Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Puasa Ramadhan-12

Senin 04 Jun 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Salah satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan dalam hidup ini.

REPUBLIKA.CO.ID, Oeh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

 

Salah satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan dalam hidup ini. Padahal, sejatinya segala sesuatu dalam hidup duniawi kita bersifat amanah (titipan). Titipan dan bukan kepemilikan. Dan karenanya di satu sisi tidak boleh diakui. Dan di sisi lain harus dijaga baik-baik. 

Ungkapan Alquran: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” (kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalan kami kembali) adalah filsafat hidup. Merupakan fondasi “world view” (pandangan hidup). Bukan sekedar ungkapan di saat ada kematian atau di saat mendapatkan cobaan.

Alam semesta dan segala isinya, semuanya ada dalam kepemilikan Allah SWT. Ayat-ayat dalam Alquran seperti: “bagi Allah segala yang di langit dan di bumi” atau “bagi Allah kerajaan langit dan bumi” berulang kali diungkap dalam Alquran. 

Sekaligus penegasan Allah bahwa “al-mulk” (kerajaan) dan “al-milk” (kepemilikan) adalah bagian dari akidah tauhid dalam hal “Milkiyat Allah” (kekuasaan dan kepemilikan) Allah SWT. Melupakan hakikat ini sekaligus melupakan salah satu aspek ketauhidan yang mendasar dalam Islam. 

Kekeliruan dalam memahami “tauhid milkiyah” atau ketauhidan dalam hal kepemilikan ini menimbulkan konsekwensi-konsekwensi negatif dalam kehidupan. Ketika masih berada di pihak yang menguntungkan, sedang di atas angin, seseorang akan membusungkan dada. Seolah semua yang ada pada dirinya adalah “miliknya” dan bukan “lillahi” (milik Allah). 

Ini yang pernah terjadi kepada orang kaya seperti Qarun. Kekayaannya diakui sebagai kepemilikannya, dan dihasilkan karena skill atau kemampuan yang dimilikinya (ilmun ‘indii). 

Sebaliknya, jika yang terjadi seseorang itu tidak pada situasi beruntung, dia akan merasakan kepedihan berlebihan, bahkan menumbuhkan amarah, jika tidak pada orang lain, akan marah pada dirinya sendiri. Di sinilah seringkali membawa kepada tindakan fatal, termasuk membinasakan diri sendiri (bunuh diri). 

Konon kabarnya tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di kalangan orang-orang yang justeru secara keilmuan (sekuler) dan harta lebih maju. Jepang misalnya, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi disebutkan sebagai negara dengan jumlah bunuh diri tertinggi di dunia. 

Di Amerika juga misalnya permasalahan mentalitas (mental problem) justeru galibnya terjadi di kalangan mereka yang kaya, populer, dan diasumsikan pintar. Tidak mengejutkan jika penghuni Hollywood misalnya adalah orang-orang yang sering keluar masuk fasilitas rehabilitasi mental. 

Di sinilah puasa memainkan peranan krusial dalam menetralisir kemungkinan penyakit “perasaan memilki” itu. Melatih pelakunya untuk menyadari bahwa di atas dirinya ada “Pemilik Mutlak” atau Pemilik sejati”. Dia yang mencipta, menguasasi, merajai dan punya kuasa untuk mengatur segalanya. 

“Maha Suci Yang ditangannya terletak kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu” (Al-Mulk). Artinya Allah itu tidak saja memilki. Tapi memilki kekuasaan atas kepemilikan itu. Sebab ada orang yang (merasa) memiliki tapi tidak punya kuasa atas kepemilikanya.

Mari kita bekajar dari sepasang suami isteri sahabat Rasulullah SAW, yang sangat miskin, dengan seorang anak yang masih kecil. Seolah dalam hidup mereka tak ada lagi kegembiraan selain sang anak itu. Tiba-Tiba suatu ketika sang anak jatuh sakit keras. 

Di pagi hari sang suami bergegas pergi meninggalkan sang isteri dan anaknya yang tergeletak sakit keras untuk mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Tiba-tiba Allah mentakdirkan sang anak tercinta itu harus kembali menghadapNya. Sang anak yang masih kecil itu meninggal dunia.

Isteri sahabat itu dengan hati sedih memandikan jenazah anaknya, lalu menutupi tubuhnya dengan kain dengan sangat rapih. Dan diletakkan sang anak yang terbungkus rapih itu di sudut ruang di rumahnya.

Pada malam hari sang ayah kembali di rumah, lalu bertanya ke isterinya perihal keadaan anaknya. Isterinya memberitahu bahwa anaknya kini telah tenang dan istirahat. 

Sahabat itu merasa senang mendengarkan informasi isterinya jika anaknya kini tenang dan istiharat. Disangkanya anaknya kini telah pulih dan istirahat. Maka malam itu terjadi hubungan dengan isterinya.

Sebelum Subuh mereka berdua bangkit untuk sholat malam sebelum Fajar tiba. Tiba-tiba sang sahabat itu bertanya pada isterinya, kenapa anak mereka belum pernah kedengaran suaranya? 

Dengan sedih tapi sangat tenang sang isteri bertanya kepada suaminya: “jika kita dititipi oleh tetangga sesuatu, lalu masanya dia ingin ambil kembali, haruskah bagaimana?”. 

Sang suami menjawab: “harusnya dikembalikan”. 

Isteri itupun menyampaikan kepada suaminya bahwa anak mereka adalah titipan Allah. Dan Pemiliknya kini telah mengambilhya kembali. 

Mendengar itu sang suami marah, merasa isterinya kurang jujur atau minimal terbuka pada dirinya. Diapun melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW, bahkan menyampaikan bahwa malam itu juga telah terjadi hubungan dengan isterinya. 

Rasulullah SAW memberikan motivasi sambil bersabda: “Allah akan menggantikan untuk kamu yang lebih banyak dan lebih baik”.

Menurut riwayat, dari sahabat dan isterinya inilah di kemudian hari terlahir beberapa ulama besar di kalangan thobi’in (generasi kedua) setelah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. 

Puasa melatih kita untuk menyadari semua titipan yang kerap diakui sebagai milik itu. Bahwa titipan itu akan dijaga sesuai dengan pesan Pemiliknya. Makananmu, minumanmu, dan segala kenikmatan duniamu, jika Yang memiliki melarangmu jangan sentuh. Itulah pesan puasa. Latihan kesadaran akan kepemilikan Allah yang bersifat mutlak. 

Orang bijak menasehati: “sikapilah dunia ini bagaikan tukang parkir”. Jika dititipi mobil-mobil mewah yang banyak dia akan menjaga sebaik-baiknya. Tapi dia juga tidak akan mengakui sebagai miliknya. Dan jika masanya yang punya mengambil mobil itu, dia juga tidak bersedih. 

Demikianlah dunia dan segala isinya ini. Semuanya adalah titipan sang Pencipta untuk dijaga sebaik-baiknya. Dan pada masanya akan diambil kembali. Semoga kita sadar bahwa memang: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” itu bukan sekedar “lip service”. Tapi keyakinan dan pandangan hidup sejati.

Dan Semoga puasa Ramadan menjadi momentum untuk membangun kesadaran itu. Amin! 

 

Jamaica Hills, 27 Mei 2018

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA