Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Sukarno, Natsir, Ibnu Saud, Wahabisme: Kisah Dari Ende

Senin 14 Jan 2019 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Rumah pengasingan Sukarno di Ende.

Rumah pengasingan Sukarno di Ende.

Foto: Antara
Sukarno sempat menerjemahkan biografi tentang kebesaran Ibnu Saud dan Wahabisme

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah, Mantan Staf M Natsir dan Staf AhliWapres Hamzah Haz

Setelah menyelesaikan pendidikan di Algemene Midelbare School (AMS, sekarang SMA), Mohammad Natsir yang berpeluang melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi di Belanda, atau ke Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, keduanya dengan besa siswa; atau menjadi pegawai pemerintah dengan gaji 130 Gulden/bulan; memilih jalan perkhidmatan di bidang dakwah dan pendidikan. Dia memilih bekerja di majalah Pembela Islam.

Siang hari, Natsir bekerja bersama guru Persatuan Islam (Persis), A.Hassan, menerbitkan majalah Pembela Islam. Malam hari, menelaah Tafsir Quran, membaca kitab-kitab berbahasa Arab, termasuk majalah Al-Manar , dan buku-buku berbahasa Inggris. Dari Pembela Islam, Natsir mendapat honor 20,00 Gulden/bulan. Cukup untuk sewa rumah, uang makan, dan sedikit uang saku.

Sebagai redaktur Pembela Islam, dari hari ke hari Natsir berhadapan dengan soal-soal politik dan masalah-masalah keislaman. Kelak Pembela Islam dikenal sebagai media massa yang responsif terhadap mereka yang menyalahfahami ajaran Islam atau mencela ajaran Islam.

Ketika seorang perempuan bernama Soewarni mengejek poligami, Natsir –yang sampai akhir hayatnya tidak pernah berpoligami-- melalui Pembela Islam menyahuti ejekan itu. Demikian juga ketika dr. Soetomo di Surabaya mengatakan “pergi ke Digul lebih baik daripada pergi ke Makkah”, Pembela Islam tampil ke depan menjawab Soetomo.

Dalam waktu singkat, Pembela Islam popular. Pelanggannya tersebar di seluruh Indonesia. Di mana-mana orang membicarakan Pembela Islam. Ada yang pro, tentu saja ada yang kontra. Oleh pihak yang kontra, Pembela Islam dianggap sebagai media pemecah belah persatuan. Semua makian dan tuduhan itu tidak dipedulikan. Pembela Islam jalan terus. Menjadi pendirian Pembela Islam untuk memisahkan barang yang benar dari barang yang tidak benar.

Beberapa tahun kemudian, ketika seorang perempuan bernama Siti Soemandari menista Nabi Muhammad, giliran Berita Nahdlatoel Oelama beberapa nomor berturut-turut, mengecam tulisan Siti Soemandari di surat kabar Bangoen itu. Pada edisi 28 Syawal 1357/1 Januari 1938, Berita Nahdlatoel Oelama menegaskan pendiriannya: “Penghargaan kita pada persatuan nasional, tidak sekali-kali membuta tuli, ridla mengorbankan kesucian agama kita, kehormatan Nabi besar, syariat Islam kita, kebenaran kita, kemuliaan  dan umat, dan kebesaran masyarakat kita.”

Perbedaan Sukarno dengan Natsir

Selain merespons Soewarni dan Soetomo, Pembela Islam harus berhadapan dengan Ir. Sukarno, pendiri dan Pemimpin Besar Partai Nasional Indonesia (PNI). Sukarno amat tangkas berbicara di atas podium. Retorikanya menyedot perhatian massa. Oleh karena itu, nama Sukarno sangat popular. Setiap terdengar kabar  dia akan berpidato, dari segenap pelosok orang berduyun-duyun mendatangi tempat Sukarno akan berorasi. Cara pidato Bung Karno mampu membangkitkan semangat perjuangan.Natsir dan kawan-kawan termasuk yang tertarik kepada pidato Bung Karno. Meskipun Natsir sudah paham isi pidato Sukarno, tetapi cara tokoh pergerakan itu  menyampaikan pidato  tetap memikat hatinya.

Akan tetapi lambat laun Natsir dan kawan-kawan yang tergabung dalam Jong Islamieten Bond (JIB, Persatuan Pemuda Islam) merasakan ada perbedaan yang tajam dengan Sukarno. Bung Karno tidak mau membawa agama di dalam perjuangannya. Cukup nasionalisme saja. Karena, kata Sukarno dan kawan-kawan, kalau agama dibawa-bawa akan menceraiberaikan perjuangan.

Berbeda dengan Sukarno, Natsir dan kawan-kawan berpendapat, dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, dorongan agama Islam justru lebih kuat.  Selain perbedaan itu, dalam kampanye PNI dan dalam pidato-pidatonya,  Sukarno sering terdengar mengejek ajaran Islam.

Natsir berpendapat, gerakan kebangsaan yang dikembangkan oleh Bung Karno pada saat itu, mengandung bibit-bibit perpecahan dan kebencian kepada Islam. Sukarno terkesan memandang enteng kepada Islam.

Dalam pada itu, PNI selain bukan satu-satunya partai yang berjuang menentang penjajahan, juga bukan yang pertama. Berbelas tahun sebelum PNI lahir, sudah ada Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI), menjadi Partai Sarekat Islam (PSI), hingga akhirnya menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di bawah pimpinan H. Omar Said. Tjokroaminoto, dan H. Agus Salim  yang berjuang melawan kolonialisme Belanda.

Maka Natsir dan Pembela Islam sampai pada kesimpulan harus memperkuat dan menyokong perjuangan politik Islam melalui PSII. Pada 1930, Natsir diminta oleh Ketua PSII Cabang Bandung, Sabirin, untuk masuk menjadi anggota PSII.

Permintaan itu dipenuhinya. Mengenai keikutsertaannya di dalam PSII, Natsir bercerita: “Sejak saat itu saya berkecimpung dalam politik. Apalagi saya lihat PNI begitu kuat. Makanya saya perlu memperkuat diri di PSII itu.” Natsir juga tercatat pernah  bergiat di dalam Partai Islam Indonesia (PII) yang didirikan oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo  pada 1938. Natsir adalah Ketua PII Cabang Bandung.

Di sekitar masa inilah lahir tulisan-tulisan Natsir mengenai Islam dan Kebangsaan dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut: Pertama, Islam bukan semata-mata agama dalam arti ibadah --dengan pengertian sempit-- kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja. Kedua, Islam menentang penjajahan manusia atas manusia. Jadi, umat Islam wajib berjuang untuk mencapai kemerdekaannya.

Ketiga, Islam memberi dasar-dasar yang tertentu untuk satu negara yang merdeka (ideologi). Keempat, Umat Islam wajib mengatur negara yang merdeka itu atas dasar bernegara yang ditetapkan oleh Islam. Kelima, tujuan ini tidak akan dapat dicapai oleh umat Islam apabila mereka turut berjuang mencapai kemerdekaan dalam partai kebangsaan semata-mata, apalagi yang sudah bersifat membenci Islam. Keenam, Oleh karena itu umat Islam masuk dan memperkuat perjuangan mencapai kemerdekaan yang berdasar cita-cita Islam dari semula.

Sukarno Curhat kepada A Hassan

Meskipun perbedaan pendapat antara Natsir dan kawan-kawan dengan Sukarno dan para pengikutnya relatif tajam, tetapi tidak pernah terjadi bentrok fisik di antara dua kelompok ini. Dalam hal perbedaan ide, memang akhirnya antara Natsir dan Sukarno ada garis pemisah, tetapi hubungan pribadi mereka tetap dekat.

Ketika Sukarno ditangkap, diadili, dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin, adalah kelompok Pembela Islam –orang-orang yang dalam hal gagasan tidak sepaham dengan Bung Karno-- yang pertama kali menjenguk Sukarno. “Bukan orang PNI,” kata Natsir seperti dikutip Editor No. 22/Tahun VI//20 Februari 1993. Ketika Sukarno diadili oleh pemerintah kolonial Belanda di muka Landraad Bandung, Pembela Islam tampil dengan serangkaian tulisan membela Sukarno. Salah satu dari rangkaian tulisan pembelaan terhadap Sukarno ialah tulisan Haji Agus Salim yang lantang dan tajam berjudul “Hakim, Hukum, dan Keadilan.”

“Ketika Sukarno dipindahkan ke Endeh,” kata Natsir lagi, “kami mengirim buku-buku buatnya. Kami tetap menghormatinya sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan.”
Dari pihak Sukarno sendiri, apresiasi terhadap A. Hassan --sebagai tokoh golongan Islam-- tergambar sangat jelas dalam rangkaian surat menyurat antara Sukarno dengan A. Hassan. Surat menyurat Sukarno dengan A.Hassan itu, sesudah mendapat izin dari Sukarno, pada tahun 1936  diterbitkan Persatuan Islam di Bandung menjadi buku berjudul Surat-surat Islam dari Endeh. Pada tahun 1964, korespondensi itu dimuat sebagai bagian tersendiri di dalam buku Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi Jilid Pertama, di bawah tajuk: “Surat-surat Islam dari Endeh”, dengan subtajuk: “Dari Ir. Sukarno kepada T. A. Hassan, ‘Guru Persatuan Islam’, Bandung”.

Demikian akrab hubungan Sukarno dengan Hassan, sehingga Sukarno tidak sungkan mencurahkan isi hati (curhat) mengenai kesulitan ekonomi yang dihadapinya dan meminta tolong kepada tokoh Persatuan Islam yang terkenal puritan itu. Dalam surat 12 Juni 1936 Sukarno mengeluhkan keuangan rumah tangganya karena “saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya pun sudah sesak sekali buat membelanjai segala saya punya keperluan.”

Lebih lanjut Sukarno bercerita kepada Hassan bahwa dirinya saat itu sedang menerjemahkan “sebuah buku berbahasa Inggeris yang mentarichkan Ibnu Saud.” Menurut Sukarno, dalam bahasa Inggris, tebal buku itu 300 halaman. Dalam bahasa Indonesia, diperkirakan menjadi 400 halaman. Sukarno yang menyebut biografi itu “bukan main hebatnya” bercerita kepada Hassan bahwa “biografi itu menggambarkan kebesaran Ibnu Saud dan Wahhabisme begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa, hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain cs akan kehilangan akal nanti sama sekali.”

Sukarno meminta tolong kepada Hassan untuk mencarikan orang yang mau membeli copy buku terjemahannya itu, atau “barangkali Saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan saya punya rumah tangga yang disempitkan korting itu.” Surat itu ditutup Sukarno dengan kalimat: “Saudara, please tolonglah. Terima kasih lahir-bathin, dunia-akhirat.”

Permintaan Sukarno itu rupanya direspons positif dan ditindaklanjuti oleh Hassan. Dalam surat tanggal 18 Agustus 1936, Sukarno membuka dengan kalimat: “Terima kasih atas Tuan punya kecapaian mencarikan penerbit buku saya ke sana-sini. Moga-moga lekas dapat, sayang kalau manuscript yang begitu tebal tinggal manuscript sahaja."

Bagaimana nasib terjemahan Bung Karno atas biografi Ibnu Saud, yang disebutnya sebagai: “seorang laki-laki yang melebihi semua orang Muslim zaman sekarang, seorang raksasa yang mengikuti tauladannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Wallahu ‘alam.

Khusus terhadap Natsir, dalam surat dari Endeh, 25 Januari 1935, Sukarno antara lain meminta kepada Hassan: “Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan  yang memakai bahasa Belanda. Antara lain ia punya inleiding di dalam Komt tot het Gebed adalah menarik hati.”

Lebih setahun kemudian, dalam surat dari Endeh, 22 April 1936, Sukarno menyampaikan harapannya kepada A. Hassan: “Alangkah baiknya kalau Tuan punya muballigh-muballigh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M. Natsir, misalnya!”

 

 

 



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA