Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Puasa Ramadhan-8

Sabtu 26 Mei 2018 11:49 WIB

Red: Agus Yulianto

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Di bulan Ramadhan banyak peristiwa terjadi dan berada di luar kemampuan akal manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali,  Presiden Nusantara Foundation

 

Tidak diingkari bahwa bulan Ramadan itu adalah bulan yang penuh dengan kemukjizatan (miracles). Dan karenanya bulan ini bolehlah kita namai “syahrul mu’jizah” atau bulan kemukjizatan. 

Mukjizat adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dan berada di luar jangkauan pikiran biasa manusia. Saya tidak mengatakan berada di luar jangkauan pikiran logis atau rasional. Karena peristiwa-peristiwa mukjizah bukan tidak rasional atau logis. Hanya saja akan biasa manusia tidak mampu memahami detailnya. 

Tapi secara global sangat rasional. Kenapa? Karena ketika wawasan dan pemahaman kita dilandasi oleh pemahaman yang benar tentang Pencipta dan Penguasa alam semesta, peristiwa itu menjadi sangat rasional dan logis. Meragukannya justeru tidak rasional dan tidak logis karena jelas bertentangan dengan tabiat pemahaman imani kita.

Betapa tidak, di bulan ini banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi dan berada di luar kemampuan akal manusia memahaminya. Peristiwa-peristiwa inilah yang kita sebut dengan peristiwa mukjizat. 

Perang Badr, perang pertama yang sesungguhnya menentukan wajah perjalanan dakwah Rasul selanjutnya terjadi di bulan Ramadan. Sebuah peristiwa yang secara akal biasa manusia tidak dipahami. Karena kekuatan yang sangat tidak imbang. 

Kekuatan pasukan Muslim saat itu hanya 303 melawan kekuatan musuh kafir Quraysh sebesar 1000 tentara. Artinya jumlah musuh tiga kali lipat dibanding jumlah pasukan orang-orang yang beriman. 

Bukan hanya itu. Tapi juga dari segi peralatan perang, pasukan Rasulullah SAW hanya memiliki dua ekor kuda. Sementara lawannya memiliki seratus pasukan berkuda. Pasukan ini ketika itu menjadi pasukan elit, dan kuda adalah alat perang yang paling hebat.

Walau kenyataan demikian, hasilnya di luar kemampuan akal manusia memahaminya. Rasulullah SAW dan sahabatnya memenangkan peperangan itu. Bahkan menahan 70 lebih dari pasukan kafir Quraysh. 

Demikian pula Fath Makkah. Peristiwa agung yang harusnya dicatat oleh sejarah peradaban manusia. Bahwa dalam sejarahnya hanya ketika itu sebuah kekuatan tentara memasuki sebuah kota tanpa pertumpahan darah. 

Dan yang paling menakjubkan adalah bahwa ini terjadi bukan di zaman yang diakui sebagai zaman modern, lebih berpendidikan, berperadaban (civilized) dan seterusnya. Tapi justeru di abad di mana dunia didominasi oleh prilaku barbar dan biadab.

Rasulullah SAW yang pernah disiksa, dihinakan, bahkan diusir secara paksa dari tanah kelahirannyan kini kembali dengan pasukan besar dengan persiapan perang yang hebat. Tapi semua itu tidak merubah karakter damai dan kasih sayang Rasul.

Hasilnya inilah yang saya isitlahkan “mu’jizah sejarah” adalah penduduk Mekah menyerah, tanpa perlawanan. Tapi yang lebih penting dicatat adalah peristiwa amnesti umum pertama terjadi dalam sejarah manusia. 

“Kamu semua hari ini bisa kembali ke rumah masing-masing dengan aman dan bebas. Bebas, termasuk bebas mengimani keyakinan mereka dan beribadah sesuai dengan keyakinannya”. Demikian bunyi amnesti umum itu.

Patung-patung memang dihancurkan karena letaknya di rumah Ibadah ketahuhidan. Ada 360 patung yang berada di sekitar Ka’bah, rumah di mana Allah disembah siang malam. Karenanya keberadaan patung-patung itu sangat mengganggu. Tapi patung yang di rumah mereka, di halaman mereka, tidak juga diganggu oleh orang-orang beriman.

Mereka juga pada akhirnya masuk Islam, tapi bukan karena paksaan. Tapi belakangan justeru karena jatuh hati dengan ajaran Islam yang Indah dan tentunya karena karakter orang-orang beriman saat itu.

Semua ini saya juga istilahkan peristiwa mu’jizah tariikhi atau mukjizat sejarah. Peristiwa yang pada zamannya, bahkan zaman ini juga belum mempu menandinginya. Apalagi mengaku lebih hebat dari cara Rasulullah SAW menaklukkan kembali kota Mekah.

Mu’jizah Ramadan yang tertinggi adalah karena memang di bulan ini diturunkan “miracle of all miracles” (mukjizat dari semua mukjizat). Itulah Al-Quran al-Karim. 

Mengenai ini akan dibahas pada masanya. Tapi karena mukjizat inilah terjadi peristiwa-peristiwa besar lainnya. Seorang yang hina, miskin dan budak, berubah menjadi terhormat sejajar dengan semua saudaranya di sekitarnya. Itulah Bilal RA. 

Sebaliknya seorang yang hina karena kekuatan dan kekuasaannya berubah dengan mukjizat itu menjadi kuat dan terhormat karena iman dan kebaikannya. Itulah Umar RA. 

Dan semua itu terjadi awalnya di bulan Ramadan. Dan karenanya jadikanlah bulan ini sebagai bulan peristiwa-peristiwa yang mungkin secara akal di luar nalar. Siapa tahu orang yang kita anggap jahat seperti Umar karena mukjizat Ramadan mendapatkan Hidayah.

Semoga apa yang kita anggap kekalahan, seperti yang terjadi di Timur Tengah, justeru awal yang membangunkan kesadaran kolektif umat. Bahkan dalam negeri sendiri, semoga peristiwa-peristiwa buruk selama ini menjadi pengingat untuk berani bangkit dan melakukan perubahan. 

Apapun arti dari perubahan itu. Yang pasti Ramadan adalah momentum yang sangat tepat untuk membangun spirit of change (Semangat mengganti atau merubah) itu.

Di saat perasaan lemah, tak berdaya, merasa seolah tiada lagi jalan menuju harapan itu, bukan berarti harapan itu tiada. Karena dengan iman, harapan itu selalu ada. Expect miracles (tunggu kemukjizatan Ilahi). Insya Allah! 

 

Jamaica Hills, 25 Mei 2018

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA