Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Kamis, 15 Zulqaidah 1440 / 18 Juli 2019

Pesan Serat Kalatida: Apakah Agama Bisa Lepas dari Politik?

Sabtu 11 Agu 2018 15:46 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Foto: Gahetna.nl
Pada saat sekarang banyak orang yang terpaksa menelan ludah sendiri.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Apakah agama bisa terpisah dari politik? Jawabnya tegas, tidak mungkin! Bahkan omong kosong. Apakah agama tidak bisa diperalat politik? Jawabnya: yang mengajukan pertanyaan itu sebenarnya tengah memperkuda politik demi kepentingannya. Dia menyatakan seolah anti agama, padahal dirinya sangat butuh legitimasi agama demi kepentingan politik atau sesuatu hal yang menjadi tujuanya.

Mungkin pernyataan itu menyakitkan, terutama bagi mereka yang terlalu percaya bahwa agama (terutama Islam) bisa dicabut dari politik. Bahkan ini terjadi di semua agama. Mendiang Paus Paulus II misalnya pernah mengatakan dasar Eropa adalah Kristen. Tapi semua orang tahu apa yang diucapkannya pada dekade menjelang tahun 2000-an dahulu adalah berbau politik.

Adanya kenyataan ini orang Turki pun tahu bahwa itu adalah salah satu cara menolak Turki agar tidak dapat bergabung denga Uni Eropa. Sahabat saya, Edin Hadzalik yang warga Bosnia protes karena dasar Eropa dahalu kala adalah agama pagan, jauh sebelum datangnya agama Kristen atau Islam, dan juga agama-agama di 'benua biru' itul lainnya. Buktinya lagi di Eropa yang katanya sekuler ternyata masih bertabur partai agama. Bahkan, katanya, pihak yang kini berkuasa di Jerman adalah berasal dari partai agama. Bahkan ada sebuah negara yang katanya penah menguasi dunia masih punya aturan tak tertulis sebagai negara pelindung agama. Bahkan, negara yang kini terkuat di dunia, Israel, nyata-nyata punya konstitsi sebagai sebuah negara untuk agama dan etnis tertentu. Orang boleh suka atau tidak, tapi itu kenyataannya.

''Kamu harus paham, sebelum tahun 1923, bertebaran masjid dari Bosnia (perbatasan Asia-Eropa), hingga Belgia. Tapi setelah tahun 1923 (Kekuasaan Otoman runtuh) tempat ibadah itu tak ada lagi,'' kata Edin seraya menegaskan bahwa agama selalu terkat politik. Bahkan, ketika komunis runtuh, justru praktek agama muncul lagi.''Berbeda dengan jargon Nietzhe, Tuhan terbukti tak pernah mati!),'' ujarnya lagi.

Hal sama jua terjadi di belahan dunia Asia. Semua tahu apa yang terjadi di anak benua Asia bagian selatan pada tahun 1940-an dahulu: India. Kawasan itu terpecah menjadi tiga negara: India, Pakistan, dan Bangladesh gara-gara soal politik dan agama. Bahkan di  kawasan Balkan (Yugoslavia), Irlandia, Uni Sovyet,  hingga Timor Timur (yang paling mutakhir) pun terasa ada soal ini. Soal konflik di Aceh meletup dan reda misalnya, juga salah satunya ada berkelindan soal agama.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA