Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Berharap Surga pun Merindu

Sabtu 26 May 2018 01:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Ady Amar

Ady Amar

Foto: dok. Pribadi
Diharapkan amalan-amalan yang dirindu surga itu akan terus kita pertahankan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ady Amar, Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan

 

Setiap muslim tentu merindu surga, itu sudahlah pasti. Tapi apakah surga juga merindu, ini yang belum pasti. Bisa jadi akan bertepuk sebelah tangan. Satu pihak berharap, tapi pihak lain menampik.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam berdoa merindu surga, dengan doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.” Doa ini dilantunkan Rasul hingga tiga kali.

Apa yang terjadi, surga pun merindu yang sama dengan Rasul agar cepat dimasukinya. Surga pun berkata, “Ya Allah, dekatkanlah dia kepadaku.” Itulah keinginan yang saling bersemi, saling merindu...

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam ingin berada di surga, dan surga ingin secepatnya didiaminya. Mengapa itu bisa terjadi, dan tidak terjadi pada sebagian manusia yang lain. Surga digerakkan Allah untuk memberi persyaratan siapa saja yang ingin dirindukannya.

Surga digambarkan sebagai keindahan mempesona, maka surga pun berharap penghuninya adalah orang-orang mempesona juga. Mempesona dalam beribadah dan beramal saleh selama hidup di dunia...

Itulah permintaan yang sebenarnya bisa dinalar, bahwa baik akan diganjar kebaikan, dan buruk juga akan diganjar dengan keburukan. Maka ganjaran baik itu adalah surga, sedang neraka tempat bagi keburukan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam pun memberi pemahaman lewat sebuah hadits, agar di bulan suci Ramadhan umatnya melakukan dua hal: Senantiasa memohon surga kepada Allah, dan berlindung dari siksa neraka.

Surga dan neraka itu alam kekal, yang mesti ditempuh. Sedang perjalanan di dunia merupakan bekal ke alam kekal. Ini setiap muslim imani, bukan kisah fiksi yang meski berakhir dengan semestinya. 

Karenanya, kita semua merindu surga dan berharap surga pun merindu. Maka hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam telah mendeskripsikan empat golongan manusia yang dirindu surga, “Surga itu rindu pada empat golongan, yaitu orang yang membaca Alquran, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, orang yang menjaga lisannya, dan orang yang memberi makan orang yang kelaparan.”

Orang yang berpuasa di bulan suci Ramadhan menjadi salah satu dari golongan yang dirindu surga. Dan jika tiga golongan lainnya itu kita intensifkan di bulan Ramadhan, maka kita akan mengunduh pahala yang begitu besar, yang sukar untuk dihitung karena begitu besarnya pahala yang kita dapatkan. Maka surga akan makin merindu memanggil untuk dimasukinya.

Membaca Alqimal bisa mengkhatamkannya sekali selama Ramadhan, juga lisan kita senantiasa hanya berbicara pada hal-hal kebaikan saja, dan menghindar dari bicara yang tidak perlu atau bahkan ghibah. Ditambah memberi makanan untuk berbuka orang yang sedang berpuasa (ifthar).

Rahman Rahimnya Allah agar dirindu surga, Allah dekatkan pada umat-Nya. Dalam satu kesempatan (empat kriteria di atas), yaitu jika dilakukan di bulan Ramadhan maka umat-Nya akan mendapat surga sebagaimana yang dijanjikan.

Diharapkan amalan-amalan yang dirindu surga itu akan terus kita pertahankan di sebelas bulan kemudian, hingga bertemu Ramadhan yang akan datang. Jika itu bisa kita lakukan, maka kita lulus sebagai siswa pada “madrasah” Ramadhan. Lulus dengan sempurna menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang menjalankan semua perintah Allah, dan menghindar dari seluruh perbuatan yang dilarang-Nya.

Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, seorang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam, mendefinisikan takwa dengan amat baik, “Kesempurnaan takwa ditunjukkan oleh seorang hamba yang menjaga dirinya, bahkan menjaga dirinya dari sesuatu yang sekecil apa pun itu. Yakni sampai dia bisa menjaga diri dari hal-hal yang dihalalkan sekalipun, agar jangan sampai terperosok kepada hal-hal yang dilarang Allah (yang haram).”

Bisa jadi perkataan yang dibuat Abu Darda’ di atas bersumber dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam yang menegaskan, “Seorang hamba tidak dapat sampai pada derajat kaum muttaqin, sehingga dia meninggalkan sesuatu yang semula dibolehkan, karena khawatir berbagai hal tersebut akan menjerumuskannya pada sesuatu yang tidak diperbolehkan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Bulan suci Ramadhan merupakan karunia Allah kepada para hamba-Nya, agar dapat mengambil momentum tertentu untuk melaksanakan ibadah dengan penuh kesungguhan dan ketaatan kepada-Nya... Ramadhan juga memberi motivasi yang amat tinggi terhadap hamba-Nya yang berpuasa, guna meraih pahala kebaikan yang berlipat ganda.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam bersabda, yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga (semuanya) dibukakan, dan setan-setan dalam kondisi terbelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesempatan yang terbuka lebar untuk memasuki surga-Nya, telah dibentangkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang menjalankan dan mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan terbaik. Sungguh merugi mereka yang tidak mengambil momentum itu...

Karenanya, patutlah kita tingkatkan ibadah dan amalan di bulan Ramadhan dengan setidaknya “empat kriteria” di atas dapat kita penuhi, agar cinta kita pada surga tidak bertepuk sebelah tangan: Kita dan surga saling merindu.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB