Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Cara Sadiq Khan dan Warga London Menangkis Islamofobia

Senin 16 May 2016 06:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

Oleh : Ikhwanul Kiram Mashuri

REPUBLIKA.CO.ID, Sadiq Khan yang terpilih sebagai wali kota Muslim pertama di London masih terus menjadi perbincangan. Berbagai hal dikupas. Dari kehidupan sehari-harinya, pernyataannya, hingga analisis mengenai keberhasilannya mengalahkan saingannya, Zac Goldsmith.

Nama yang terakhir itu bukan sembarang orang. Ia adalah putra konglomerat Inggris, Sir James Goldsmith. Ia juga calon wali kota yang dijagokan oleh partai yang sedang berkuasa, Konservatif. Sedangkan, Khan dari partai oposisi, Partai Buruh. Ia Muslim. Anak imigran Pakistan. Tinggal di rusun dengan tujuh bersaudara. Ayahnya sopir bus. Ibunya mengurus rumah sambil menjahitkan pakaian tetangga.

Kemenangannya pun telak. Sebanyak 56,8 persen suara untuk Khan. Goldsmith hanya memperoleh 43,2 persen. Kemenangan Khan ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam sejarah politik Inggris dalam hal pemilihan individu untuk sebuah jabatan publik.

Lalu, apa rahasia dari kemenangan Khan? Di Inggris, warga Muslim hanyalah minoritas. Menurut data terbaru, sebanyak 12,4 persen penduduk Inggris beragama Islam, 48,4 persen Kristen, 1,8 persen Yahudi, dan 20,7 persen ateis.

Sejumlah media menyebut kemenangan Khan, antara lain, ditentukan oleh bagaimana ia dan pendukungnya 'mengalahkan' apa yang namanya Islamofobia. Yaitu, kebencian kepada Islam dan komunitas Muslim yang dalam beberapa tahun terakhir ini jumlahnya di Eropa, termasuk di Inggris, meningkat tajam. Ya, Islamofobia inilah yang juga dijadikan senjata kampanye oleh lawan politiknya.

Namun, berbeda dengan Khan, Goldsmith dan partai pengusungnya (Partai Konservatif) justru mengeksplorasi ketakutan terhadap Islam dan umat Islam untuk meraih suara mayoritas masyarakat Inggris. ''Mereka mencontoh pola (kampanye negatif) ini dari Trump,'' tulis media Inggris, The Observer.

Trump yang dimaksud adalah Donald Trump, calon Presiden AS. Selama kampanye pendahuluan, ia sering menyampaikan berbagai penyataan negatif tentang Islam dan umat Islam. Bahkan, ia berjanji, bila terpilih menjadi presiden, ia akan melarang umat Islam masuk ke Amerika. Dengan kampanyenya yang kontroversial itu, sejauh ini Trump telah berhasil mengalahkan calon-calon lain dari Partai Republik untuk pemilihan presiden AS yang akan datang.

Kampanye model Trump ini yang tampaknya dicoba untuk diikuti oleh Zac Goldsmith. Juga oleh sang PM, David Cameron. Goldsmith menuduh Khan terkait dengan gerakan radikal Islam. Sementara, Cameron pernah mempertanyakan pertimbangan Khan untuk hadir dalam sebuah acara yang sama dengan pria yang disebut mendukung gerakan radikal. Yaitu, kelompok yang menyebut sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS. Pria yang disebut Cameron itu tidak lain adalah Suliman Gani.

''Saya khawatir tentang calon dari (Partai) Buruh yang muncul lagi, lagi, dan lagi (dalam acara yang sama dengan Suliman Gani di daerah pemilihannya, Tooting),'' ujar Cameron sebagaimana dikutip BBC News.

Tuduhan mendukung kelompok Islam garis keras dan teroris ini tentu saja dibantah keras oleh Partai Buruh. Juga oleh Sadiq Khan. Partai Buruh menyebutnya sebagai hal yang sangat memalukan. Sedangkan, Khan menuduh pernyataan sang PM bersifat 'memecah belah'. Ia pun menegaskan radikalisme adalah kanker di masyarakat.

Islamofobia di kalangan masyarakat London sebenarnya adalah nyata. Sayangnya, fakta ini kemudian dimanfaatkan oleh Goldsmith dan Partai Konservatif untuk kampanye negatif melawan saingan politik mereka. Islamofobia selalu meningkat setiap kali terjadi serangan bom di beberapa kota di Eropa.

Pada November tahun lalu, misalnya, jumlah anti-Islam langsung meningkat tajam begitu terjadi rentetan serangan di Paris. Serangan ini diklaim dilakukan oleh pendukung ISIS. Kajian Komisi HAM Islam yang diterbitkan pada November lalu memperlihatkan enam dari 10 warga Muslim di Inggris menyaksikan diskriminasi terhadap anggota komunitas Muslim.

Sedangkan, Measuring Anti-Muslim Attacks (Tell MAMA) menyebut serangan kebencian terhadap orang-orang Islam itu meningkat hingga 300 persen. Tell MAMA adalah sebuah organisasi nonpemerintah yang mengadvokasi korban-korban serangan dari orang-orang anti-Islam.

Menurut Tell MAMA, sebagian besar korban kasus ancaman atau makian kebencian (hate crime) dari orang-orang yang anti-Islam di Inggris adalah perempuan. Tepatnya, mereka yang sedang mengenakan jilbab atau identitas sebagai Muslim atau Muslimah yang berada di tempat-tempat umum atau transportasi umum, seperti bus dan kereta. ''Di hampir semua insiden yang kami catat, pelaku biasanya menyebut korban sebagai teroris," kata Iman Abou Atta, wakil direktur Tell MAMA, seperti dikutip BBC.

Tell MAMA mencatat, serangan terhadap anggota komunitas Muslim di Inggris selalu naik setiap kali terjadi peristiwa yang dikaitkan dengan Muslim dan Islam. Misalnya, saat terjadi pembunuhan tentara Inggris, Lee Rigby, di London pada 2013, serangan terhadap majalah Charlie Hebdo di Paris pada awal 2015, rentatan serangan di Paris pada November tahun yang sama, serangan terhadap bandara di Belgia beberapa waktu lalu, dan seterusnya.

Berbagai upaya untuk menangkal persepsi negatif terhadap Islam dan komunitas Muslim pun dilakukan oleh berbagai pihak. Selain oleh Komisi HAM Islam dan Tell MAMA, juga disuarakan oleh sejumlah media dan politikus, termasuk oleh Sadiq Khan sendiri. Yang terbaru adalah dilakukan oleh Dewan Muslim Inggris, MCB. Badan yang memayungi organisasi-organisasi Islam di Inggris ini, antara lain, menyelenggerakan program Visit My Mosque Day.

Program ini telah diselenggarakan dua kali. Tahun ini diikuti oleh lebih dari 90 masjid di kota-kota besar di Inggris. Termasuk, di London, Birmingham, Manchester, Leeds, Glasgow, Cardiff, dan Belfast. Inti dari program yang disiarkan secara luas oleh media di Inggris ini adalah masjid-masjid di Inggris sengaja membuka pintu seluas-luasnya bagi warga non-Muslim. Tujuannya untuk menunjukkan apa yang mereka sebut kesatuan dalam saat-saat tegang bagi komunitas dan untuk menjawab secara langsung persepsi negatif tentang Muslim dan Islam.

Dalam program itu, para pengunjung bisa menyaksikan langsung interior masjid, melihat orang-orang Islam berwudhu, menjalankan shalat, dan seterusnya. Berbagai diskusi juga digelar secara terbuka. Seperti dikutip media Arab yang terbit di London, al Sharq al Awsat, pertanyaan pengunjung ternyata macam-macam. Dari soal jenggot, jilbab, perbedaan Suni-Syiah, hingga pertanyaan apakah Islam itu agama teroris. Juga apakah Alqaidah dan ISIS itu bagian dari Islam dan seterusnya. Intinya, telah terjadi interaksi secara positif antara para pengurus masjid dan para pengunjung.

Tidak jelas apa hubungan antara program Visit My Mosque Day ini dan pemilihan wali kota London? Tentu bukan suatu kebetulan bila masa kampanye pemilu wali kota London-- yang kemudian dimenangkan oleh Sadiq Khan-- hampir bertepatan dengan hari-hari diselenggarakannya Visit My Mosque Day.

Yang pasti, seperti disampaikan Khan, para warga London telah memutuskan untuk memilih harapan di atas ketakutan dan memilih persatuan di atas perpecahan. Sehingga, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Hal itu ia sampaikan ketika beramah-tamah dengan para pegawai di Balai Kota London pada hari pertama masuk kerja sebagai wali kota. Dalam kesempatan itu, Khan juga mengulang kritiknya terhadap Donald Trump yang berencana melarang Muslim menginjakkan kaki di AS. ''Trump tidak memahami Islam dan justru terjebak ke dalam tangan para ekstremis.'' 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA