Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Kamis, 7 Syawwal 1439 / 21 Juni 2018

Pelemahan Rupiah atau Penguatan Dolar AS?

Senin 12 Maret 2018 05:19 WIB

Red: Elba Damhuri

Sunarsip

Sunarsip

Foto: istimewa
Sejumlah faktor menyebabkan pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Sunarsip

Dalam sebulan terakhir, nilai tukar rupiah melemah cukup tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah menyentuh Rp 13.794 per dolar AS.

Pelemahan rupiah atau penguatan dolar AS ini berpotensi menimbulkan dampak ikutan lain, khususnya yang terkait pemenuhan kewajiban kepada pihak luar negeri, seperti pembayaran utang luar negeri (ULN) maupun impor.

Beban pembayaran ULN menjadi lebih besar serta impor menjadi terasa lebih mahal. Kondisi ini bila tidak segera pulih berpotensi menghambat laju pemulihan kinerja industri serta konsumsi rumah tangga.

Pelemahan rupiah atau penguatan dolar AS ini memang di sisi lain juga memberikan dampak positif, khususnya bagi ekspor. Namun, bila melihat kinerja ekspor dan impor saat ini, dengan perbaikan ekspor kita lebih banyak ditopang kenaikan harga, pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpeluang menggerus surplus neraca perdagangan kita.

Dengan demikian, memang akan lebih positif bagi neraca perdagangan (ekspor impor) kita bila nilai tukar rupiah bergerak stabil di kisaran yang ditetapkan APBN 2018, yaitu Rp 13.400 per dolar AS.

Muncul pertanyaan terkait apa yang terjadi pada nilai tukar rupiah ini. Pertanyaan tersebut umumnya berkisar apakah pelemahan rupiah ini disebabkan oleh kinerja perekonomian kita atau oleh faktor lain.

Lalu, sampai kapan kondisi ini akan berlangsung? Apakah hanya sementara atau akan lama? Tulisan ini akan mencoba menjawab sejumlah pertanyaan ini serta mengajukan saran terkait langkah antisipasinya.

Kinerja suatu mata uang pada umumnya dipengaruhi dua hal. Pertama, kekuatan fundamental ekonomi negara bersangkutan. Kedua, kondisi eksternal seperti kinerja perekonomian negara lain dan ekonomi global.

Suatu negara dengan fundamental ekonomi yang kuat pada umumnya mata uangnya akan relatif lebih kuat. Contohnya adalah Amerika Serikat. Karena secara fundamental ekonomi AS relatif lebih kuat dari negara lain, dolar AS juga memiliki kecenderungan sebagai mata uang yang kuat. Nilai tukar dolar AS memang tetap bergerak naik turun, tetapi nilai alamiahnya akan relatif lebih kuat daripada mata uang lainnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Spanyol Taklukkan Iran 1-0

Kamis , 21 Juni 2018, 03:21 WIB