Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Pemilu dan Harga Sebuah Kejujuran

Sabtu 20 Apr 2019 11:20 WIB

Red: Elba Damhuri

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Hanya dengan kejujuran, pemilu 2019 akan menjadi berkah bagi seluruh bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

“Cepat sembunyi!”

Di sebuah mobil menjelang pintu masuk Taman Jaya Ancol, seorang ayah memberi instruksi kepada kedua anak mereka untuk segera bersembunyi di bawah kursi.

Mendengar komando sang ayah, dua anaknya segera menyelinap di balik kursi. Persis seperti yang pernah diajarkan sebelumnya.

Tak lama berselang, petugas loket mendekat dan menghitung jumlah penumpang di dalam mobil. Dua anak yang bersembunyi tidak terlihat, mereka lolos. Berhasil masuk tanpa membayar tiket.

Setelah melewati gerbang masuk, mobil pun melaju. Anak-anak yang sebelumnya merunduk, kembali duduk di atas kursi. Satu keluarga di dalam kendaraan senang karena berhasil menghemat biaya tiket untuk dua orang. Sang anak pun bangga berhasil mengelabui penjaga.

Padahal, mungkin uang yang mereka hemat hanya Rp 5.000 per tiket, saat itu. Namun, tanpa sadar dengan harga murah, orang tua sudah menggadaikan kejujuran anaknya.

Mengingat cerita-cerita seperti itu dari kawan pada masa kecil, saya selalu mencontohkan kepada anak-anak untuk membayar sesuai kewajiban. Sungguh tidak sebanding harga kejujuran yang dibuang--jika orang tua mengajak berbohong--dibandingkan nominal sekecil itu.

Cerita berikutnya, saya kira akrab dan menjadi pemandangan umum ketika berada di keramaian supermarket atau mal besar.

Saya sedang bersama anak-anak ketika melihat gadis kecil dengan rambut berponi melangkah ceria mendekati Ibunya. Tangan mungilnya menggenggam satu mainan.

Sang ibu yang sepertinya keberatan terlihat berpikir keras. Mencari strategi agar tidak perlu membeli mainan yang harganya cukup mahal tersebut.

“Jangan, mainan ini tidak dijual.” Sejurus kemudian suaranya terdengar, mencoba memberi pengertian kepada putri kecilnya.

Namun, sang anak juga tidak bodoh, ia tidak percaya barang yang ada di tangannya tidak dijual. Bukankah mereka berada di department store besar? Mungkin begitu pikirnya.

Saya urung menjauh. Sebaliknya, menunggu adegan selanjutnya.

Melihat keraguan sang putri, ibu muda tersebut berusaha mencari penguat untuk mendukung kebohongannya.

Ia pun melambaikan tangan ke penjaga toko.

“Mas ini tidak dijual, kan?”

Sambil memberi kode agar anak muda dengan balutan seragam toko, tidak membantah. Walau awalnya mungkin berada dalam dilema, apakah ia harus mengikuti permainan pelanggan atau menjalankan tugas menjual barang, pendiriannya dengan cepat kalah oleh sorot mata tajam dan intonasi tegas yang mengulang kalimatmya. Segera si pemuda mengangguk.

“Iya, Dik, mainan ini tidak dijual.”

Sorot mata sang anak ragu, tetapi perlahan tangannya pelan-pelan meletakkan mainan tersebut.

Peristiwa sederhana, lumrah kata orang, tetapi sungguh membuat nurani berontak.

Mengapa ibu muda tersebut tidak memilih bersikap jujur?

Menjelaskan kepada si anak, harga mainan yang kemahalan. Atau bunda sedang tidak pegang uang. Mungkin menjelaskan saat ini membeli mainan bukan prioritas dan meminta ananda bersabar serta segudang penjelasan lain yang menghindarkan dirinya sebagai orang tua dari membohongi ananda.

Walau anak awalnya mungkin sulit mencerna, atau bahkan bingung dengan jawaban kita, buat saya hal itu lebih mulia daripada membohongi, apalagi membuat mereka terlihat atau merasa bodoh.

Dua kasus parenting di atas walau tak langsung tampak relevan dengan situasi pilpres dan pileg yang baru saja berlangsung.

Betapa kejujuran menjadi kunci penting untuk menyajikan pemilu yang damai. Seperti pernyataan tokoh nasional Din Syamsudin dalam satu acara televisi. Beliau mengingatkan bahwa damai adalah output dari LUBER JURDIL. Dengan kata lain, syarat utama sebuah kedamaian adalah kesadaran masing-masing pihak untuk mengawal proses dengan jujur dan adil.

Pemilu memang sudah berlangsung, alhamdulillah dalam damai. Meski menyisakan serpih-serpih catatan yang membuat kita mengira-ngira sistem parenting manakah yang menempa para politikus yang saat ini bertarung dalam pemilihan?

Baca Juga

Semoga mereka sosok yang diasuh orang tua untuk selalu mengutamakan kejujuran, dan bukan sebaliknya, bangga jika berhasil memanipulasi dan memperdaya orang lain. Atau lebih buruk lagi justru turut mengajak dan menganjurkan orang lain untuk berkonspirasi mendukung ketidakjujuran.

Pemilu jelas bukan tiket Ancol yang dulu harganya cuma Rp 5.000-an. Nominal sebuah kejujuran dalam pemilu sangat mahal sebab menyangkut harga diri bangsa, masa depan, penghormatan atas pilihan rakyat, serta biaya triliunan rupiah yang digelontorkan untuk pelaksanaannya.

Politisi yang dididik penuh kejujuran oleh orang tua, jika berkhianat, pasti sadar bahwa dia tidak hanya menyakiti generasi di masa depan, tetapi juga mengkhianati orang tua sendiri. Lebih dari itu mereka mengkhianati Tuhan, sebuah dosa besar yang pertanggungjawabannya di akhirat sangat mahal.

Semoga saja siapa pun yang terlibat dalam proses penyelenggaraan dari mulai TPS yang paling kecil, lalu pengawas dan penyelenggara tingkat kelurahan, kecamatan, hingga paling atas, setia dan tidak mematikan nurani.

Sebab hanya dengan kejujuran, pemilu akan menjadi berkah nasional bagi seluruh bangsa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA