Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Jumat, 16 Zulqaidah 1440 / 19 Juli 2019

Akankah Terjadi Penyerangan Terorisme di Bulan Ramadhan?

Jumat 18 Mei 2018 06:09 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/5).

Polisi berjaga saat berlangsung penggeledahan di rumah terduga teroris di kawasan Dukuh Pakis, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/5).

Foto: Antara/Zabur Karuru
Kemungkinan serangan akan dilakukan bila target lemah.

Oleh: Al Chaidar, Penagamat Terorisme dan Dosen Departemen Antropologi,Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

Indonesia kini berada di bawah ancaman riil terorisme. Dalam istilah Agus Surya Bakti (2014: 17), Indonesia sedang mengalami darurat terorisme. Insiden perebutan dan penyanderaan polisi di Mako Brimob tanggal 8 hingga 10 Mei 2018 di Depok adalah awal revolusi berdarah ini dimulai. Selanjutnya, serangan para napi terorisme tersebut juga mengeluarkan sebuah “seruan jihad” ke berbagai penjuru tanah air pada tanggal 9 Mei. Seruan ini menggema ke berbagai wilayah dimana Jamaah Ansharu Daulah (JAD) beroperasi. Bahkan seruan ini membangkitkan banyak sel tidur teroris di berbagai daerah yang berafiliasi ke ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah).

Efek gema teror ini menjangkau hingga ke Surabaya dan Sidoarjo, Tanjung Balai Asahan, dan Riau serta Palembang. Hanya berselang hari, ratusan orang yang terafiliasi dengan ISIS ini secara struktural mengkonsolidasi diri dan datang menyerbu polisi di berbagai lokasi. Pada tanggal 13 Mei terjadi ledakan dahsyat di tiga gereja di Surabaya yang menewaskan 12 jemaat yang sedang melakukan misa suci menyambut kenaikan Isa al Masih. Ledakan bom bunih diri keluarga ini membawa serta anak-anak mereka dalam aksi serangan berdarah yang tak terperikan. Di Sidoarjo satu keluarga juga meledakkan diri secara prematur di sebuah rusun yang mereka tinggali.

Serangan berikutnya terjadi di markas polisi di Surabaya pada tanggal 14 Mei yang menewaskan satu keluarga dan satu anaknya sempat terselamatkan oleh polisi yang iba terhadap anak perempuan yang menjadi korban dari bom durjana yang dibawa keluarganya dengan menggunakan motor. Serangan fatalisme ini didorong oleh motif teologis: jihad untuk menyongsong kehidupan akhirat di surga.

Serangan mengejutkan yang juga mengajak serta kelurga ini sangat mengherankan semua ulama, ilmuwan, aparat dan orang awam. Mengapa anak-anak yang masih lucu dan lugu dilibatkan dalam aksi brutal dan sadis ini? Mengapa untuk menuju surga harus dengan menghadirkan neraka bagi anak-anak yang tak mengerti tentang permusuhan ini? Sampai kapan kesadaran eskatologis ini berakhir di bumi Indonesia yang diberkahi ini?

Banyak pertanyaan sulit hadir ke hadapan ilmuwan untuk dijawab secara akurat. Ilmuwan hanya mampu memprediksi secara hipotesis. Serangan ini kemungkinan tidak akan berhenti, meskipun di bulan puasa yang penuh rahmat dan ampunan. Dalam teologi kaum Wahabi Takfiri, bulan Ramadhan adalah bulan pembakaran. Ramadhan adalah bulan peledakan, pembakaran target yang bukan hanya pembakaran dosa-dosa, melainkan juga pembakaran kantor-kantor atau tempat-tempat yang dianggap sebagai sebagai target perang.

Pada bulan Ramadhan ini kemungkinan akan ada serangan-serangan yang ditujukan ke tiga target yang sudah ada dalam alam kesadaran teologis mereka. Tiga target tersebut adalah: (1) thoghut, yakni polisi (dan mungkin juga tentara) di semua markas mereka yang tersebar di seluruh tanah air; (2) kafirun, yaitu semua kalangan non-muslim yang beribadah di gereja-gereja, biara-biara, sinagog-sinagog dan masjid-masjid dhiror yang dipersepsikan sebagai tempat-tempat sesat; (3) fasikun, yaitu semua orang yang meskipun muslim namun masih bergelimang dengan keramaian musik, kampanye partai-partai politik dan mereka yang masih berbelanja di sentra-sentra wisata kapitalis dan liberal.

Serangan di “bulan pembakaran” ini juga kemungkinan akan dilakukan pada waktu-waktu dimana ketiga target tersebut lemah atau lengah.  Dalam studi klasik antropologi, terorisme adalah 'violence against nonmilitary or civilian targets that is designed to create fear outside the immediate circle of victims, in order to promote a political objective' (Miskel, 2010: 1007).

Target-target non militer atau sipil inilah yang menjadi definisi terorisme yang paling kuat yang tidak diketahui oleh para pembuat legislagi RUU Anti Teror yang baru yang entah kapan akan disahkan oleh lembaga syura thoghut tersebut. Lembaga syura thoughut yang dipersepsikan oleh kalangan teroris berideologi Wahabi Takfiri ini  sebagai DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) mungkin juga akan diserang.

Selama ini, banyak ilmuwan masih yakin bahwa terorisme adalah “a legitimate form of resistance against an occupaying powers” dan kaum teroris membalas secara setimpal terhadap anak-anak dan kaum muslim yang menjadi korban atas keganasan occupaying powers (negara-negara penjajah) seperti Amerika, Syiah dan Israel. Mereka menggunakan legitimasi agama di mana banyak ayat-ayat Al Quran dan hadist yang menyuruh mereka membalas mereka secara setimpal dimana banyak anak-anak menjadi korban di Suriah, Iraq, Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dimana kekuasaan penjajah bercokol secara kasat mata.

Setimpalkah jika untuk membalas pembunuhan terhadap anak-anak di Palestina, Suriah, Irak atau Afghanistan dengan cara membunuh anak kandung sendiri dalam aksi jihad yang melarang membawa serta anak-anak dalam kancah perang? Indonesia adalah kancah perang yang tak terdeklarasikan sebelumnya, hanya klaim sepihak yang pesan jihadnya pun tak pernah tersampaikan ke publik awam sekali pun. Adakah kaum pengimbang yang mampu menjawab teologi kematian melalui jalan pembakaran dosa ini?

Pemerintah terlihat tidak memiliki imajinasi bagaimana harus melawan ajaran kaum Takfiri yang sudah sangat brutal ini. Dana dan sumberdaya sudah dihabiskan untuk program pencegahan dan perlawanan terhadap teror, namun korban terus berjatuhan.

Pemerintah musti mengambil langkah apapun yang dianggap perlu untuk mengakhiri “operasi pembakaran” di bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini, bahkam bila perlu mengajukan perjanjian damai dengan para teroris ini.*

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA