Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Amil, Ilmu dan Amal

Kamis 25 Jul 2019 11:01 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Foto: Dokumentasi Pribadi
Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, dan itu juga berlaku untuk amil zakat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

"Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati." (Emha Ainun Najib).

Amil idealnya adalah orang yang berilmu tinggi dan amalnya banyak. Namun, bila ini yang dijadikan parameter saat mencari sosok amil, dipastikan kita akan kecewa. Faktanya amil-amil yang ada saat ini, relatif muda usianya dan secara umum, ilmu dan kemampuannya belum bisa disebut matang. Apalagi dari sisi keteladanan amalnya.

Bagi amil, sebagaimana seorang muslim pada umumnya, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Ini berlaku bagi amil laki-laki ataupun perempuan.

Dalam sejumlah uraian ulama, sering dikatakan bahwa menuntut ilmu juga suatu ibadah wajib yang tidak ada sunnahnya seperti ibadah yang lainnya. Menjadi amil yang pintar, jelas diharapkan semua lembaga zakat. Pastilah terbayang oleh mereka jika semua amilnya pintar-pintar pasti akan mudah mencari solusi atas masalah yang bermunculan, baik di internal maupun eksternal organisasi.

Bila kita bicara ilmu, sebagaimana disampaikan Khalifah Umar Bin Khattab, ternyata ada 3 tahapan ketika seseorang menuntut ilmu. Kata Beliau: "Ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”.

Hal ini rupanya berlaku juga bagi para amil di dunia zakat. Mereka yang baru bergabung menjadi amil dan belum lama belajar apa saja ilmu terkait perzakatan, bisa jadi terjangkit tahapan belajar seperti yang Khalifah Umar katakan tadi. Mereka masih merasa hebat dan bahkan sombong.

Hal ini kadang dipicu tumbuhnya perasaan diri lebih dari yang lain dan tahu banyak semua hal yang belum lama diajarkan. Saat yang sama, muncul pula godaan untuk menganggap semua ketinggalan ilmunya, kuno dan tak tahu perkembangan terkini.

Sombong yang mewujud ini barangkali pada awalnya tak terasa benihnya. Ia tumbuh perlahan dan membakar kesadaran bahwa semua orang pada dasarnya tak boleh direndahkan, apalagi diremehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim).

Selanjutnya, setelah seseorang memasuki tahap kesombongan, ia akan masuk ke tahap tawadhu'. Tahap ini merupakan tahapan kedua dalam menuntut Ilmu. Setelah kesombongan demi kesombongan yang ia tampakan, bisa jadi akhirnya ia terkena dampaknya sendiri. Ibarat peribahasa, "menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri".

Peribahasa ini bermakna bahwa bila kita berbuat sesuatu yang jahat atau sombong, perkara itu akan terkena kembali kepada kita sendiri. Apa pun yang dilakukan untuk menutupi diri agar tampak tinggi dan mulia dari orang lain akhirnya justru bisa berakhir dengan sesuatu perbuatan yang memalukan nama baik sendiri. 

Ketawadhu'an ini tumbuh berkebalikan dengan sifat sombong. Bila sombong menjadi dominan dalam hati seseorang, maka rasa tawadhu' mengecil proporsinya. Sebaliknya, bila rasa tawadhu ini semakin besar, maka sikap sombong perlahan menyusut.

Semakin seseorang banyak belajar, maka semakin ia memiliki kesadaran bahwa ternyata masih banyak hal yang belum ia ketahui. Dan karena dorongan inilah akhirnya membuat seseorang jadi lebih tawadhu’.
Seperti padi, semakin banyak memiliki ilmu, semakin merunduk. Begitu banyak ilmu yang diserap, maka berguguranlah rasa sombong yang ada di hati, bahkan dia lebih merendahkan hatinya terhadap orang lain.

Tahap ketiga, ketika seseorang menuntut ilmu ternyata semakin merasa tidak ada apa-apanya. Ia semakin merasa kecil. Hal ini terjadi karena di tahap ini dia merasa ilmu itu seperti lautan yang begitu luas. Ketika dia mendapat satu ilmu, maka di dalam dirinya akan merasa kurang, dia haus akan ilmu, dan bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk terus belajar dan belajar meraih ilmu sebanyak-banyaknya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA