Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Drama Maut di Gereja Surabaya

Selasa 15 Mei 2018 09:35 WIB

Red: Elba Damhuri

Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii Maarif

Foto: Republika/Daan
Mereka adalah korban dari praktik teologi maut yang diyakini para pelaku.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Baru saja drama maut usai di Mako Brimob pada 10 Mei setelah 36 jam berada dalam ketegangan tingkat tinggi, meledak pula drama maut yang lain di lokasi tiga gereja di Surabaya: Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia. Semua drama ini merupakan bintik-bintik hitam yang berbahaya dan brutal yang mengancam sistem keamanan masyarakat luas di Indonesia sejak meledaknya Bom Bali tahun 2002 yang silam.

Semua aksi terorisme ini telah mengguncangkan jagat raya, baik yang terjadi di Indonesia maupun mitranya di beberapa negara lain yang masih saja belum berakhir. Sungguh sangat menyakitkan bahwa banyak publik Barat yang menyimpulkan bahwa Islam itu identik dengan terorisme, sedangkan mayoritas mutlak Muslim sedunia menolak semua bentuk terorisme, bahkan tidak sedikit dari mereka telah jadi mangsa sadis terorisme.

Adalah sebuah penyesatan yang amoral bila ada pihak yang berusaha menggoreng bahwa tragedi-tragedi ini bertujuan untuk membelokkan perhatian publik yang disengaja oleh pemerintah karena dinilai lemah dalam perbaikan ekonomi. Bahwa pemerintah punya banyak kelemahan di sisi kinerjanya yang bagus, kita sudah maklum. Tetapi, jika pemerintah dituduh telah merekayasa drama maut ini, sungguh sudah keterlaluan.

Sikap ini sama sekali tidak menaruh simpati kepada para korban terorisme yang superbiadab itu. Memang, Densus 88 yang bertugas memburu teroris itu kadang kala tidak profesional dalam menjalankan tugasnya, sesuatu yang memerlukan perhatian serius dari pimpinan Polri.

Tragedi Surabaya semakin membuat batin kita terluka amat mendalam karena para pelakunya berasal dari sebuah keluarga: suami (47), istri (43), dan empat anak, yaitu dua laki-laki masing-masing 18 dan 16 tahun serta dua bocah perempuan dalam usia 12 dan 9 tahun. Total enam anak manusia telah terlibat dalam drama maut itu demi menjalankan doktrin teologi sesat yang berasal dari ISIS itu.

Dari sumber yang dapat dipercaya, kedua suami-istri memang pernah pergi ke Suriah dan kembali tahun 2017, sementara anak-anaknya tetap tinggal di Surabaya. Adapun dua bocah putri yang dibawa ibunya meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia tentu tidak mengerti apa-apa mengapa harus menjalani kematian yang sangat mengenaskan itu.

Saat artikel ini ditulis, Senin pagi, 14 Mei, sudah tercatat 13 yang tewas: tujuh jemaah gereja, enam pelaku. Jumlah yang terluka 43, sebagian besar jemaah ketiga gereja yang akan mengikuti misanya masing-masing pada hari Ahad, 13 Mei 2018. Rasa simpati dan empati kita yang tulus teruntuk jemaah yang wafat dan jemaah yang terluka. Mereka adalah korban dari praktik teologi maut yang diyakini para pelaku sebagai ujung tombak dari sayap ISIS yang sedang mengalami kekalahan di negara-negara asalnya.

Bagaimana reaksi Koordinator Front Moderat Mantan Pimpinan Kelompok Salafi Jihadis Sinai, Mesir, Syekh Shabra al-Qasimi, terhadap drama Surabaya? Berikut ini diturunkan kiriman Bung Mush’ab Muqoddas, mahasiswa Indonesia dan pengamat terorisme global di Kairo dengan sedikit perubahan tata tulis tertanggal 14 Mei jam 05.20: \"... Aksi teror ledakan gereja Surabaya yang dilakukan oleh sekeluarga beserta anak-anaknya merupakan bentuk aksi teror pertama kali dalam sejarah kelompok Salafi Jihadis karena biasanya para pelaku teror tetap memiliki rasa kasih kepada anak-anaknya. Pada benak para pelaku aksi-aksi teror di Indonesia masih adanya khayalan akan masifnya gerakan-gerakan misionaris yang dianggap bahaya bagi umat Islam sehingga melancarkan aksi sampai luar batas kemanusiaan.”

Dari pengamatan al-Qasimi di atas menjadi jelas bahwa menjadikan anak-anak sebagai peserta bom bunuh diri adalah yang pertama kali dilakukan dalam gerakan terorisme jihadis. Dan itu terjadi di negara Pancasila kita yang kondisinya jauh lebih baik dan aman dibandingkan dengan situasi runyam di beberapa negara Arab. Kapan kira-kira berakhirnya drama maut ini di muka bumi? Bergantung pada pemahaman kita yang lurus dan benar terhadap agama.

Selama orang masih saja menundukkan ajaran dan penafsiran agama kepada syahwat kekuasaan, selama itu pulalah drama maut akan sukar dihindari. Indonesia harus tampil sebagai garda terdepan dalam memelopori penafsiran agama yang benar dan lurus ini!

Baca Juga: Anak Butuh Penjelasan Terorisme dari Orang Tua

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Jamaah Haji Berwukuf di Arafah

Senin , 20 Agustus 2018, 23:56 WIB