Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Pilpres dan Hard Core Politik

Sabtu 08 Dec 2018 08:48 WIB

Red: Elba Damhuri

Ilustrasi Media Sosial

Ilustrasi Media Sosial

Foto: pixabay
Politik hard core di medsos ini membuat ruang publik penuh sentimen politik.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Anto Sudarto, Dosen Komunikasi Politik Universitas Tarumanagara

Elisabeth Noelle-Neumann (1977) dalam teorinya, Spiral of Silence, mengenai proses pembentukan opini publik menyatakan orang cenderung menyesuaikan opini pribadinya dengan opini dominan yang berkembang agar tidak dikucilkan di lingkungan sosialnya. Terkecuali, bagi kelompok hard core dan avant garde.

Mereka adalah orang-orang yang tak khawatir terhadap isolasi sosial. Kelompok hard core memiliki sikap ekstrem, sedangkan avant garde adalah para pencerah kehidupan.

Dalam konteks politik di Indonesia, hard core politik adalah ekstrem partisan salah satu capres, yaitu pendukung fanatik Jokowi atau Prabowo. Sikap politik mereka tidak tergoyahkan walaupun mendapat tekanan dari lingkungan sosial.

Avant garde politik merupakan orang-orang independen yang bersikap kritis terhadap rezim manapun. Mereka tak khawatir disudutkan. Namun, di media sosial (medsos), kita lebih banyak melihat hard core politik.

Dalam disertasi penelitian penulis, “Proses Difusi Berita Politik dan Pembentukan Opini Publik di Era Media Sosial”, penulis menemukan banyaknya individu ekstrem partisan yang berani mengekspresikan opininya di lingkungan “lawan”.

Mereka diinterpretasikan sebagai hard core karena tidak mengembangkan diskusi politik, tetapi lebih mengekspresikan sentimen partisannya di medsos. Sebagian besar berperilaku sebagai slacktivism, yaitu orang yang hanya rajin mem-forward dan reshare posting-an orang lain, tetapi tidak bertanggung jawab atas postingannya itu. Hard core politik subur di dunia maya yang memiliki psikologi komunikasi sendiri.

Mengacu Patricia Wallace (2016) dalam bukunya, The Psychology of Internet, perilaku ekstrem di dunia maya terjadi karena tingkat anonimitas yang tinggi (pengaburan identitas) dan tingkat kesadaran diri yang rendah (siapa diri kita di mata anggota lain). Pemicu lainnya, persepsi jumlah audiens (tidak sadar jika ekspresinya di media sosial diperhatikan orang banyak) dan merasa berada di kumpulan yang memiliki sikap politik sama (tidak sadar jika postingannya mungkin menyinggung anggota lain).

Selain hard core politik, ada pula istilah politik hard core yang merupakan kebijakan suatu kelompok politik dalam menggunakan jasa hard core politik untuk memengaruhi opini publik.

Para hard core politik membuat konten-konten berupa infografis, meme politik, cicitan, dan narasi politik sesuai kandidat yang didukung. Mereka senantiasa memantau percakapan di media sosial dan komentar di berita daring.

Mereka melakukan kontra opini dengan berpartisipasi langsung dalam diskusi daring atau membuat bantahan berupa klipingan berita atau data yang sistematis. Politik hard core di Indonesia, menurut catatan penulis, dimulai sejak Pilkada DKI 2012.

Saat itu, tim Jokowi-Ahok mengorganisasi lebih dari 10 ribu relawan ke dalam Jokowi Ahok Social Media Volunteer (Jasmev). Mereka dapat dikategorikan buzzer yang mempromosikan keunggulan calon yang didukung dan menunjukkan kelemahan kandidat lawan.

Mereka berkontribusi mengantarkan Jokowi-Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Keberhasilan Jasmev memacu semua tim sukses melakukan politik hard core. Pada Pilpres 2014, baik kubu Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta, melakukan politik hard core dengan merekrut buzzer dan membuat portal opini, yang seakan-akan sebagai portal berita.

Politik hard core berkembang pada Pilkada DKI 2017 dengan menguatnya peran bloger politik sebagai opinion leader. Menjelang Pilpres 2019, politik hard core masih mirip situasi Pilkada 2017, tetapi dengan jumlah bloger yang kian besar.

Politik hard core di medsos ini membuat ruang publik penuh sentimen politik ketimbang diskusi politik. Padahal, munculnya media sosial di awal-awal diharapkan menjadi ruang publik yang sehat di mana warga negara dapat melakukan diskursus politik secara rasional, seperti gagasan Habermas mengenai ruang publik.

Perang sentimen yang sering kali disertai hoaks mengarahkan kita kepada situasi di mana para ahli menyebutnya sebagai era post-truth, yaitu ketika emosi dan keyakinan lebih mendominasi pembentukan opini publik ketimbang fakta.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA