Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Pancasila Market Ekonomi (PME): Jangan Preteli Pancasila

Selasa 17 April 2018 04:00 WIB

Red: Agus Yulianto

  Tokoh Perubahan Republika 2013, (dari kiri) Gamal Albinsaid, Iko Uwais, Abraham Samad, Ridwan Hasan Saputra, dan  yang mewakili Indra Sjafri.     (Republika/Prayogi)

Tokoh Perubahan Republika 2013, (dari kiri) Gamal Albinsaid, Iko Uwais, Abraham Samad, Ridwan Hasan Saputra, dan yang mewakili Indra Sjafri. (Republika/Prayogi)

Foto: Republika/Prayogi
Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan Pancasila secara keseluruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: dr Gamal Albinsaid M Biomed *)

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berdiskusi dengan Eyang Habibie tentang konsep Pancasila Market Economy (PME). Kemudian, saya sengaja menghabiskan hari demi hari untuk memahami dan menerjemahkan prinsip Pancasila Market Economy (PME) dalam perspektif saya sesuai arahan Eyang Habibie.

Izinkan saya membahasanya dalam perpektif sila Pancasila, antara lain:

 

Pertama, Pancasila Market Economy dalam perpektif Ketuhanan Yang Maha Esa menghadirkan sebuah pemahaman bahwa sumber daya dipandang sebagai pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kehidupan orang banyak.

Kedua, Pancasila Market Economy dalam konteks Kemanusiaan yang adil dan beradab dapat kita wujudkan dalam implementasi sistem perekonomian yang bukan hanya menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai orientasi pembangunan. Tetapi memastikan besarnya dampak ekonomi pada tumbuhnya kualitas sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pemenuhan-pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam konteks pemerataan, dan perkembangan masyarakat yang berkeadilan.

PME ini harus mampu mendorong tercapainya sumber daya manusia yang berkualitas, beriman, bertakwa yang dihasilkan dari proses pembudayaan agama dan norma masyarakat. PME ini juga harus membentuk masyarakat yang punya kapasitas dan berdaya saing.

Ketiga, Pancasila Market Economy dalam perpektif Persatuan Indonesia adalah ekonomi harus digerakkan dengan semangat kerja sama manusia yang saling menguntungkan, menjadikan kehidupan sesama lebih baik, mempererat persatuan, dan menerapkan prinsip gotong royong. PME dalam konteks Persatuan Indonesia harus dilihat sebagai aktivitas yang menunjukkan tolong-monolong dan menanggung beban hidup dan tanggung jawab bersama-sama.

Keempat, Pancasila Market Economy dalam konteks Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan perwakilan dapat dilihat sebagai adanya sebuah tatanan, kebijakan, dan regulasi yang memberikan dukungan kepada masyarakat ekonomi lemah. PME harus membuat peraturan yang mampu mengawal dalam pembangunan pasar berkeadilan yang memberikan peluang dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat dan pelaku usaha.

Pancasila Market Economy akan memudahkan kita melihat dan membedakan perusahaan-perusahaan mana yang punya misi pembangunan sosial dan pancasilais. Kita juga akan mampu melihat perusahaan-perusahaan mana yang menjelma menjadi VOC gaya baru, mengambil sumber daya di Indonesia, menjajah hak-hak keadilan sosial masyarakat Indonesia, dan anti-Pancasila. Konsep Pancasila Market Economy harus mendorong dan memberikan keberanian melawan VOC–VOC gaya baru ini.

Kelima, Pancasila Market Economy dalam perspekif keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus dilihat pada perpektif kepemilikan aset, tanah, modal tidak boleh bertumpuk pada segelintir orang yang berakibat pada ketidakmampuan sebagian masyarakat mendapatkan hak-hak sosial dan hak-hak dasarnya dalam kehidupan. Secara praktis, Pancasila Market Economy tidak boleh membiarkan ada orang atau sedikit masyarakat yang memiliki kekayaan yang sangat besar, namun disisi lain ada masyarakat yang tak mampu berobat, tak mampu menyekolahkan anak-anaknya, tak mampu mendapatkan makanan, dan tak mampu tinggal di tempat yang layak.

Pancasila Market Economy tidak akan membiarkan akumulasi kekayaan yang melampaui batas pada satu atau kelompok orang dan memberikan kesengsaraan kepada sebagian besar masyarakat lain. Ya, tidak boleh terjadi so few have so much, so many have so little di negeri Indonesia.

Akhir kata, titik utama dari nasehat Eyang Habibie yang saya tangkap adalah adanya kesungguhan untuk menjamin, memastikan, dan mendorong penerapan Pancasila secara menyeluruh, termasuk dalam ekonomi. Saya secara pribadi melihat bahwa Pancasila Market Economy tidak boleh disimplifikasi dalam mengejawantahkan sila kelima Pancasila saja. Tapi lebih dari itu, Pancasila Market Economy mampu membawa nilai luhur kelima sila Pancasila dalam penerapan ekonomi yang berfokus pada tercapainya tujuan berbangsa dan bernegara.

Pada implementasi konsep ini, saya pikir kita pemuda Indonesia harus mulai menyuarakan dan mengawal Pancasila Market Economy. Konsep Pancasila Market Economy harus menerapkan pancasila secara keseluruhan sebagai sebuah kesungguhan dan harus seimbang. Tidak boleh dipreteli seenaknya. Jika pancasila dipreteli seenaknya jangan kaget kalau bangsa ini dikuasai oleh segelintir orang.

*) Penulis adalah tokoh perubahan Republika

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES