Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Hijab, Perempuan dan Pembebasan: Tanggapan untuk Sukmawati

Selasa 03 April 2018 17:50 WIB

Red: Muhammad Subarkah

 Sukarno dan fatmawati

Sukarno dan fatmawati

Foto: commons.wikimedia.org
simbol konde yang ditawarkan Sukmawati justru simbol dalam era dan sistem patriakat.

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan*

Di atas panggung Anna Aventie, produsen kebaya ternama, Sukmawati Soekarnoputri, melalui puisi, mengatakan bahwa wanita berkonde lebih indah dari wanita bercadar, dan suara kidung ibu Indonesia lebih indah dari suara azan. Setelah diawali pernyataan, "saya tak kenal syariat Islam".

Sukmawati melakukan dua hal pada saat itu, pertama, Sukma menegaskan bahwa perempuan Indonesia itu mempunyai identitas yang berbeda dengan perempuan Islam, khususnya ibu Indonesia itu adalah perempuan berkonde dengan kebaya, bukan perempuan dengan berjilbab. Kedua, Sukma menggunakan panggung "Fashion Show", sebuah industri kapitalis, untuk menyampaikan pesannya ini. Artinya, atau dapat dimaknai, Sukma bersekutu dengan kapitalisme menyerang identitas Islam.

Wacana yang disampaikan Sukma menarik untuk ditanggapi. Pertama, apakah perdebatan soal perempuan dipanaskan sebatas kecantikan alami berkonde vs. bercadar? Bukankah itu sudah menjadi diskursus kaum feminisme abad lalu? kedua, apakah kebaya sebagai simbol identitas berkontestasi dengan hijab? Bukankah runtuhnya kebaya sebagai simbol keterbelakangan dan kebodohan perempuan terjadi ketika Suharto mengimpor faham liberal dan kapitalisme ke Indonesia?

Ketiga, apakah Sukma sedang melakukan langkah politik untuk menyerang calon gubernur dan wakil gubernur perempuan tertentu yang sedang bekontestasi dalam pilkada di Jawa?

Dalam pentas perempuan nasional saat ini, umpamanya, kita melihat adanya model Rini Sumarno, yang gambarnya terekspos hampir bersentuhan dengan lelaki Batak beristri, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), ketika Rini menyentuh dasi pak LBP dengan tangannya. Perempuan kudua adalah Susi Pudjiastuti, perumpuan dengan pamer tato di kakinya dan merokok di publik dan ketiga kofifah, dengan kerudung (hijab/cadar) yang selalu tampil kalem di publik.

Tidak ada ketiga wanita itu memakai kebaya sehari harinya. ataupun berkonde. Pertanyaannya, bagaimana Sukma menilai ketiga orang di atas? Mengapa Sukma tidak menyerang negara yang tidak mewajibkan konde dan kebaya bagi elit elit nya?

Sesungguhnya , feminitas yang diidentikkan dengan keindahan rambut, tubuh, suara perempuan, memang sudah ada sejak jaman Cleopatra. Namun, merujuk pada feminitas natural seperti ini, itu tidak menjelaskan posisi dan hirarki perempuan dalam sistem Sosial yang ada. Apalagi dikaitkan dengan analisa power.

R A Kartini dan saudarinya, misalnya,  sibuk sepanjang hari berkonde dan menata rambutnya dalam sistem patriakat yang mengurung mereka di rumah, tanpa pendidikan. Mereka memang dipersepsikan akan cantik  (ayu) dengan rambut berkonde dan pakaian berkebaya pada usia belianya. Tapi dalam persepsi siapa?

photo

.....

Dalam filmnya, Kartini justru sadar dan menolak  pemingitan dirinya dengan konde dan kebaya hanya untuk menjadi komoditas sex para bupati dan ningrat jawa kala itu. Mereka resah tubuh dan keayuannya serta seluruh hidupnya, hanya akan segera sirna dipelukan ningrat2 beristri, hanya dijadikan selir. Kartini mengidolakan pembebasan prempuan pada sosok wanita Belanda, teman korespondensinya, yang dia bayangkan tanpa kebaya, tanpa konde, tetapi rajin membaca.

photo

Sukmawati Sukarnoputri

Jadi, kalau Sukmawati mencari akar pertempuran identitas antara perempuan "ibu berkonde" versus lainnya, tentu bukan pada busana muslimah sebagai lawan. Konde dan kebaya sesungguhnya kalah melawan imajinasi wanita wanita kita tentang wanita hebat, seperti dalam mimpi Kartini. Sebuah mimpi yang dibawa modernisasi dan westernisasi. Disinilah kesalahan Sukmawati.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA