahana. Denny JA sudah mematok bahwa Jokowi akan menang 57 persen berbanding 43 persen untuk calon oposisi.  Pendapat LSI Denny JA itu segendang dan sepenarian dengan 6-8 Lembaga Survey lainnya yang menyebutkan kemenangan Jokowi sekitar 52-58 persen.

Dengan demikian, Eep beda sendiri. Inilah yang membuat Denny JA risau dan terganggu. Kerisauannya itu dituangkan dalam artikel pendek: MENGAPA HASIL SURVEY ITU LAIN SENDIRI? (Dan Kisah Front Runner Garry Hart).  Setelah saya membaca tulisan Denny itu, saya berpendapat, Denny begitu bersemangat membahas hasil survey Eep tersebut. Memang sejak lama saya kenal Denny sebagai seorang polemikus yang selalu bersemangat, kadangkala terkesan agresif dalam mempertahankan pendapatnya dan membahas pandangan teman berpolemiknya.

Saya sendiri bukanlah seorang surveyor politik seperti Denny atau  Eep dan tidak memfokuskan diri di bidang itu. Dulu waktu kuliah memang mendapat ilmu tentang Metodologi Penelitian Masyarakat (MPM). Mengerti sedikit-sedikit tentang kaedah-kaedah penelitian sosial. Saya sempat diajak oleh Prof Dr Deliar Noer (alm) meneliti persepsi masyarakat tentang politik dan agama pada tahun 1988-90. Tetapi, semua itu sudah lama sekali. Saya pun tidak pernah bernasib baik bisa kuliah di Amerika, di mana Denny dan Eep pernah mengecapnya. Ilmu mereka tentang survey dan penelitian sosial, ekonomi dan politik yang mereka dapati di Negara Paman Sam itu mereka bawa ke mari, mereka kembangkan dan menjadi core usaha dan bisnis mereka. Saya tidak mengalami nasib seberuntung mereka yang merasakan di Amerika, penelitian dan survey politik itu sudah sangat maju,  berpengaruh dan profesional.

Tentunya saya tidak punya kualitas dan kompetensi ikut dalam perdebatan mereka itu. Di samping saya bukan pembuat survey, saya pun awam dalam istilah-istilah dan alat-alat yang biasa mereka akrabi selama bertahun-tahun. Denny terkenal sebagai seorang surveyor andal dan bertangan dingin yang telah membantu ribuan Calon Kada menjadi Kada. Sedangkan Eep, setidaknya dalam beberapa tahun ini berhasil membuat Polmark menjadi lembaga yang disegani dan didengar pendapat dan surveynya terhadap perkembangan elit dan  politik di tanah air. Tulisan ini hanya sekadar menunjukkan persepsi saya saja atas kemungkinan yang akan  terjadi pada Pilpres April mendatang  tersebut.

Kontestasi Politik

Perlu diingatkan bahwa kontestasi politik di Pilpres antara Jokowi dengan Probowo bukan terjadi dalam Pilpres tahun ini saja. Lima tahun lalu, pada 2014, mereka sudah bertarung memperebutkan kursi Keprersidenan. Pilpres yang diselenggarakan pada 9 Juli 2014 itu,  menghasilkan  Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang, dengan selisih suara yang sangat kecil, yaitu 53,15 berbanding 46,85 persen untuk Prabowo-Hatta. Hanya berselisih 6,3 persen suara. Selisih suara absolute cuma sekitar 8 juta suara. Tipis sekali perbedaannya, hanya satu digit.

Lima tahun kemudian, mereka bertemu lagi dalam kontentasi yang sama. Yang berbeda cuma Cawapresnya. Saya berpendapat, karena yang bertarung adalah orang-orang yang sama pada  Pilpres tahun 2014 semestinya hasil dan kinerja kedua calon  selama lima tahun ini turut dipertimbangkan dalam menganalisa kemungkinan siapa yang menang dalam Pilpres mendatang. Saya tidak tahu apakah kedua surveyor kondang ini mempertimbangkan variabel kontinuitas yang terjadi dalam lima tahun pemerintahan Jokowi.

Menurut saya, Jokowi sebagai petahana menghadapi batu ujian yang lebih berat ketimbang Prabowo yang beroposisi. Tahun 2014, masyarakat mengenal apa yang disebut Jokowi Effect, yang  memberikan kesan kuat bahwa Jokowi adalah seorang yang merakyat dan sederhana. Jokowi Effect itu tidak ada lagi dalam tahun 2019. Kesan sederhananya hilang ketika dia menikahkan anaknya secara besar-besaran pakai kereta kencana. Kesan merakyatnya pun tergerus karena ke mana-mana dia diiringi oleh mobil pasukan pengawalan Presiden yang panjang dan memakai pesawat kepresidenan manakala pergi ke luar Jakarta. Upaya dia naik comuter line dan masuk gorong-gorong banyak dianggap orang sebagai pencitraan yang tidak sesuai dengan watak aslinya.

Pada tahun 2014, belum ada aksi Bela Islam. Penantangan suara Islam terhadap Jokowi tidak marak. Sekarang, dengan sikapnya yang lembut kepada Ahok –yang sudah diadili karena kasus penistaan agama— yang sempat membuat heboh di Pilkada DKI Jakarta dua tahun yang lalu, jelas akan berpengaruh kepada suara Jokowi.  Sikapnya yang terkesan keras kepada ulama-ulama yang tidak sejalan dengan dia, di mana banyak ulama yang dipersekusi dan diadili membuat kesan dan image bahwa dia tidak bersahabat dengan Islam. Kesan dan image itu  tidak bisa diabaikan.

Untuk menutup kemungkinan defisit suara dari kalangan Islam inilah, Jokowi mengambil Ajengan KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres. Dia berharap, suara massa NU yang sangat besar itu, akan beralih memilih dia. Apakah ini akan efektif? Saya pikir tidak. Begitu banyak kejadian politik di mana massa  NU itu bersuara sebaliknya dari pendapat elit NU. PIlpres 2004 menunjukkan kepada kita, suara massa NU itu sangat mengambang dan ‘liar’. Megawati yang berpasangan dengan Ketua Umum PB NU, KH Hasyim Muzadi, kalah melawan SBY yang berpasangan dengan Yusuf Kalla.

Dalam bidang hukum dan keadilan, sikapnya juga dinilai kurang fair. Dia mengadili semua orang yang berseberangan dengan dia dan membiarkan para pendukungnya tidak tersentuh hukum,  walaupun diduga telah berbuat delik. Ini juga akan mempengaruhi suaranya.  Yang tidak kalah penting adalah oposisi yang marak dari kalangan emak-emak, diduga akan berdampak terhadap elektabilitasnya. Emak-emak itulah yang paling  merasakan hidup yang semakin sulit di era Jokowi ini dibandingkan dengan era SBY.

Yang lebih serius adalah semua indikator perkembangan ekonomi tidak baik pada masa Jokowi. Begitu banyak pakar yang tidak memihak dan netral  memberikan suara yang cemas atas perkembangan ekonomi nasional. Jokowi dianggap tidak cakap dan mampu membuat ekonomi membaik. Janji bahwa ekonomi di bawah dia akan berkisar sekitar 7 persen, ternyata tidak pernah melampaui angka 5 persen. 

Belum lagi kesan kuat yang nampaknya berhasil di-blow up pihak oposisi bahawa Jokowi melupakan janji-janji kampanye tahun 2014 lalu. Dari 66 buah Janji Kampanyenya itu, ditengarai cuma satu yang dipenuhinya, yaitu menjadikan tgl 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Sebab, pada tanggal itulah tahun 1945, Hadratul Syaikh NU KH Hasjim Asy’ari mengeluarkan fatwa wajib jihad mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Janji-janji lain, menurut kubu Oposisi, bagai dilupakan oleh Jokowi.

Semua penilaian itu ditujukan kepada Jokowi. Itu wajar saja karena memang dia yang bertanggungjawab atas masa depan Indonesia dalam lima tahun ini. Lalu bagaimanakah penilaian terhadap Prabowo? Tentunya agak riskan kita menilai dia karena dia belum memegang kekuasaan yang bisa menyebabkan kita bisa  menilai dia secara ekuivalen dengan penilaian yang kita lakukan kepada Jokowi.

Kalau saya boleh meramalkan elektabitas kedua calon --tetapi harus saya akui saya tidak punya alat ukur yang valid dan teruji seperti yang dimiliki oleh Eep dan Denny untuk mengambil kesimpulan secara kuantitatif-- maka saya akan berangkat dari hasil PIlpres 2014. Saya melihat bahwa keduanya memiliki captive voters masing-masing sebesar 45 persen. Artinya, apa pun yang terjadi pada Pilpres 2019, keduanya akan meraih suara di atas 45 persen. Ini disebabkan para die hard mereka  tidak akan mengubah pilihan mereka. 10  persen itulah  swing voters. Jadi, menurut saya, siapapun yang menang dalam Pilpres nanti, kemenangan itu akan sangat tipis dan cuma satu digit.

Jadi, siapakah yang menang?  Wallahu a’lam bish shawwab.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA