Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Sunday, 8 Zulhijjah 1439 / 19 August 2018

Trump Mempersatukan Dunia untuk Melawannya

Senin 18 December 2017 05:01 WIB

Red: Elba Damhuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

Setiap keputusan tentu ada sisi positif dan negatif. Termasuk keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebagai bentuk pengakuan itu, Trump juga akan memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Kota Suci itu. Lalu di manakah sisi positifnya? Jawabannya adalah seluruh dunia kini untuk pertama kalinya bangkit bersatu melawan Zionis Israel dan sekutunya, Amerika Serikat. Dan, yang mempersatukan dunia itu adalah Presiden Trump.

Posisi AS-Israel di satu sisi dan seluruh dunia di sisi lain tentu bukan biasanya, alias luar biasa. Lihatlah, sidang Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) beberapa hari setelah keputusan Trump itu. Sejumlah 14 negara anggota DK PBB bersatu melawan Washington yang sendirian. Keputusan mengenai Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak ada yang mendukung kecuali AS sendiri. Inilah yang semestinya membuka mata si Trump.

Apalagi, kondisi dalam negeri AS sendiri sedang memburuk. Begitu juga Israel. Bahkan sebelum keputusan Si Trump tersebut. Sikap congkak tentu bukan pintu kemenangan bagi AS. Bisa saja negara itu justru terjerumus dalam bahaya bila salah perhitungan. Di pihak Palestina memang harus membayar dengan darah.

Namun, mereka akan mendapatkan ganti yang lebih banyak. Mantan direktur intelijen Israel, Ami Ayalon, telah menyampaikan tentang ‘kondisi eksplosif’ yang akan dihadapi negaranya. Sementara itu, para pimpinan militer Israel juga telah memperingatkan otoritas politik negara itu mengenai situasi keamanan yang memburuk.

Semua itu terjadi seiring dengan perubahan sikap masyarakat Eropa terhadap konflik Palestina-Israel. Gambaran tentang penderitaan, ketidakadilan, pelecehan, dan penghinaan yang dihadapi warga Palestina setiap hari yang beredar di media sosial telah membuka mata mereka.

Juga keberadaan komunitas Arab dan Muslim di Eropa yang terus bertambah, baik karena kelahiran maupun imigrasi. Kemarahan mereka, terutama anak-anak muda, akan sangat membahayakan keamanan nasional di negara-negara Eropa.

Apalagi, mereka pun masih menghadapi bahaya penyebaran terorisme, terutama dari anak-anak muda yang telah bergabung dengan kelompok-kelompok teroris di Timur Tengah. Beberapa bom dan aksi bunuh diri telah membuat para pemimpin Eropa lebih hati-hati dalam mengambil keputusan. Mendukung keputusan Trump justru bisa mempersubur kelompok-kelompok ektremis dan radikalis.

Keberadaan generasi ketiga para imigran Arab dan Muslim juga telah membuat suara Palestina terdengar nyaring di Eropa. Mereka sangat aktif membela dan mempromosikan kepentingan Palestina. Antara lain dalam bentuk aksi-aksi unjuk rasa di depan sejumlah Kedubes AS di negara-negara Eropa. Aksi-aksi demonstrasi mereka ini tidak kalah penting dengan aksi-aksi serupa di negara-negara (mayoritas) Muslim.

Apa yang kita sampaikan ini adalah fakta. Menurut Susan al-Abtah, pengamat Timur Tengah dan dosen di Universitas Lebanon, pada 1970-an, orang-orang Eropa banyak yang tidak tahu letak Palestina itu. Berbagai media -- aktu itu media cetak dan televisi-- lebih banyak menulis atau menyiarkan dokumentasi tentang penyiksaan Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa. Tak mengherankan bila kemudian mereka cenderung mendukung Zionis Israel.

Dengan gambaran seperti itu, AS dan Israel sebenarnya tidak sekuat yang kita bayangkan, hingga berani mengambil keputusan sepihak mengenai Yerusalem. Di tangan Presiden Trump, AS justru akan semakin terkucilkan dari pergaulan dunia.

Apalagi, sebelum keputusan tentang Yerusalem ini, AS telah keluar dari Kesepakatan Iklim Paris dan menarik diri dari keanggotaan perjanjian perdagangan Kemitraan Trans Pasifik (Trans Pacific Partnership/TPP). Trump juga telah menerapkan larangan masuk ke AS bagi sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang kemudian menuai berbagai kecaman.

Konflik Palestina-Israel sebenarnya adalah masalah politik. Namun, para pemimpin Israel kemudian membawa konflik ini ke dimensi agama, terutama ketika ingin merampas dan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota negara mereka. Mari kita simak pidato Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon saat sidang DK PBB pascakeputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Danon mengatakan,"Raja Daud yang mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota orang Yahudi sejak 3.000 tahun lalu dan, karena itu, akan tetap menjadi ibu kota Israel."

Dia menambahkan, Yerusalem disebutkan dalam Alkitab sebanyak 660 kali, "dan ingatlah orang-orang Yahudi saat lahir dan menikah, dan saat mereka berdoa tiga kali sehari…" Tidak hanya itu, Danon juga menunjukkan uang logam yang dia katakan ditemukan di Kota Suci dan tertulis kata Yerusalem dalam bahasa Ibrani. Ia mengklaim uang logam itu dibuat 67 tahun sebelum Masehi (SM).

Pada sidang yang sama, Duta Besar AS untuk PBB Neki Hailey menyatakan, orang-orang Yahudi sangat sabar karena mereka telah menunggu 3.000 tahun. AS, kata dia, tidak bisa bersabar untuk menunggu lebih lama lagi. Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama 70 tahun.

Amerika hanya mengakui kenyataan tersebut, yang ditolak oleh orang lain. Yang lebih buruk lagi, Hailey menggambarkan organisasi internasional tersebut memusuhi Israel dengan cara yang memalukan.

Pernyataan Danon dan Hailey tentu hanya klaim sepihak. Sebab, Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama. Umat Islam dan Kristiani tentu bisa membuktikan secara sah dan sahih bahwa Yerusalem merupakan kota suci mereka, baik secara historis maupun menurut kitab suci.

Bagi umat Islam, Yerusalem disebut sebagai al-Quds al-Syarif. Masjid al-Aqsa yang berada di kota itu merupakan kiblat pertama dan tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi.

Itulah sebabnya DK PBB beberapa kali mengeluarkan resolusi yang menganggap pembangunan permukiman Yahudi di Yerusalem dan wilayah-wilayah Palestina yang dijarah Israel sejak 1967 ilegal alias tidak sah. Bahkan UNESCO beberapa bulan lalu memutuskan,"pendudukan Israel atas Yerusalem sebagai tidak memiliki wewenang hukum".

Kini keputusan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah membangkitkan sebuah generasi dunia yang selama ini kurang peduli kepada Palestina. Mereka bangkit untuk melakukan aksi-aksi unjuk rasa melawan keputusan Presiden Trump dan Zionis Israel.

Mereka bangkit untuk membela bangsa Palestina yang selama ini terzalimi. Di antara mereka banyak yang tidak mengerti arti penderitaan atas sebuah penjajahan.

Namun, kini keputusan dari seorang Trump telah membangkitkan mereka untuk memahami sejarah dan peduli pada penderitaan bangsa lain. Tidak terbayangkan sebelumnya, sebuah pidato singkat telah bisa mempersatukan bangsa-banga di dunia untuk melakukan demonstrasi besar-besaran dari Jakarka, Kuala Lumpur, hingga Washington dan kota-kota besar lainnya di lima benua.

Karena itu, keputusan Trump untuk melawan dunia sungguh keberanian yang tiada tara, yang tidak dimiliki oleh seorang pemimpin dunia mana pun sejak puluhan tahun lalu. Setiap Presiden AS bahkan harus menunda ‘bom waktu Yerusalem’ hingga tercapai perjanjian damai Palestina-Israel, khawatir bom itu meledak dan mengenai wajah mereka, kecuali Presiden Trump.

Ya, si Trump yang oleh sebab-sebab tidak jelas mengambil keputusan gila. Keputusan yang akan mengucilkan AS dari kehendak dunia. Kita harus terus melawan keputusan Trump hingga bangsa Palestina memperoleh kemerdekaan dengan ibu kotanya, al-Quds (Yerusalem Timur).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Surga Dunia Raja Ampat

Ahad , 19 August 2018, 07:00 WIB