Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Daur Banjir Jakarta yang Hantam Setiap Gubernur

Senin 12 February 2018 01:02 WIB

Red: Agus Yulianto

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan kunjungan ke wilayah yang terkena banjir di Gang Arus, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (6/2).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan kunjungan ke wilayah yang terkena banjir di Gang Arus, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (6/2).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Hujan yang mengguyur Ibu Kota pada Senin (5/2) hanya hujan yang moderat.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Dewanto Samodro *)

 

Banjir sudah lama menjadi salah satu permasalahan di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan terus terjadi tanpa peduli siapa yang saat itu sedang menjabat sebagai gubernur. Banjir, sebagaimana bencana yang lain, memang tidak bisa diajak berkompromi secara politik, meskipun akan selalu menjadi komoditas politik.

Banjir, dan bencana lain yang diakibatkan ulah manusia, seolah-olah hanya bisa dihadapi setiap tahun dan akan terus menghantam Gubernur DKI Jakarta, siapa pun yang sedang menjabat. Tercatat beberapa kali kejadian banjir yang menyebabkan kerugian cukup besar, baik materiil maupun jiwa.

Pada 2007, Jakarta dan sekitarnya dihantam banjir sejak 1 Februari malam. Hujan lebat yang berlangsung sejak 1 Februari sore hingga 2 Februari menyebabkan volume air di 13 sungai yang melintasi Jakarta dan berhulu di Bogor, Puncak dan Cianjur itu meluap.

Sistem drainase yang buruk ditambah air laut yang sedang pasang menyebabkan hampir 60 persen wilayah Jakarta terendam banjir. Di beberapa lokasi, banjir mencapai kedalaman hingga lima meter.

Banjir pada 2007 itu lebih luas dan menyebabkan korban jiwa lebih banyak dibandingkan bencana serupa pada 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas dalam waktu 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.

Kerugian materiil akibat perputaran bisnis yang terhenti diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun. Warga yang mengungsi hingga 7 Februari 2007 mencapai 320 ribu orang.

Banjir yang terjadi saat Gubernur Sutiyoso menjabat itu menyebabkan banyak jalan yang rusak. Diperkirakan 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan yang terjadi mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam.

Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 centimeter.

Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung.

Kerugian juga terjadi di Kabupaten Bekasi yang diperkirakan mencapai Rp551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak dan sedikitnya 7.400 hektare sawah terancam puso.

Banjir 2013

Ada yang menyebut daur banjir besar di Jakarta terjadi setiap lima tahun sekali. Seolah membenarkan anggapan itu, banjir besar kembali terjadi pada 2013. Saat itu, Gubernur Joko Widodo yang menjabat.

photo

Banjir Jakarta: Warga melintasi salah satu ruas jalan Jakarta yang direndam banjir, Kamis (17/1/2013)

Banjir 2013 terjadi pada Januari dan menyebabkan Jakarta dinyatakan dalam keadaan darurat. Banjir sebenarnya sudah dimulai sejak Desember 2012, dan baru mencapai puncaknya pada Januari 2013.

Hingga pertengahan Januari, Jakarta tercatat mencapai rekor curah hujan 250 milimeter hingga 300 milimeter. Curah hujan itu melebihi saat banjir Jakarta 2002 yang mencapai 200 milimeter, tetapi masih di bawah saat banjir 2007 yang mencapai 340 milimeter.

Selain curah hujan yang tinggi, banjir juga disebabkan sistem drainase yang buruk dan berbagai tanggul yang jebol sehingga volume 13 sungai di Jakarta meningkat. Kawasan Bogor, Bekasi, Depok dan Tangerang juga mengalami hal yang sama.

Tanggul di sisi Jalan Latuharhary, Jakarta Selatan, yang jebol menyebabkan air mengalir deras hingga ke Bundaran Hotel Indonesia. Lantai bawah tanah dari Gedung UOB yang memiliki ketinggian lantai dasar hampir sama dengan jalan dalam sekejap terendam.

Selama proses pengeringan, ditemukan korban dua orang meninggal dan dua lainnya dalam kondisi lemas dan kaku karena terendam air dalam waktu yang lama. Selain itu ditemukan setidaknya 47 mobil terendam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah resmi korban yang tercatat selama banjir Jakarta 2013 hingga 22 Januari adalah 20 orang karena tersetrum listrik, kedinginan, terpeleset atau jatuh, hanyut dan usia lanjut. Sebanyak 33.500 orang terpaksa mengungsi.

Gubernur Joko Widodo kala itu memperkirakan banjir 2013 menyebabkan kerugian hingga Rp20 triliun. Sedangkan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyebut terjadi kerugian ekonomi lebih dari Rp1 triliun.

Selain itu, Rp1 miliar harus dikeluarkan untuk menyiapkan kebutuhan pengungsi. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga memiliki taksiran kerugian hingga Rp116 miliar akibat fungsi pembangkit dan peralatan distribusi serta transmisi yang mengalami kerusakan karena tergenang air.

Banjir 2018

Sebagaimana gubernur-gubernur sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan yang belum setahun menjabat pun juga terhantam dengan banjir di Ibu Kota pada awal 2018. BNPB menyatakan hujan deras yang berlangsung sejak Minggu (4/2) di wilayah hulu Sungai Ciliwung menyebabkan status Bendung Katulampa Siaga I.

"Tinggi muka air di Bendung Katulampa telah mencapai 220 centimeter pada Senin (5/2) pukul 08.30 WIB sehingga berstatus Siaga I atau tingkat tertinggi," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo.

Sutopo mengatakan, status Siaga I di Bendung Katulampa ditetapkan bila tinggi muka air Sungai Ciliwung di atas 200 centimeter. Hanya dalam waktu 30 menit, tinggi muka air naik menjadi 230 centimeter dan berselang lima menit kemudian menjadi 240 centimeter. Sementara, saat itu hujan masih berlangsung di wilayah Bogor.

"Diperkirakan sekitar sembilan jam, air akan sampai di Pintu Air Manggarai, Jakarta," katanya.

Menurut Sutopo, Februari 2018 adalah puncak musim hujan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Potensi banjir akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan.

Sementara itu, Gubernur Anies Baswedan mengatakan, hujan yang mengguyur Ibu Kota pada Senin (5/2) hanya hujan yang moderat, bukan hujan yang luar biasa lebat. "Karena itu, langkah kita adalah mengantisipasi banjir kiriman yang datang dari arah selatan," katanya seusai meninjau Pintu Air Manggarai.

Anies mengatakan, berdasarkan informasi dari Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, kondisi Bendung Katulampa yang sama pernah terjadi lima tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya, meskipun ketinggian Bendung Katulampa mencapai 220 centimeter, hanya berlangsung selama setengah jam.

Baru sekarang, setelah lima tahun, ketinggian air mencapai 220 centimeter terjadi selama berjam-jam. Jadi bagi warga di sepanjang aliran Ciliwung, jangan anggap ini sebagai sesuatu yang sederhana.

Untuk mempercepat aliran air melalui sungai, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengangkat sampah yang ada di Pintu Air Manggarai. Pembersihan sampah sudah lebih dari 20 truk, lebih dari 200 ton sampah dan itu hanya di Pintu Air Manggarai.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiagakan seluruh pompa air untuk mengantisipasi banjir kiriman dari arah selatan. Ada lebih dari 200 pompa air di muara bekerja. Selain itu, ada lebih dari 30 mobil pompa bersiaga di sepanjang aliran sungai Ciliwung, dan 20 mobil pompa siaga di muara.

Tidak hanya pompa air, mobil-mobil pemadam kebakaran yang bisa menyedot air juga disiagakan di wilayah-wilayah yang memiliki kemungkinan tergenang.

"Semua kita siagakan di wilayah-wilayah yang berpotensi tergenang. Ada banyak lokasi sepanjang Sungai Ciliwung yang berpotensi tergenang," kata Anies.

BNPB mencatat, sebanyak 11.450 jiwa terdampak banjir Jakarta 2018 dan 6.532 jiwa mengungsi. Banjir meliputi 141 RT dan 49 RW di 20 kelurahan pada 12 kecamatan di Jakarta Timur, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Ribuan rumah terendam banjir

Pengungsi tersebar di 31 titik pengungsian di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Meskipun ribuan rumah terendam banjir, banyak warga yang tidak bersedia mengungsi.

Sebanyak 31 titik pos pengungsi dibuka oleh BNPB, BPBD DKI Jakarta, dan masyarakat di fasilitas umum seperti masjid, aula, kantor kelurahan, kantor kecamatan, ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA), fasilitas pendidikan, dan lainnya yang telah dihuni dan siap menerima warga yang akan mengungsi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, debit sungai di Jakarta mengalir lebih lancar sehingga berdampak positif terhadap penanganan banjir di Ibu Kota. Normalisasi Sungai Ciliwung yang dilakukan sebelumnya menyebabkan debit sungai menjadi lebih lancar mengalir.

*) Pewarta Antara

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES