Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Senin, 13 Jumadil Akhir 1440 / 18 Februari 2019

Outlook Perbankan Syariah 2019

Senin 03 Des 2018 09:02 WIB

Red: Elba Damhuri

Adiwarman Karim

Adiwarman Karim

Foto: Republika/Da'an Yahya
Perbankan syariah bisa jadi akan menaikkan imbal bagi hasil produk dana.

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Adiwarman A Karim

Outlook perbankan syariah tahun depan akan diwarnai dengan perubahan-perubahan untuk memitigasi keadaan perekonomian domestik yang terimbas dari perubahan ekonomi politik global. Pertama, tenor jangka waktu pembiayaan akan lebih panjang agar beban cicilan nasabah tetap, tetapi imbal hasil bank lebih tinggi.

Kedua, akad ijarah dan ijarah mumtahiya bit tamlik yang memberikan fleksibilitas imbal hasil akan lebih diminati daripada murabahah. Ketiga, pembiayaan konsumer beragun rumah tinggal akan lebih diminati bank karena bobot risiko yang lebih rendah sehingga dapat menghemat penggunaan modal. Keempat, bagi hasil dana akan meningkat untuk mencegah larinya nasabah dana ke bank lain.

Selanjutnya, outlook tahun depan dibagi menjadi outlook semester pertama dan outlook semester kedua. Semester pertama merupakan periode krusial karena dua hal. Pertama, secara eksternal merupakan puncak terjadinya tekanan eksternal. Kedua, secara internal merupakan awal perubahan kebijakan bisnis, organisasi, dan tata kelola.

Sedangkan, semester kedua merupakan hasil dari penyesuaian yang dilakukan pada semester pertama. Bila strategi pada semester pertama berhasil membawa bank melewati bottleneck, bank akan memasuki periode pertumbuhan yang kuat dan sehat pada semester kedua.

Bila sebaliknya, bank akan terbebani oleh tiga hal. Pertama, pembiayaan bermasalah meningkat. Kedua, rasio biaya operasional meningkat. Ketiga, likuiditas semakin tertekan.

Tekanan eksternal tahun depan dapat diidentifikasi menjadi tiga hal. Pertama, kebijakan moneter yang lebih ketat. Tren pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, kenaikan tingkat bunga Amerika Serikat, yang ketiganya akan terefleksikan pada kenaikan tingkat bunga acuan Bank Indonesia.

Kedua, tekanan ganda pada defisit neraca berjalan dan pada potensi net selling asing di pasar modal. Dari dua hal ini, yang dikhawatirkan adalah faktor yang kedua.

Data statistik menunjukkan, dalam dua periode tahun pelaksanaan pilpres, yaitu 2009 dan 2014, terjadi kenaikan transaksi finansial yang sangat signifikan yang berasal dari kenaikan pada investasi portofolio. Kenaikan lima kali lipat pada 2009 dan dua kali lipat lebih pada 2014.

Dilihat dari penyumbang defisit pendapatan primer tahun 2018, 55 persen berasal dari pendapatan investasi portofolio, 34 persen dari pendapatan investasi langsung, 11 persen dari pendapatan lainnya.

Ketiga, likuiditas tertekan dan pertumbuhan kredit melambat. Pertumbuhan dana pada 2018 lebih kecil daripada 2017. Penurunan terbesar terjadi pada pertumbuhan deposito yang turun dari 10,8 persen pada Agustus 2017 menjadi 3,4 persen pada Agustus 2018. Padahal, pertumbuhan kredit naik signifikan pada periode yang sama dari 8,14 persen ke 12,7 persen.

Pengetatan likuiditas ini dan melambatnya pertumbuhan kredit akan berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah. Rasio NPL tahun 2017 sebesar 2,59 persen naik menjadi 2,74 persen pada September 2018.

Padahal, kenaikan NPL ini terjadi pada saat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan. Padahal pula, pada empat sektor penyumbang NPL terbesar telah mengalami perbaikan per Agustus 2017 ke Agustus 2018. NPL perdagangan besar dan eceran dari 4,42 ke 4,12 persen, industri pengolahan dari 3,7 ke 3,02 persen, properti 3,19 ke 2,51 persen, dan pertanian dari 1,92 ke 1,54 persen.

Artinya, pertumbuhan NPL lebih cepat daripada pertumbuhan kredit dan perbaikan NPL di empat sektor itu dibarengi dengan pemburukan NPL yang lebih besar di sektor lain.

Bagi perbankan syariah, tekanan eksternal yang pertama dan ketiga membawa implikasi perlunya penyesuaian kebijakan bisnis. Kenaikan bunga BI yang berarti kenaikan bunga produk dana perbankan konvensional.

Implikasinya, perbankan syariah akan menaikkan imbal bagi hasil produk dana agar tidak terjadi perpindahan dana dari bank syariah ke bank lain. Kenaikan ekspektasi bagi hasil yang lebih tinggi ini mendorong bank syariah untuk menaikkan imbal hasil pada produk pembiayaannya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES