Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Debat Publik dan Gagasan Kontestan Pilkada

Ahad 13 May 2018 21:00 WIB

Red: Agus Yulianto

Bambang Ari Satria, Dosen STISIPOL Pahlawan 12 Bangka)

Bambang Ari Satria, Dosen STISIPOL Pahlawan 12 Bangka)

Foto: dok. Pribadi
Sayangnya, debat publik tersebut belum mampu menyentuh persoalan substantif yang ada.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bambang Ari Satria *)

 

Hal terberat dalam kampanye politik apapun adalah bagaimana menang tanpa membuktikan bahwa Anda tidak layak untuk menang. Kalimat bijak politik yang dikemukakan Adlai Stevenson, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat ini sebagai pengantar tulisan penulis yang berangkat dari debat publik yang diselenggarakan KPU Bangka di Tanjung Pesona, Rabu Malam (9/5). 

Tahapan kampanye pilkada Bangka yang diikuti tiga pasangan calon yang maju dalam kontestasi sudah masuk dalam fase debat publik. Tahapan ini tentunya bagaimana publik melihat, mencatat, dan merekam janji-janji politik para paslon untuk mendesain pembangunan daerah Bangka lima tahun kedepan. Pesan ini diingatkan KPU sebagai penyelenggara ketika membuka awal debat publik.

Setidaknya, minimal ada tiga alasan debat publik pilkada perlu dilaksanakan. Pertama, sebagai panduan untuk memilih siapa yang layak untuk jadi pemimpin daerah kedepan. Kedua, dalam demokrasi modern, debat sebagai salah satu instrumen penting menakar kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin daerah. Ketiga, meyakinkan swing voters menentukan pilihannya.

Lantas, bagaimana gagasan para paslon untuk membangun Bangka yang tertuang dalam visi misi? Paslon I sebagai petahana menggagas visi Bangka Paripurna. Sebagai petahana, tentu pembangunan daerah mesti dituntaskan dan diparipurnakan. Visi ini dianggap mampu mengarahkan dan menjawab secara tuntas pembangunan dan seluruh tantangan pembangunan di kabupaten Bangka. Visi Bangka Paripurna kemudian dijabarkan dalam misi pariwisata berkelas dunia, agroindustri yang melibatkan banyak masyarakat, akses infrastruktur yang handal disertai tata kelola pemerintahan yang mumpuni.

Kemudian, gagasan paslon II adalah menuju Bangka Sejahtera dan Mulia. Visi tersebut akan dicapai melalui pembentukan birokrasi pemerintahan yang bersih dan profesional yang mengutamakan pelayanan publik terpadu dan efisien dengan menerapkan teknologi informasi, meningkatkan kualitas SDM berakhlak, berbudaya dengan kearifan lokal melalui pendidikan formal dan informal, meningkatkan pelayanan kesehatan secara prima, pola hidup sehat dan jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, meningkatkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Kabupaten Bangka melalui pembenahan infrastruktur daerah untuk mendukung pengembangan ekonomi kerakyatan dengan meningkatkan produktivitas hasil bumi dan potensi hasil laut, mendorong percepatan ekonomi kerakyatan melalui ekonomi kreatif, mengembangkan potensi destinasi wisata daerah berupa daya tarik budaya kearifan lokal dan potensi bahari untuk menarik wisatawan lokal, nusantara, maupun mancanegara. Adapun program prioritas paslon ini adalah Bangka Melayani, Bangka Pintar, Bangka Sehat, Bangka Beriman, Bangka Sejahtera plus Memuliakan Orang Tua.

Sementara, untuk Paslon III, gagasan politik yang ditawarkan untuk Bangka ke depan adalah menjadikan Kabupaten Bangka Induk maju dan berkembang dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional menuju kesejahteraan rakyat. Adapun cara pencapaiannya adalah melalui peningkatan ekonomi kerakyatan dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah, memanfaatkan sumber daya alam Bangka seutuhnya, membuat pengembangan infrastruktur melalui investor dari luar dengan sistem kemanfaatan bersama, menyediakan enam skala prioritas bagi masyarakat Kabupaten Bangka Induk, yakni pangan, pekerjaan, perumahan, pendidikan, kesehatan dan fasilitas pendukung lainnya. Untuk program prioritasnya disiapkan melalui lima kartu pacak untuk mensejahterakan masyarakat, itu mulai dari Kartu Pacak Sekulah, Kartu Pacak Usaha, Kartu Pacak Berubat, Kartu Pacak Betani dan Kartu Pacak Melaut. 

Setelah membaca visi misi ketiga paslon secara detail dan menyeluruh, kemudian bagaimana visi misi yang ditulis dan digagas tersebut disampaikan dalam forum debat untuk menyakinkan pemilih menentukan pilihannya. Dalam debat, penulis merangkum, ada 4 aspek yang dinilai. 1. Aspek retorika, yakni kemampuan paslon menyampaikan gagasan. 2. Aspek manajemen forum, yakni kemampuan mengelola dialektika, pemanfaatan pilihan isu, dan optimalisasi waktu. 3. Aspek ketegasan dalam memposisikan diri, siapa cabup dan siapa cawabupnya dan 4. Aspek impresif, yakni kemampuan paslon menyentuh dan meyakinkan nalar publik.

Debat publik Pilkada Bangka yang dimoderatori oleh Irene Sugiharto dibagi menjadi enam segmen. Yakni segmen 1 (Pemaparan Visi Misi), segmen 2 (Penajaman Visi Misi), segmen 3 (Tanya Jawab), segmen 4 (Debat Antar Paslon), segmen 5 (Lanjutan Debat Antarpaslon) dan segmen 6 (Closing Statement). 

Segmen 1 merupakan segmen pemaparan visi misi. Segmen ini cenderung dikuasai paslon I. Dikuasainya segmen ini oleh paslon I karena paslon tersebut mampu menjabarkan visi misi secara variatif dan sesuai dengan kondisi daerah saat ini, dimulai dari menuju pariwisata berkelas dunia, agroindustri yang melibatkan banyak masyarakat, akses infrastruktur yang handal disertai tata kelola pemerintahan yang mumpuni. Paslon I menguasai aspek retorika, aspek manajemen forum dan aspek ketegasan dalam memposisikan diri. Sedangkan paslon II, visi misi dibaca dan tidak dihayati. Kesannya, paslon tidak begitu mendalam mengetahui visi misinya. Sementara, paslon III dalam penyampaian visi dalam debat agak fokus kepada support pelaku UMKM. 

Kemudian segmen II, yakni penajaman visi misi. Dalam penajaman visi misi, moderator bertanya kepada para paslon terkait visi misi. Paslon III lebih menguasai segmen ini karena mampu menjawab pertanyaan terkait visi kesejahteraan rakyat terkait strategi dan upaya mencapai kesejahteraan dalam bonus demografi. Pertanyaan ini dijawab dengan tegas dan lugas karena dari awal paslon ini concern terkait kesejahteraan rakyat di kabupaten Bangka. Aspek yang diunggulkan paslon III dalam segmen ini adalah aspek retorika, aspek manajemen forum dan aspek impresif. 

Sementara, paslon I mendapat pertanyaan untuk penajaman visi misi terkait antisipasi isu intoleransi di kabupaten Bangka. Pertanyaan ini dijawab agak normatif oleh paslon. Antisipasinya dengan cara sering berdialog dengan FKUB, pencerdasan lewat pendidikan dan mengedepankan 4 pilar pembangunan. Sedangkan paslon II mendapat pertanyaan terkait program Bangka Pintar. Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tentu dengan biaya tinggi. Bagaimana strategi paslon dengan menghadirkan pendidikan murah namun berkualitas? 

Segmen III adalah segmen tanya jawab. Segmen ini dikuasai paslon I. Pertanyaan terkait dengan bagaimana memastikan koalisi parpol agar mendukung pembangunan daerah dan tidak terlibat konflik kepentingan dijawab dengan argumen yang tepat. Mereka bertekad tidak ada intervensi parpol jika terpilih nanti dan minta diserahkan kepada masyarakat. Kemudian proyek yang ada di pemda sudah diatur melalui e-tender, e-planning dan e-budgeting. Aspek yang unggul dari paslon I adalah aspek manajemen forum dalam hal kemampuan mengelola dialektika dan optimalisasi waktu. Sementara paslon II mendapat pertanyaan bagaimana cara memuliakan orang tua melalui insentif sebagaimana tertuang dalam program strategis. 

Segmen IV adalah segmen debat antar kandidat. Segmen ini dikuasai paslon III. Paslon III bertanya ke paslon I terkait upaya 10 ribu lapangan kerja dan regulasi bidang pertanian, sementara harga produk pertanian terus menurun. Terkait regulasi, paslon I tidak mampu menjawab secara gamblang, padahal salah satu visi petahana pada periode sebelumnya adalah pertanian tangguh. Adapun paslon III mendapat pertanyaan dari paslon II, namun pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan visi misi paslon III. Paslon III unggul dalam aspek manajemen forum dalam hal memanfaatkan pilihan isu.

Segmen V adalah segmen lanjutan debat kandidat. Segmen ini dikuasai oleh paslon I. Paslon I mendapat pertanyaan dari paslon II terkait konsep pariwisata yang mendunia. Ini dijawab secara lugas oleh paslon I karena sebagai petahana proses ini sedang berjalan. Salah satunya melalui KEK Pariwisata. Sementara paslon I bertanya ke paslon III terkait peran kontribusi cabup paslon III sebagai Direktur LPDB ketika itu untuk Kabupaten Bangka.

Sementara, di segmen VI sebagai segmen akhir berupa closing statement. Segmen ini dikuasai paslon I dengan memaparkan prestasi dan capaian kerja yang sudah dicapai selama menjabat. Tak hanya itu, ucapan terima kasih kepada masyarakat Bangka atas dukungan pembangunan daerah juga menjadi nilai tambah. Paslon I unggul dalam aspek manajemen forum dan aspek impresif. Sementara, dua paslon lainnya menutup segmen ini dengan tidak begitu substansif menyampaikan gagasan penutup.

Dalam debat, catatan lainnya adalah pertanyaan yang diracik oleh panelis terlalu umum dan normatif, tidak berbasis kedaerahan dan tidak ada ungkapan data sehingga masyarakat tidak dihadirkan dengan gagasan membangun daerah yang disampaikan paslon. Untuk moderator, kurangnya ketegasan, pertanyaan yang diulang mestinya tidak terjadi karena jalannya debat milik moderator, tak perlu confirm ke audience. Straight waktu terlalu sedikit sehingga gagasan yang disampaikan paslon tidak utuh dan masyarakat tidak mampu menilai gagasan yang tidak utuh tersebut untuk Bangka lima tahun kedepan.

Secara keseluruhan, debat publik tersebut belum mampu menyentuh persoalan substantif yang ada di Kabupaten Bangka seperti isu tambang, lingkungan, pertumbuhan ekonomi dan gender. Padahal, isu besar ini berlangsung lama di Bangka dan belum terselesaikan. Ini disebabkan karena para panelis tidak mampu menggiring pertanyaan ke arah itu. Ada indikasi, panelis kurang membaca data dan permasalahan pembangunan di Bangka. Selain itu, format debat terlalu kaku dan formalitas sehingga gagasan utama tidak tersampaikan. Padahal, tujuan utama debat publik ini adalah para paslon menyampaikan gagasannya. Semoga debat publik yang diselenggarakan penyelenggara pilkada tersebut mampu mencerdaskan masyarakat untuk menentukan pilihannya.

 

*) Dosen STISIPOL Pahlawan 12

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 August 2018, 23:56 WIB